Sahabat Berani Mati

by lusia on March 1, 2010

… sambungan Does Beauty Still Rule ?

Vincentia Machri a.k.a Vin.

Mayang Kustanti a.k.a May.

Ken Djati Maulana Nugroho a.k.a Djati a.k.a Djay a.k.a Jay.

4Aku sudah bersahabat dengan ketiganya sejak SMA. Vin dan Djati berasal dari keluarga yang kaya, sangat sangat sangat kaya, untuk ukuran Jogja. Selama sekolah, Djati tinggal di Jogja, sementara kedua orang tuanya tinggal di Jakarta. Setelah lulus SMA, Djati kuliah dan bekerja di Jakarta, malah orang tuanya tinggal di Jogja menikmati masa tuanya. Mama Djati memberikan gen dominan untuk Djati. Wajah lembutnya, sifat baiknya, termasuk penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Bengek. Tapi karena sakitnya itulah Djati ketemu jodohnya. Siska, si perawat seksi yang menjadi perawat tetap keluarga Djati.

Vin anak tunggal pemilik jaringan bisnis kue, supermarket dan elektronik yang terkenal di Jogja.  Vin yang tertua diantara kami dan menganggap kami adalah adik-adiknya. Di rumah Vin hanya dengan beberapa pembantu, dan seekor Retriever betinanya dengan nama SIMON (waktu Retriever cakep itu jadi bagian hidup Vin, Simon masih jadi cowok incaran Vin, belum berstatus pacar. Itu alasan Vin memberi nama SIMON – even it’s female).

Aku dan Mayang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Kedua orang tua Mayang guru SMP yang meninggal dini karena sakit ketika Mayang dan Markus, satu-satunya adik laki-lakinya, masih kecil. Dengan berbekal uang pensiun orang tua, Mayang yang jago musik membuka les piano dirumahnya. Mayang juga menambah penghasilan dengan menjadi wedding singer sejak SMA. Dimataku, Mayang mematahkan pendapat bahwa tidak semua orang hidup enak (mengingat dua sahabatku begitu beruntung lahir sebagai manusia dengan penampilan fisik cantik / ganteng dan keluarga kaya raya). Mayang adalah sahabat sekaligus role modelku untuk survive menghadapi hidup.*)

Keluargaku juga biasa-biasa saja. Widjaya Jatmika, ayahku, meninggal waktu aku berusia delapan tahun, meninggalkan ibu, aku, dan mbak Femmy, satu-satunya kakak perempuanku. Setahun kemudian ibu menikah lagi dengan Om Sus, seorang duda cerai mati dengan satu anak. Mas Restu lebih tua satu tahun dari Mbak Femmy, sementara selisih usia aku dengan Mbak Femmy cukup banyak, delapan tahun.

Usia yang sangat dini membuatku sulit menerima kenyataan antara – kepergian ayah – pernikahan ibu – keluarga baru. Perubahan ini membuatku berkembang menjadi pribadi yang pemurung, penyendiri, dan sulit dimengerti. Kalau dalam teori disebutkan, manusia adalah makhluk sosial, maka aku berkembang menjadi seorang makhluk sosial yang solitaire.

Pribadi solitaire-ku cukup merepotkan ibu. Hanya aku satu-satunya anak yang tetap memanggil ibu dengan panggilan IBU, bukan mama, dan memanggil ayah baruku, Om Sus, bukan papa. Perselisihan ini berlangsung terus sampai aku lulus kuliah. Selama itu berganti-ganti anggota keluarga menjadi penjinak seorang Ren Solitaire. Kalau lagi beda pendapat sama Ibu, Mbak Femmy dan Mas Restu penengahnya. Kalau lagi ngambek sama Om Sus, Ibu yang merengkuh. Kalau lagi ngiri sama Mbak Femmy dan Mas Restu (seringnya sih iri sama Mbak Femmy karena kami sama-sama cewek), Ibu juga yang jadi pendamai. Sebenarnya aku tak pernah memusuhi Om Sus, tapi dimataku, sejak kecil dan terbentuk hingga aku dewasa, bahwa Om Sus perebut hati Ibu dari Ayah. Jadi, aku tak pernah berusaha dekat dengan Om Sus.

Dibalik itu semua, sebenarnya aku sangat menyayangi keluargaku. Aku hanya rindu pada ayah. Kebutuhan akan kehadiran dan kasih sayang ayah yang kurasakan masih sangat kurang (walaupun sebenarnya Om Sus juga sangat menyayangi aku). Namun tindakan penolakanku tidak aku lakukan dengan sikap destruktif. Catat : aku hanya tidak bisa menerima sikap ibu yang menikah dalam jarak waktu HANYA satu tahun setelah kepergian ayah (yang walaupun pada akhirnya aku bisa memahami bahwa memang dalam hidupnya ibu masih membutuhkan seorang laki-laki untuk sosok ayah bagi anak-anaknya, dan pendamping hidup pemimpin keluarganya. Dan well, sayangnya, Om Sus sosok ayah dan suami yang baik, sehingga aku tak punya denial yang tepat untuk memusuhi Om Sus).

Aku tetap tumbuh sebagai anak yang berprestasi. Anehnya, aku mendedikasikan prestasi-prestasi hidupku untuk ayah. Buatku, ayah masih selalu nyata dalam hidupku. Dari sejak SD sampai SMA aku selalu masuk tiga besar. Kuliahpun aku diterima di PTN terkenal dan lulus dini karena prestasi. Jadi, in my defense, sebagai seorang anak, aku cukup membanggakan, bukan? Walaupun aku tumbuh menjadi anak yang sulit dimengerti, penyendiri, dan satu kata yang tepat adalah : SOLITAIRE.

Selesai kuliah, aku bekerja di Pinastika Corporation (PinCorp) yang bergerak di bidang finance. Satu tahun bekerja, aku mengambil kredit rumah. Sebuah keputusan yang cukup kontroversial dan menjadi pertentangan keluargaku. Lagi-lagi, Mbak Femmy dan Mas Restu berada di belakangku untuk mendukung keputusanku. Waktu itu Mas Restu sudah menikah dan punya anak satu, tinggal di Kalasan, Jogja. Mbak Femmy menikah, belum punya anak, tinggal di Indraprasta, Semarang. Yang menjadi pertentangan adalah, aku masih single, tidak punya pacar, dan membeli rumah di daerah Karangwuni, Jogja.

Ibu dan Om Sus menyayangkan keputusanku membeli rumah padahal masih ada orang tua yang tinggal di Jogja, di kota yang sama dengan tempat aku tinggal saat ini. Sementara, Mbak Femmy dan Mas Restu memahami ‘keanehan’ku selama ini. Jadi, kekuatan cukup sebanding, dua lawan dua. Akhirnya, atas nama cinta, ibu dan Om Sus memberiku ijin untuk tinggal di Karangwuni. In my defense, nothing to lose, semua biaya hidup toh menjadi tanggunganku pribadi, sekaligus aku belajar mandiri untuk mengatur finansial hidupku. Dari semua alasanku memilih hidup sendiri hanyalah satu : aku ingin menikmati dan menjalani menjadi seorang Ren, pribadi yang solitaire. (Dari hidup sendiri ini pula akhirnya aku menyadari bahwa ternyata ada banyak spesies-spesies manusia yang belum pernah terdefinisi sebelumnya – yang akan kuceritakan nanti.)

Dirumah inipun aku tak pernah sendiri. Yang tadinya tempat nongkrong resmi adalah kamar Vin, sekarang berpindah ke rumah mungilku. May dan Vin sering datang kerumah. Kadang nginap di sini, terutama malam minggu. Vin bekerja sebagai team marketing sebuah bank swasta (sebenarnya dengan kondisi keuangan yang demikian, Vin tak perlu bekerja – jadi Vin bekerja hanya untuk kesibukan saja). May yang masih membuka les piano, dan wedding singer, membuka warung makan bersama Markus, adiknya. Aku, yang sejak tinggal di Karangwuni senang bereksperimen dengan menu-menu baru, menjadi teman diskusi yang asyik dengan Mayang untuk memperkaya menu di warung miliknya.

… … … bersambung … … …

empat sahabat

Leave a Comment

Previous post: Does Beauty Still Rule ?

Next post: Species Manusia – which one are you ?