Secangkir Teh Kayu Manis dan Kamu

by lusia on January 27, 2010

tehPagi. Begitu dingin dan angin mengusik anak rambut yang menggelitik pipi. Sudah pagi. Dan aku tak menemukanmu disisi. Masih seperti kemarin, tanpa kamu dan tetap terasa sepi. Aku sendiri.

Aku membuka jendela yang segera menyajikan hamparan sawah menyapa pagiku yang tenang. Pikiranku menari-nari mengingat pagi itu masih ada kamu terlelap tidur di sandingku di nyamannya lembut ranjang. Hatiku menerawang. Terbang.

Pagi ini berbeda dari pagi-pagi sebelum pagi ini. Aku melayang.

Sering aku bertanya, apa arti cinta? Aku tak lagi bisa mengenali rasa jatuh cinta. Padamu telah aku serahkan hati ini sepenuhnya. Aku tahu aku salah memberikan semuanya. Separuh hati pun kini aku tak punya. Aku tak tahu kamu akan pergi dan menyisakanku dengan jiwa yang hampa.

Pagi ini berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Aku tertawa.

Baby, itu dulu kamu sering memanggilku.

Hunny, aku menjawab panggilanmu.

Norak yah. Biarlah.

JUMBO-TEACUPCinta memang kadang norak. Toh dia kadang nggak tau diri datang pada hati yang tak semestinya dihinggapi. Cinta yang sering tumbuh pada ladang yang tak dapat dituai sesuai harapan. Seperti aku dan kamu, hingga saat ini.

Dulu kita nampak seperti tak peduli. Membiarkan rasa ini tumbuh meski kita mesti mencuri dari sang waktu untuk bertemu. Lalu kita sadar bahwa waktu tetaplah menjadi sang pemenang dan mengalahkan hati kita. Lalu kamu pergi, membawa segenap hati yang kutitipkan padamu. Tak kau kembalikan lagi. Sementara aku disini, dengan keheningan yang serasa menyesak, kadang.

Tapi pagi ini, berbeda dari pagi sebelum pagi ini.

Aku berdiri di tepi jendela. Menggenggam secangkir teh kayumanis.  Menatap hamparan sawah yang menguning. Sepoi angin yang menggelitik pipi. Pagi yang dingin tapi aku merasakan kehangatan. Karena kamu hadir kembali. Walau hanya seperti sepoi angin yang membisik menelisik sepiku. Kamu membuatku bahagia. Dengan kehadiranmu yang sunyi. Akankah kamu kembalikan sekeping hati yang kutitipkan padamu?

Pagi ini aku menggenggam secangkir teh kayumanis yang selalu berhasil mengembalikan rasa sedihku menjadi senyum cerah. Seperti aku menggenggam hati yang telah kau berikan kembali menjadi milikku, dan masih menjadi milikmu. Milik kita.

Terima kasih, telah kembali hadir, walau sebagai kamu yang berbeda.

Masih tetap ada yang sama disini, perasaanku.

Aku masih mencintaimu.

3tea

***silahkan menikmati secangkir teh kayu manis di sini.

Leave a Comment

Previous post: Aku Tak Bisa

Next post: Duniaku Sunyi