Perempuan Perempuan Pram

by lusia on December 31, 2009

vladstudio_choice_800x600Aku menatap lekat perempuan dengan paras ayu dihadapanku. Senyumnya mengembang ketika dia mengatakan, “Kami berpisah.” Aku masih tak mampu mencerna kalimat yang meluncur ringan dari bibirnya.

“La … lalu, anak-anakmu?” tanyaku tergeragap.

“Sementara ini mereka bersamaku. Lebih baik begitu. Setidaknya, ini yang terbaik bagi kami,” sahutnya, masih dengan kalimat yang  begitu lancar menari dibibirnya yang tipis.

Aku heran dan bertanya-tanya, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk melatih sampai begitu lancar menceritakan pilihan hidupnya dengan demikian ringan. Pilihan yang tak mudah, tentu.

Aku juga teringat sahabat-sahabat perempuanku lainnya. Nadia. Vera. Julia. Monika. Perempuan-perempuan tangguh yang tak takut menerima (atau memilih) untuk hidup berpisah dengan lelakinya? Dengan lelembut-lelembut yang mengekor di setiap langkah hidupnya.

Lelembut. Haha. Itulah nama yang kusebut untuk memanggil malaikat kecil yang memanggilku : Papapam. Papa Pram. Gracie, putri kecilku, yang karenanya hilang sirna semua letih beban kerja selama seharian.

Aku jadi ingat perempuanku : Luna. Aku memilih untuk meninggalkannya. Aku jatuh cinta pada pesona yang tak ia pancarkan dengan sengaja. Luna seperti rembulan yang dengan sinar peraknya membius manusia malam, sepertiku. Aku terseret dan tenggelam dalam kehangatan cintanya. Perempuan yang membiusku dalam diam. Sekian masa aku merengkuhnya. Aku mencumbunya. Aku memilikinya. Dan tak ingin berbagi dengan yang lain. Luna milikku. Milikku seutuhnya.

Tapi aku harus melepas Luna. Tak mudah untuk ku membiarkan dia kembali ke pelukan lelakinya. Tapi ingatan akan Gracie dengan pelukan hangat dan kecupan lembut serta sapaan : papapam, begitu lekat dan mematahkan rasa sakitku kehilangan Luna. Gracie telah menyelamatkanku menjadikan perempuanku yang lain, Rachma, perempuan yang melahirkannya, menjadi seperti perempuan-perempuan sahabatku.

Aku telah berlaku curang pada Rachma, atas nama cintaku untuk Luna. Kini aku belajar menata kembali serpihan hati yang pernah kuporandakan. Aku tahu tak akan selalu mudah menyatukan kembali kepingan yang pernah retak dan hancur. Tapi demi Gracie, perempuan kecilku, hidupku kuberikan untukmu.

{ 1 comment… read it below or add one }

luvjoy December 31, 2009 at 5:06 pm

happy new year 2010 ayu….

Leave a Comment

Previous post: Laki Laki Laila

Next post: Memetik Senja