… sambungan Diamond Cafe
Aku menangkap sesuatu yang dalaaaam banget dalam matanya.
Sinar mata perih yang tergores muncul dari luka hati yang terdalam. Tiba-tiba aku ingin memeluknya. Kami hanya saling menatap. I can see love just the way you look at me. I can see heartache deep inside your sight. And I wanna cure your pain … … … cure your purest pain …
PRINGWULUNG,
Awal Desember di rumah kost Raka yang rapi
Aku jadi teringat kalimat Wilda : Raka pernah bilang enggak sih kalau dia – tiiiit – sensor. Raka pernah bilang, Wilda lumayan tahu banyak tentang masa lalunya. Sejak dulu Wilda naksir berat, tapi Raka menganggapnya nggak lebih dari teman. Jadi yang dilakukan Wilda adalah mengintimidasi dan menginterogasi cewek-cewek yang dekat dengan Raka. Termasuk aku, Renata. Buy hey, I am just his lil’sista, right? Only a sista’. Only. Yah, cuma adiknya …
Jadi ini maksud Wilda. Raka pernah menikah. Tiga tahun usia pernikahan, mereka dikaruniai seorang puteri yang cantik. Malangnya, tak lama setelah melahirkan, istri Raka meninggal, bersama si kecil. Raka menamai puterinya, sesuai keinginan istri tercinta, dengan nama: RENATA. Istrinya bernama Rachel. Ketiganya berawalan huruf R. Renata. Seperti namaku. Raka nggak pernah bilang bahwa itu jadi alasan kenapa Raka sayang banget sama aku sebagai adik. Tapi aku tahu, pasti Raka punya alasan mengapa di hari pertama Raka begitu antusias saat aku menyebut namaku. Dan ingin mengenalku lebih. Pake kasih-kasih kartu nama juga. Ternyata, Raka juga mengalami pertanda-pertanda. Tapi Raka nggak pernah mendefinisikannya. Pilihan tempat dudukku yang eye-catching banget buat Raka. Pertanda bahwa akan ada cerita antara Renata dan Raka, karena namaku dan nama anak Raka sama.
“Sejak Rachel dan Renata pergi, aku lebih senang hidup menyendiri. Dalam kesendirianku aku merasakan kehadiran mereka.”
Aku mengedarkan pandang di kamar kost Raka yang besar. Kamar lima kali empat dengan ranjang nyaman, kamar mandi dalam dan seperangkat komputer komplit buat Raka bekerja menggarap musik.
“Banyak lagu-lagu yang terinspirasi dari kehadiran mereka. Uhm, kamu ngerasa aneh ya? Beberapa teman bilang aku terlalu terpaku pada masa lalu. Tapi buatku, mereka bukan masa lalu. Mereka masih hidup. Di sini. Dihatiku,” Raka menebah dadanya.
“Aku nggak ngerasa aneh kok. Wajar. Bisa dipahami. Kamu pasti cinta banget sama mereka ya?” tebakku. Raka memberi seulas senyum. “Tapi bukan berarti kamu nggak pernah membuka hatimu untuk perempuan lain, Bro?”
“Uhm,” Raka menerawang. “Beberapa nama pernah singgah, tapi mereka tak bisa menerima keadaanku. Yah, aku tak bisa menyalahkan mereka, Sist. Aku sebenarnya tak memaksa mereka untuk menerima kehadiran Rachel dan Rena dalam hidup mereka. Tapi saat mereka mau menerima komitmen hidup bersama denganku, mereka seharusnya bisa menerima aku apa adanya. Dengan atau tanpa Rachel dan Rena. Kenyataannya, Rachel dan Rena tak pernah lepas dari hidupku,” Raka tertawa getir. “Menerimaku berarti satu paket. Dengan Rachel dan Rena.”
Well, aku menangkap sesuatu yang dalaaaam banget dalam matanya. Sinar mata perih yang tergores muncul dari luka hati yang terdalam. Tiba-tiba aku ingin memeluknya. Kami hanya saling menatap. I can see love by the way you look at me. I can see heartache deep inside your sight. And I wanna cure your pain … … … cure your purest pain …
“Setelah aku cerita this part of my life. Setelah kamu tahu apa yang dimaksud Wilda dengan : KAMU BELUM TAHU SIAPA RAKA. Aku tidak memaksamu untuk tetap berada di sini, Sist. Tak dapat disangkal, aku seorang DUDA dengan MASA LALU yang tak bisa kulupakan. Dan, nggak mudah mendapatkan seseorang dengan cinta seperti yang aku harapkan. Menerimaku apa adanya. Dengan atau tanpa Rachel dan Rena.”
Hey, apa salahnya siy dengan duda? Toh Raka bukan duda cerai karena selingkuh atau Rachel yang selingkuh. Hallah, apa siy. Kayak kehidupan artis yang sok penting dibahas di infotainment. Uff, kok aku jadi ngelantur ya?
“Suatu saat nanti, Bro, akan ada seseorang yang menemukan cintamu. Seseorang yang mencari cinta, dan menemukan ada sebongkah cinta yang tulus yang kamu punya.”
Dan seseorang yang mencari cinta itu adalah AKU.
RENATA!!!
Renata mencari cinta. Dan Renata mendapatkannya!!! Pada seorang Raka …
Tak tahan mengendalikan emosi dalam gelegak hatiku, aku rengkuh Raka dalam pelukku. Dalam diam Raka balas memelukku. Membelai lembut rambutku. Kami berpelukan lamaaaa sekali. I wanna cure your purest pain, Bro. Jadikan aku kekasihmu. Akan kuhalau semua luka yang mengendap lama. Raka menarik tubuhnya perlahan. Kami saling menatap lama. Aku menyusuri binar mata yang menembus ke dalam relung hatinya. Raka diam. Matanya bicara banyak. Tentang kenangan. Tentang masa lalu. Tentang harapan. Kerinduan pada Renata. Pada Rachel. Pada cinta. Tentang cinta. Cinta? Cintakah Raka padaku? Seperti cinta yang kurasakan untuknya? Seperti cinta yang kucari dan kutemukan ada padanya? Aku jatuh cinta pada Raka. Fall so deeeeep … Tiba-tiba Raka mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu, saking takutnya, berharap terlalu banyak, takut terlalu kecewa, tidak seperti yang aku bayangkan. Aku memejamkan mataku mencoba meredam harapan dalam batas kekecewaan. Menutup jendela hati dimana aku bisa mencari cinta. Dari matanya.
Bibirku basah.
Lekat.
Lembut.
Bibir kami bertaut.
My first kiss. French kiss.
Sekian detik adegan ini berlangsung, berakhir ketika aku membuka mata. Kudapati mata Raka sedang melekat padaku. Tatapan matanya yang lekat. Teduh dan tajam. Tatapan elang. I love the way you look at me. Senyumnya mengembang. I love your smile. I love the way you smile. Uff, I love all the way you do.
“I love you, Raka,” bisikku tak tertahan.
Raka kembali memelukku erat. Membawa tubuhku dalam dekapannya. Membenamkan kepalaku dalam kehangatan hati yang kurasakan merelung pekat.
“Jangan bicara tentang cinta … ,” bisiknya parau.
Lagu Purest Pain mengalir satir …

… … … bersambung … … …
