Raka, Api Cintaku !

by lusia on February 22, 2010

… … … sambungan Renata Mencari Cinta.

I think LOVE is a fire

and i’m burning up in a flame

loveAku mencari cinta. Dan aku menemukannya. Namanya Raka. Raka adalah pria pertama yang kujatuhi cinta. Bukan pacar, karena aku dan Raka nggak pernah pacaran. Bukan juga cinta pertama. Memangnya kamu tahu kapan jatuh  cinta pertama kali? Undefine. Nggak jelas batasnya kapan cuma sekedar naksir, atau bener-bener cinta. Dan, biasanya niy, menurut survey ke beberapa teman, cinta pertama jarang-jarang ada yang sukses. Kebanyakan berbuntut patah hati, entah karena usia yang sangat dini, atau, ya karena definisi dan batas yang enggak jelas tadi antara suka dan cinta.

Raka memang bukan cinta pertamaku, tapi aku merasakan benar-benar cinta ya sama dia. He’s my fire. And I’m burning up in a flame. Pertemuan pertamaku dengan Raka tanggal 20 Januari 2001. Bukan hanya karena angkanya bagus “20012001” aku selalu ingat kapan pertama kali aku kenal sama Raka, tapi karena menyangkut soal ANGKA, aku punya ingatan yang super duper kuat.

Miss Numberfreak, remember?

Aku masih ingat hampir semua nomor absen teman-temanku (mengingat jaman sekolah dulu, absen dilakukan sekretaris kelas dengan memberi titik titik tanda hadir di daftar nama murid – dan hampir sembilan tahun sekolah wajib, aku selalu menjadi sekretaris kelas). Aku ingat plat nomor kendaraan orang-orang terdekatku. Aku hampir nggak pernah lupa tanggal ultah teman-teman (termasuk Siska, calon istri Djati Jijay Jayus, yang nggak terlalu aku kenal). Kalaupun lupa, biasanya aku ngerasa, uhm … hari ini tanggal sekian bulan ini, uhm … ultah siapa yaa …

Kembali ke Raka.

Tanggal 20012001 pertama kali aku clubbing. Kenal dunia malam. Diajakin temen-temen kantor setelah seminggu penuh berkutat dengan pemeriksaan audit yang melelahkan. Reaksi pertama ketika melihat Raka menyanyi di panggung adalah :

FREEZED !!!

Entah karena suasana asing yang baru pertama aku kenal. Entah karena bisingnya hingar bingar musik cafe. Yang pasti, aku melihat ada cahaya berpendar-pendar menyilaukan yang menyelingkupi tubuh Raka dan membuatku terpukau.

Ketika teman-teman mulai bergoyang dan turun ke floor (uhm well, dan beberapa gelas alkohol yang menemani – tapi aku tak menyentuhnya. Sayangnya, di Diamond Cafe agak aneh memesan secangkir teh panas, dan aku memilih tidak menjadi aneh di tempat asing, jadi untuk amannya aku memilih coke sebagai gantinya). Aku duduk saja dikursi dekat bar desk sambil menatap Raka dengan takjub. Uhm, well … aku belum tahu namanya, tapi aku pengen, … pengen, … pengen banget tahu lebih tentang vokalis band keren ini.

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tuhan emang sayang banget sama seorang Renata. Jeda break pertama, homeband turun panggung diganti musik DJ yang berisik (menurutku siy ). Aku ke rest room. Disanalah aku ketemu Raka. Aku yang menyapanya dulu.

“Hi,” sapaku sok akrab dengan senyum pepsodent selebar jalan protokol. Dadaku berdebar. Seperti ada sinyal yang mengingatkan bahwa pencarian cintaku bisa berhenti di sini. Aku sudah menemukannya.

Menemukan cinta.

Cowok cakep yang aku belum tahu namanya itu tersenyum. Senyumnya dahsyat, man !!! Dan … duh, ternyata dia punya tatapan mata elang. Tajam namun teduh. Saat itulah pertama kali aku menyadari hatiku telah ‘meleleh’.

“Band kamu keren,” pujiku tulus tanpa tendensi apapun.

“Baru pertama di Diamond ya?” tanyanya tanpa meremehkan.

Perfectly right guess !!! Ouff, suaranya … daleeeem banget. Dan mata itu !!!

“Iy, iya,” duh kok jadi grogi gini? Tanganku berkeringat. Adem. Dadaku nggak berhenti berdentum. Come on, Renata … steady !!! Feeling mengetuk-ketuk dinding hati.

Oya, aku belum pernah cerita ya. Dulu, ibuku sering mengulang-ulang cerita bahwa Tuhan adalah sahabat kita. Tuhan tidak nampak dan tidak ada disekitar kita secara nyata, tapi dia mengirim sesuatu supaya selalu dekat dengan kita. Tuhan mencipta sesuatu dalam tubuh kita. Tuhan kecil. Hati Nurani. Aku menyebutnya : FEELING. Dalam saat-saat genting nan penting, Feeling selalu muncul untuk jadi second opinion. Yang mengingatkan saat kita berlaku bodoh. Yang menguatkan saat kita bersikap mulia. Dan seiring bertumbuhnya usiaku, aku selalu mengandalkan Feeling untuk mengambil alih keputusan penting. Seperti saat ini, Feeling tiba-tiba muncul seperti ingin memberi pertanda ini saat aku bertemu dengan cinta. (Mungkin ya ??? J) Aku menyebutnya dengan capital ‘F’ karena dia begitu nyata. Seperti orang kedua dalam diriku.

Tapi kadang juga, aku merasa bahwa sebenarnya aku menderita skizofrenia ?!?!?!?!

“Raka,” ia yang lebih dulu mengulurkan tangan.

“Ren,” jawabku pendek. Gagu. SIAL! Dia pasti bisa merasakan basahnya tanganku. “Nata”, sisa suara seperti tertelan hingar bingar musik dan ludahku sendiri.

“REN? Ups,” matanya menatapku tajam beberapa detik. Raka menelengkan kepalanya untuk mengeja namaku. Ada jeda waktu yang terasa nikmat. “Ren, nice to meet you but, euff … aku musti ke panggung lagi,” katanya sambil mengedik kode ke atas panggung.

Uhm, aku mengangguk. Bego. Dungu. Dodol.

Coz I’m freezed.

“Kamu yang duduk dekat bar desk tadi kan?” tanyanya lagi sebelum meninggalkanku dengan segenap predikat tadi.

Bego. Dungu. Dodol.

Coz I’m freezed.

Uhm, aku mengangguk lagi. Kok Raka tahu?

“Stay sit there ya!” katanya dengan tak lepas mata elang itu mencengkeram tepat dihatiku.

Uhm, aku serasa orang-orangan sawah.

“Ken, … uhm, kenapa?”

Raka tersenyum dan dengan jari telunjuknya menunjuk mata dan jarak pandang. Duh, apa sih maksudnya? Tapi aku membalasnya dengan senyum. Senyum dodol karena nggak ngerti maksudnya.

Wake up, Ren. Nyadar!!! Lo musti ke restroom sooner. Kalau enggak lo bakal pipis disini. Lo tu kayanya butuh minum ginko biloba biar nggak bengong kayak tadi. Kayanya Raka bikin lo jadi makhluk aneh.

Sstttt, aku membungkam Feeling. Kalau gue musti minum ginko biloba mungkin supaya Feeling bisa redam.

Terapi untuk penderita skizofrenia ada nggak siy resep ginko bilobanya ???

Sekembaliku dari rest room, Raka sudah menyanyi lagi. Waktu aku kembali duduk di tempat yang sama, beberapa kali Raka mencuri tatap ke arahku dan melempar senyum dahsyatnya.

“Well Diamond’ers, dari tadi udah lagu menghentak. Coolling down dulu yah,” Raka menyela di akhir lagu. “Okay Diamond’ers, pernah jatuh cinta? Pernah dong. Lagi jatuh cinta? Bersyukurlah. Pernah jatuh sampai dalaaaam?” Raka tertawa kecil. “Well then, ini semua buat kamu, yang pernah jatuh cinta dalaaam. Buat kamu, yang pernah jatuuuuh dalaaaam. Lagu lama banget tapi dijamin pasti kalian suka. Fall So Deep dari EOL. Buat Ren, dan teman-teman disana,” Raka melambai ke arahku.

Fall so deep? Uhm, so sweet.

Buat Ren – dan teman-teman?

Wait, maksudnya apa nih? Bodo ah … Jangan GR dulu, Ren. It might be nothing.

Some people think that love is foolish

While others think it’s a game

Well, i think love is a fire

And i’m burning up in a flame

I’m so lost in my emotions

More than you’ll ever know

Malam yang manis (karena Raka) itu berakhir dengan ‘ancur’. Pak Stanis, manajer area sekaligus ketua ‘rombongan dugem’ku mabuk berat sampai tepar. Sedikit menyusup dalam hatiku sebuah janji bahwa malam ini menjadi malam terakhir aku datang ke cafe. Malam pertama sekaligus yang terakhir seorang Ren mengenal dunia malam.

Sampai, …

Sesampainya di luar seseorang memanggilku.

Raka. Pria bermata elang itu!

Deg. Deg. Deg. Tanpa dikomando jantungku konser sendiri.

“Ren, simpan nomor aku,” katanya sambil terengah karena setengah mengejarku.

“Thanks,” kataku datar sambil menerima selembar kertas kecil dari tangannya. Aku kelelahan. Tak kuasa menghentikan konser di hatiku.

“Nomor kamu?” tanyanya memintaku.

“Entar aku telpon kamu,” kataku pendek. Aku tak terbiasa memberikan nomorku ke orang asing. Even he’s a hot hunk must grab macam Raka.

Raka mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada rombongan kecilku yang memapah Pak Stanis.

“Ren, kamu baik-baik saja?” tanya Raka penuh perhatian. Padaku.

PADAKU !!!

“Maaf, siapa yang bawa mobil?” tanya Raka. Pada rombongan kecilku.

Samuel menunjukkan kunci yang digenggamnya. Tandanya dia yang bawa.

“Mm, maaf, yakin bisa bawa mobil? Ng, nggak loading kan?”

“Fine. Nggak papa,” sahut Samuel asal.

“Biar aku aja yang bawa, Sam,” aku menengahi demi melihat kekawatiran di mata Raka.

“Kamu kan enggak pernah bawa mobil manual, Ren,” sahut Samuel.

“Ya, tapi aku bisa. Bisalah. Daripada kamu yang nyetir. Lagian cuma aku yang nggak minum malam ini. Siniin, Sam.”

Bukannya aku mau ngerasa heroik tapi aku sebenarnya juga kuatir dengan kondisi teman-teman yang semuanya mabuk. Setidaknya aku yang paling waras yang harusnya pegang kendali. Eh, pegang kemudi.

“Kayaknya sama worry-nya kamu enggak mabuk tapi bawa mobil manual. Bawa mobil matic aja kamu nggak fasih. Masih mendingan aku,” Samuel tertawa nyengir. Sialan. Aku menatap Samuel beralih ke Raka yang menyimpan senyum, tapi tak juga berkurang rasa kawatirnya.

And I love that !

Really love that …

Love the way he looks at me that way !!! And cares of me so much.

“Oke. Ati-ati ya. Sam, titip adikku ya!” kata Raka kemudian. Pada Samuel. Dan … dan, Raka mengusap puncak kepalaku. Dengan cara yang sangat gently.

“Sip,” Samuel mengacungkan jempolnya..

Adik? Uhm, maksudnya … … … aku?

O-M-G !!!

Oh My God !!!

Aku masih dalam kondisi freezed bahkan setelah mobil melaju.

“Lo kenal sama Raka ya, Ren?” tanya Mita yang duduk dengan kepala tergeletak di atas jok dengan lunglai tanda mabuk berat dan puyeng.

“Uhm, ya.”

“Dia kakak kamu? Kok kamu nggak bilang?” sahut Tyas dengan mata setengah. Dalam kondisi over load kayak gitu Tyas masih sempat menyimak Raka bilang ‘titip adikku’.

“Uhm, iya.”

“Kakak darimana? Saudara jauh maksudmu?”

“Uhm, iya. Iya. Saudara jauh gitu deh.”

Masih saudara satu keturunan Adam. Iya kan? :-p

“Cakep loh dia. Coba gue tadi nggak loading pasti gue minta lo kenalin ke gue, Ren. Tau nggak lo, Raka tuh digilai banyak cewek. Tampangnya, suaranya, gayanya, keren,” oceh  Mita nggak jelas.

“Oh, ya?” sahutku malas. Aku terlalu bahagia dengan kejadian barusan. Bertemu dengan CINTA which is Raka. Dan cara dia menatapku, mengakuiku sebagai adiknya, dan cara Raka mengusap rambutku.

Wwwaaaaa !!!!

Selama perjalanan pulang aku senyum-senyum. Bahagia. Aku terlalu bahagia untuk memperhatikan teman-temanku yang satu persatu merelakan diri dibawa angan nikmat sesaat.  Alcohol, I mean. Kecuali Sam, tentu saja. Cowok satu ini berusaha keras konsentrasi dengan jalanan yang di jam segini udah nggak terlalu macet. Tapi mengingat Sam lumayan berat juga tadi dia minum konsentrasi penuh dia butuhkan. Aku terlalu bahagia untuk memikirkan hal nggak penting seperti mereka. Saat ini. Aku menimang-nimang kartu nama Raka.

RAKA.

RAKA ARDIAN.

081 1381  !!!

Simpan ah di phone book.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit !!!

HP melompat dari tanganku. Meluncur bebas dan mendarat di bawah kakiku

“ANJRIIIIT! LIAT JALAN, BUDUK!!!!!!!”

Samuel mengumpat.

“Saaaaam! Apaan? Ati-ati dong!” jeritku. Karena hanya aku yang ‘sadar’ jadi hanya aku yang protes. Mita terlelap di sandingku. Tyas mendengkur halus disandingnya. Pak Stanis? Entah sudah sampai mana. Sedari masuk mobil tadi Pak Stanis sudah tepar dan ketinggalan moment penting Raka mengusap rambutku so gently (nggak penting ya?! :-p)

“Mobil gila tu loh nyelonong aja. Sumpret!” umpat Samuel.

Aku menatap mobil Lancer yang menyelip mobil kami. Spontan aku melihat nomor platnya. Selalu. Hubungan Ren dan nomor mobil seperti anjing dengan tulang (iih, apa hubungannya yach? Jangan-jangan aku mabuk juga …)

Uhm. D 1381 BD.

Ren, satu lagi pertanda … Feeling mengingatkan.

Ups, pertanda. Baru saja aku mau menyimpan nomor Raka. Uhm, 0811381. Ups. Nomor mobil Lancer 1381. Huuh, kenapa selalu begini?

Percaya pada PERTANDA? Ketika kamu sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba segala sesuatu yang ada didepan kamu berhubungan dengan apa yang sedang kamu pikirkan. Yang kemudian akan terjadi satu hubungan yang tak pernah bisa kamu kaitkan secara logika tapi jadi satu cerita dalam hidupmu. Aku sering mengalami hal itu, seperti kejadian barusan. Bukannya disengaja. Nomor Raka dan nomor Lancer itu bisa sama kan diluar kuasaku? Sebuah kebetulan yang kadang terlewat dari perhatian.

Yang pasti, sejak acara dugem  itu, aku jadi sering memikirkan Raka. Seminggu lebih aku belum kasih kabar ke Raka. 1381-nya masih aku simpan. Masih ingatkah Raka padaku? Ini sudah seminggu lebih. Mungkin Raka biasa memberikan kartu namanya pada siapapun, lalu menganggap mereka adik, lalu berlalu begitu saja. Mungkin aku yang ke-GR-an. Uff, tau diri dikit dong, Ren. Tapi aku pengen tahu kabarnya. Tapi aku malu. Tapi aku pengen meneleponnya. Tapi aku enggan. Tapi aku pengen dengar suaranya. Tapi aku takut Raka sudah tak mengingatku. Tapi aku bingung. Aaaaaarrrrrrgghggghhhh … Tapi – tapi – tapi – tapi – tapi – tapi saya bundar …

Mengapa harus ada mobil dengan nomor 1381 yang nyaris menabrak? Pertandakah? Pertanda bahwa aku nggak boleh menghubungi Raka? Atau sebaliknya, akan ada cerita antara Renata dan Raka?

Mengapa dia begitu ‘dalam’ saat aku menyebut nama REN. Seperti nama sakti yang membuat Raka berhenti bernafas. Untuk beberapa detik. Nggak penting ya? Tapi aku pengin telpon. Aku … uhm, I fall so deep.

Deep in LOVE with him.

CINTA? … … Secepat inikah?

Aku belum memikirkan untuk mencari cinta. Aku tidak mencari cinta.

Cinta yang datang mencariku !!!

Cinta yang datang dan menemukanku !!! !!! !!!

Akhirnya, setelah berlalu seminggu plus tiga hari, aku mengirim sms. Iseng-iseng tanpa berharap Raka masih mengingatku. Uhm, okelah … ada harapan sedikit – Raka masih mengingatku.  Aku kirim sms yang biasa. Sangat sangat biasa. Nanyain kabar. Dan tahu, apa balasan sms dari Raka?

Hi Sist, akhirnya sms juga. Kirain lupa.

Atau malah namecard-nya sudah dibuang :-)

Aku lagi main di Bandung. Take care ya.

Sist = Sister = Adik ?

Akhirnya? – Apakah Raka menunggu smsku? Mengingat aku tidak memberinya nomorku.

Lupa ? – Aku? Bagaimana bisa …

Dibuang ? – Nggak mungkinlah …

Bandung ? – D 1381 BD! ; D = nopol kendaraan Bandung.

Take care … – So sweet !!!

Well, gradasi 1 – 10 ; Raka = 9,5 !!! … ralat = 9,8 !!!


… … … bersambung … … …

{ 2 comments… read them below or add one }

Yessi February 23, 2010 at 2:42 pm

hehe..udah banyak lagi niy cerpennya ;)

elmoudy March 2, 2010 at 9:29 am

haha…. gw pertama kesini.
langsung suka dengan tulisan2 nya..
judul2 nya membakar…

sip

Leave a Comment

Previous post: Renata Mencari Cinta

Next post: Diamond Cafe