… sambungan Sahabat Berani Mati
Persahabatanku dengan May dan Vin bukan untuk berbagi hal-hal yang menyenangkan saja. Vin berpacaran dengan Simon sejak lulus kuliah. Simon, anak pengusaha kayu lapis di daerah Jawa Timur. Hubungan cinta Vin dan Simon membuat aku dan May merumuskan satu hal yang sampai saat ini masih kami yakini :
Seorang anak yang datang dari keluarga kaya, SUDAH SEPANTASNYA memiliki pasangan seorang anak keluarga kaya juga, lalu mereka menikah dan berketurunan untuk meneruskan jaringan bisnis mereka. In my words, ada beberapa spesies manusia dalam dunia ini. Aku menyadari sebagai SOLITAIRE SPECIES, May sebagai SURVIVOR SPECIES, dan Vin sebagai LUCKY SPECIES. Simon berasal dari spesies yang sama dengan Vin. Mereka sudah selayaknya menikah dan menelorkan spesies-spesies keturunan untuk memperluas komunitas spesies mereka.
Perbedaan spesies ini bukan berarti kami tak dapat hidup berdampingan. Buktinya, ketika Vin jatuh dalam narkoba, spesies survivor dan solitaire seperti aku dan May ada buat dia. Waktu keluarganya sudah putus asa dan menyerahkan Vin pada panti rehabilitasi, kami sangat tahu bukan itu yang diingankan Vin, akhirnya toh ada May dan Ren yang mendampingi Vin selama masa perawatannya di rumah. Hal ini terjadi pada waktu pertama kalinya Simon berselingkuh dari Vin. Jadi, ketika ternyata kami menyadari bahwa SELINGKUH adalah salah satu ‘kebutuhan’ Simon, aku dan May cukup kawatir juga bila bencana itu datang lagi. Tapi ternyata, tanpa kami sadari, Vin sangat menghargai persahabatan kami bertiga, jadi Vin belajar pada spesies survivor seperti May untuk tetap bertahan tidak tergelincir ke dunia narkoba untuk kedua kalinya.
Dari May aku belajar tentang definisi kecantikan. Diantara kami bertiga, Vin yang paling cantik (aku yakin mood Tuhan pasti lagi bagus-bagusnya waktu nyiptain Vin – she’s drop dead beautiful !). Dan May yang paling ‘jelek’. Proporsi tubuh May yang 155 – 42 membuatnya terlihat mungil diantara aku yang 165 – 48 dan Vin yang 171 – 55. Wajah May pun biasa-biasa saja. Kecantikan May muncul karena kepercayaan dirinya yang luar biasa. Dengan tubuh mungilnya, May betul-betul menjadi magnet dimana-mana. Kemampuan diplomasinya, semangat juangnya, dan pembawaan diri yang sangat wibawa menjadikan May seseorang yang bukan biasa.
Sebenarnya, kalau boleh minder (boleh nggak siy?!), akulah yang paling biasa diantara trio kami. Aku bukanlah apa-apa dibandingkan May dengan kekuatan kepercayaan dirinya dan Vin dengan kecantikan given-nya. Wajahku tak bisa dibilang jelek, tapi juga nggak cantik-cantik banget. Kata May dan Vin, aku punya mata yang indah. Besar dan bulat, sayang agak tersamar karena kacamata minus-2-ku (dan nggak tertolong dengan soft-lens karena aku alergi dengan lensa). Aku punya tulang pipi yang bagus, kokoh tapi memancarkan kesan eksotis (yang kadang malah bikin aku ngerasa kayak laki-laki). Bibirku sempurna. Aku juga punya rambut yang hitam dan lebat. Dua hal yang membuatku tidak pede adalah jidat jenongku (yang membuat Djati bahagia memanggilku dengan panggilan sayangnya : NONG !) dan gigi tak rataku (dulu Djati punya panggilan sayang kedua setelah NONG : GITARA – singkatan dari GIgi TAk RAta.) Kini aku bisa memperbaiki gitaraku dengan treatment kawat gigi, tapi kan tidak bisa memperbaiki kondisi jenongku (memangnya mau operasi perampingan jidat jenong? Please deh … )
… … … bersambung … … …
