Cinta harus dicari. Cinta tak datang sendiri. Kita harus peka kapan cinta datang, dan meraihnya. Memang, untuk menikah tak cukup hanya bermodal cinta saja. Cinta adalah kendaraan hidup baru bersama seseorang. Selamanya. Sampai nanti, sampai mati. Sampai maut memisahkan. Menikah. Bukan “hanya” karena perut kadung berisi janin. Atau karena usia merambat menaiki tangga kata bernama : TUA! Atau sekedar sensasi tanggal bagus untuk menikah. Hari baik. Tanggal baik. Well, uhm … bukankah semua hari Tuhan yang cipta baik?
Aku akan menikah, saat aku telah menemukan cinta. Dan aku akan mencari cinta …
Turrruuut. Turrrruuuurrrruuuurut.
Dering telepon rumah.
Nomor Jakarta. Jakarta ? Hmm …
“Malam.”
“Lagi apa, Nong?”
“H..i..i..iiii… D…E..A..A..A..A…R..!!!”
“Duh! Pekak! Biasa aja lagi.”
Aku terkekeh.
“Lagi nerima telepon dari Djati,” manjaku.
“Jayus.”
“Iya, Djati. Djay. Jijay. Jay. Jayuz.”
Jeda tawa.
“How’s life?”
“Uhm, so-so.”
“Pakabar Rangga?”
“Uhm, yaaah … so-so juga .”
“Raka?”
“Udah nggak pernah kontak.”
“Duh, kenapa siy cowok lo tu musti berawalan ‘R’?”
Aku terkekeh. “Kata mbah dukun musti gitu.”
Djati terkekeh.
“Atau karena namaku berawalan huruf R juga. Renata,” kataku jayus nggak penting. Ngobrol sama Djati selalu membuatku tertular jayusnya. Hehehee.
“Pakabarmu? Sehat kan, Jay?”
“Oh, yah ! Tumben ya?”
Jeda tawa.
“Nong, gue ada kabar baru.”
“Ya?”
“Gue mau nikah.”
“AAAAAH, TIIIDDDDAAAAAAKKKKK!”
“Loh, loh, kok, respon lo gitu? Ih, jahat banget!”
“Hehehe, sorry, spontan.”
“Jahat banget. Lo tu orang pertama diluar keluarga yang tahu tentang rencana besar ini. Dan lo memberi respon : T – I – D – A – K ? Please deh! Bukannya bahagia.”
Aku tergelak.
“Ya BAHAGIA dong, Jijay Sayang. Tapi aku pasti kehilangan kamu. Secara, lo kan cowok sok single sok available yang rela didaulat jadi pasangan di saat-saat genting,” tambahku meyakinkan dan terdengar tawa kecil Djati. “Congratz yah. Kapan?”
“Awal tahun. Maret. Bulan ultah kami berdua. Biar spesial.”
Uff, too soon. Seingatku, Djati baru pacaran sekitar dua tiga bulanan ini.
“Sama perawat rumah sakit itu ya?”
Djati diam. Mungkin mengangguk, ah ya pasti mengangguk, Djati kan jayus banget. Dia ngangguk di telepon dan aku nggak tahu. Tapi aku tahu, Djati mengiyakan.
“Kamu udah mantap, atau nekat? Secara lo berkali-kali pacaran sampai bertahun-tahun kagak pernah jadi,” aku terkekeh. “Atau lo takut keburu gagal lagi,” sekilas aku menyadari terlalu rese, lalu menambahkan, “Yang penting lo bahagia ya, Say.”
Terdengar suara renyah tawa Djati.
“Kamu mencintai dia kan? Uhm, mengingat usia pacaran kalian …”
“Uhm … oke, kamu boleh tau. Jujur, Siska positif. Aku dan Siska sepakat untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan. Kalau kamu tanya cinta, entahlah, Nong, aku nggak bisa menjawab. Kuharap kamu bisa ngerti. Well, ini Jakarta, usiaku belum genap dua lima. Masih banyak yang ingin diraih. But, no way to turn back, Nong. Aku percaya, suatu saat nanti aku akan mencintai dia.”
Uff, see … Djati. Sahabat berani matiku. Sejak kecil kami tumbuh bersama. Bahkan kedua orang tua kami pernah mau menjodohkan kami. Tapi justru saking dekatnya kami jadi seperti kakak adik. Dan nggak enak rasanya pacaran sama adik sendiri (aku lebih tua tujuh bulan dari Djati J).
Tiiitiiiit.
Sms masuk.
R, kbr bhgia. Vin merid akhir Jan. Q nysul Mei.Lo?
Sender : May Saberma.
Reply.
WOW! Yeah, hppy 4 u both. Q ? After u !
Write message.
Kok g da kbr k Q ttg akh Jan?
Send to : Vin Saberma.
Tiiitiiiit.
Sms masuk.
Hehe. Doakan lancar ya! May nyusul Mei.
Hari baiknya jatuh bulan Mei pas bday. Kamu?
Sender : Vin Saberma.
AAAAAAAAARRRRRRGGGGHHHHH !!!!!!!!!!!!!
Kenapa tiba-tiba berlomba-lomba merid siiiiy? Pas hari ultah lagi. Vin, 31 Januari. May, 04 Mei. Djati, 10 Maret. Siska, 15 Maret. Hmm, Si Jijay jelek itu belum kasih tahu tanggal nikahannya siy. Ah, nggak penting. Catat dulu ah, Januari – Maret – Mei : pernikahan SABERMA : SAHABAT BERANEE MATEE ku! Lagian, kenapa juga aku tahu ultah Siska ya? Gara-gara Djati pernah bilang ultah mereka deketan. Selisih lima hari. Jadi bisa tanggal 5 atau 10 Maret. Tapi kayaknya sepuluh deh. Duh, aku memang gampang banget nginget nomor. Seperti ada reminder yang terekam di otak entah bagian sebelah mana. Miss Numberfreak*), kata Mayang. Segala sesuatu aku ingat dengan angka. Nomor kendaraan. Nomor rumah. Nomor telpon. HP. Tanggal lahir. Ukuran BH. Ukuran itu … (ukuran sepatu, ukuran baju, dll gitu maksudnya, jangan pikir yang iya iya dong!!!)
Well, lumayan beralasan siy kalau tiba-tiba saja aku terserang married-paranoid-syndrome mengingat saat ini aku tak punya pacar tetap. Ada beberapa yang singgah di hati tapi belum juga jadi penghuni tetap. Aku percaya cinta harus dicari. Cinta tak datang sendiri. Kita harus peka kapan cinta datang, dan meraihnya. Memang, untuk menikah tak cukup hanya bermodal cinta saja. Cinta adalah kendaraan hidup baru bersama seseorang. Selamanya. Sampai nanti, sampai mati. Sampai maut memisahkan. Menikah. Bukan “hanya” karena perut kadung berisi janin. Atau karena usia merambat menaiki tangga kata bernama : TUA! Atau sekedar sensasi tanggal bagus untuk menikah. Hari baik. Tanggal baik. Well, uhm … bukankah semua hari Tuhan yang cipta? Dan Tuhan selalu menciptakan yang baik bagi umat yang mencintai-Nya! Aku akan menikah, saat aku telah menemukan cinta. Dan aku akan mencari cinta …
Ngomong-ngomong soal merid, aku jadi ingat kalimat Ibu kemarin lusa.
“Kamu kapan kawinnya to, Nak? Nunggu apa lagi? Mbakmu, Masmu sudah. Rangga juga sudah siap. Tahun depan?”
– Ah !
“Nggak usah kelamaan, nanti keburu tua. Ibu dulu umur duadua punya anak. Masih bisa lihat kamu tumbuh dewasa.”
Aku belum (ngerasa) tua kok, Ibu. Lagian aku baru dua lima.
BARU???
Iya. Baru dua lima. Kalau klik klok jam biologis memanggil, aku masih punya waktu 5tahun untuk mencari cinta yang tepat. Dan lima tahun pasti waktu yang lebih dari cukup untuk mendapatkannya. Masak siy aku nggak ngedapetin? Aku kan nggak jelek-jelek banget walau juga nggak secantik Vin. Juga nggak bego-bego amat walau nggak secerdas May. Juga nggak serapuh Djati yang sering sakit-sakitan. Intinya, aku dalam kondisi prima untuk mencari cinta … apalagi dengan tenggat waktu 5 tahun. Aku PD seribu milyar persen pasti berhasil.
Sekarang kamu belum mikir. Ntar dua sembilan, kayak aku. UP deh. Usia Panik.
Aku terngiang kalimat Vin.
Ooooo, jadi Vin buru-buru nikah akhir Januari karena usianya pas 30!
Hehe. Bentar lagi lo 30 ya!
Masih empat – lima tahun lagi, Ard.
Kan udah pengen nikah? tambahnya lagi.
Pengen? Ya pengenlah!
Udah siap kan? Kalau udah punya pacar pasti entar langsung nikah, deh …
Nggak juga. Siap? Aku udah siap, tapi nggak buru-buru. Jelas ada bedanya.
Aku belum siap. (Ardian merenung).
Lagian, siapa yang nanya kamu? Siapa yang ngejak lo kawin? (batinku!)
Teringat percakapan – nggak penting – ku – sama Ardian, the hotest hunk must grab. Mengapa cinta kembali dipertanyakan? Bukan semata siap tidak siap. Aku hanya belum menemukan belahan jiwaku. Yang menyimpan separuh cintaku dihatinya, dan separuh hatinya dalamku. Yang suatu saat nanti akan datang membawa separuh hatiku dan mengambil separuh hatinya, untuk kami persatukan atas nama CINTA. Jadi aku tak terburu menikah, sampai aku menemukan cintaku.
Uff, ngomong apa siiiiy ??? !!! ??? !!!
Lagian, well, aku baru dua lima. Tahun depan dua enam.
BARU???
Hehe, masih empat – lima tahun lagi, sebelum tiga puluh.
30 !
Usia yang ditakutkan para wanita yang belum menikah.
Aku?
TIDAK TAKUUUUT!!!
– sambil kelima jari tangan membentang di depan wajah –
– iklan sabun kesehatan –
Memangnya, kenapa dengan 30?
Quarter life crisis?
Bukan gue banget deh !!!
… … … bersambung … … …

{ 2 comments… read them below or add one }
lanjooooooooooooooooott……
>> jilena : ditunggu lanjotannya !!!