… sambungan Species Manusia – which one are you ?
Sejak Vin menyatakan ketidaksukaannya pada hubunganku dengan Raka, uhm … lebih tepatnya, pada perasaanku untuk Raka. Aku tak pernah punya pacar. Aku tidak mencari pacar karena aku sudah menemukan sosok yang tepat pada Raka. Sudah kubilang, Renata tidak mencari cinta. Aku menunggu cinta Raka jatuh padaku. Walaupun Vin masih terus menanamkan doktrin untuk meyakinkanku bahwa Raka bukan orang yang tepat untukku sebagai pacar.
“Raka memang memiliki segala yang diinginkan seorang perempuan. Wajah tampan. Kemapanan, oh well, maksudku materi. Dan ketenaran. Tapi dia bukan orang yang tepat untukmu hidup bersama, Ren. Aku bilang ini karena aku sayang kamu,” cerocos Vin melancarkan serangan doktrinnya.
Yeach. Dan setelah ini pasti tentang Raka yang …
“Raka tuh dikelilingi banyak perempuan. Cantik. Seksi. Mungkin, mau saja dibawa sana sini. Dan, aku nggak mau kamu jadi perempuan yang ada di posisi itu. Lagian, aneh aja kalau dia nggak tertarik dengan satu diantara mereka. Kamu nggak ngerasa aneh?” tanya Vin dengan tatapan tanpa minta jawaban.
Dia sudah tau jawabanku – tak ada yang aneh dengan Raka – lalu, Vin akan melanjutkan dengan kalimat …
“Renata dan Rachel, katamu?! Itu yang membuat Raka masih bertahan sendiri? Bilang, aku yang bodoh atau apa. Kamu tahu bagaimana hubunganku dengan Simon. Aku tahu banget dunia orang-orang macam Raka dan Simon. Tak jauh dari minum, perempuan, dan freeseks. Jadi, kalau kamu yakin Raka nggak melakukan itu, pasti hanya masalah WAKTU. Kamu tidak tahu, atau entah, tidak mau tahu. Aku bilang ini karena aku sayang kamu, Ren. Jatuh bangun aku menjadi pacar Simon. Aku bisa kuat. Aku mampu bertahan. Bukannya aku meragukan kamu. Aku hanya menyayangkan kamu, Ren. Kamu bisa dapatkan yang lebih dari Raka. Dan semua pria itu ada di luar sana. Kamu hanya tinggal …”
“Tinggal membuka mata dan hati, and then just grab one of that hot hunks,” sahutku cepat.
Hapal dengan kalimat Vin tentang nasehat – CARI – PACAR – SELAIN – RAKA – DIA – BUKAN – ORANG – YANG – TEPAT – BUAT – KAMU !!!
“Ren, Vin bilang ini karena …,” timpal May, si guru les piano itu menambahi, semakin menyudutkanku sebagai seorang murid SD yang ketahuan nyontek dan diwajibkan menuliskan kalimat SAYA – TIDAK – AKAN –MENYONTEK sebanyak 1000X.
“Ya – ya – ya, karena kalian sayang ma gue kan. I know. Tapi, hatiku nggak mau tahu. Hanya Raka. Raka saja. Titik,” aku keras kepala.
“Sudah lebih dari lima tahun, Ren. Get real. Kamu cinta mati pada Raka. Lalu, apa yang Raka lakukan? Nothing! Wake up, wake, Sleeping Beauty !!!” gemas Vin.
Lalu percakapan panjang yang tidak mengenakkan ini SELALU berakhir dengan desah nafas tidak puas dari Vin dan May. Entah kapan lagi di saat yang mereka pikir tepat untuk melancarkan nasehat itu – tentang tidak pantasnya Raka untukku – kembali aku akan dengar kalimat panjang Vin yang didukung May.
“Ren, aku tidak memaksamu, tapi aku ingin kamu mencoba sekaliiii ini aja. Sekali ini aja Ren, please. Aku dan Vin nggak akan maksa kalau kamu memang nggak cocok. Tapi setidaknya kamu menghargai usaha aku dan Vin.”
Aku menatap May malas. Selalu menyisakan aura yang sesak setiap bicara tentang Raka kubu perlawanan mereka.
“Aku punya kandidat yang oke buat kamu. High quality jomblo, satu divisi sama Bang Erwin. Orangnya baik. Goodlooking. Lovely. Kamu nggak harus langsung jadi pacar deh. Setidaknya kita bisa pergi berenam. Nggak enak terus-terusan pergi berlima dengan kamu tanpa pasangan,” jelas May pelan-pelan.
“Lagian, Raka toh nggak pernah mau jalan sama kita, Ren. Kalau kamu terus mempertahankan dia, kayaknya nggak worthed banget karena toh Raka nggak berusaha ngehargain usaha kamu,” Vin menyahut dengan kalimat yang lumayan pedas ditelingaku. Dan sayangnya, kalimat Vin terasa benar.
“Vin,” potong May mencoba menyelamatkan perang dingin antara aku dan Vin.
“Aku bahkan nggak yakin Raka punya perasaan yang sama dengan kamu, Ren. Cowok, kalau punya rasa sama perempuan, pasti akan fight. Kalau dia adem ayem, perlu dipertanyakan,” tambah Vin lagi.
“Vin,” sergah May lagi.
“Lalu, bagaimana kalau yang punya RASA itu si perempuan, Vin? Aku punya cinta buat Raka. CINTA, Vin! Dan aku mau fight untuk cintaku buat Raka. Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri, Vin? Sudah jelas Simon hobi selingkuh dibelakang kamu, bahkan mungkin, di depan kamu. Tapi apa? Kamu toh tetap fight. Karena kamu cinta dia.”
“INI JELAS BEDA!!!” Vin berang.
“Ren, please. Vin, peace!!!” May menjadi penengah. Tumben. Biasanya May yang paling jayus dan nggak pedulian. May punya rencana besar. Pasti berkaitan dengan keyakinannya yang super pede. “Sekali ini aja kita coba. Nothing to lose, Ren, Vin.”
Aku dan Vin diam. Aku yakin, Vin juga sama denganku, tak mau bertengkar.
“Namanya Rangga,” sahut May pendek.

Yang terjadi kemudian adalah aku dan Rangga jadian. Entah bagaimana awalnya, aku hanya mengiyakan saja untuk menjalani skenario May untukku dan Rangga. Lagipula, mungkin benar mereka bilang, nggak ada salahnya aku dekat dengan Rangga. Toh Rangga baik, sopan, dan bermasa depan cerah. Satu hal yang kupikir menjadi masalah terbesarku dengan hubunganku dan Rangga adalah, aku masih mencintai Raka. Masih sangat mencintai dia …
Lepas dari perasaan suka tidak sukaku pada Rangga, kenyataannya Raka menjauh dariku. Entah karena pernyataanku waktu itu, atau karena memang kesibukan Raka, aku tak pernah lagi bisa berhubungan dengan Raka. SMSku dijawab seadanya. Teleponku tak pernah diangkatnya. Sibuk, mungkin (sebenarnya pernyataan ini hanya untuk melegakan hatiku saja). Sejauh ini, aku mengikuti kabar Raka hanya dari media yang mengulik tentang perjalanan karier seorang bintang baru. Raka Ardian. Jadi, waktu itu di Diamond Cafe, hari pertama aku kenal dengan Long Island, Raka mendapatkan jalan lebar ke arah dunia industri musik dari dua orang yang ditemuinya malam itu. Hhhhgghhh … Pf for you, Bro!!!
… … … bersambung … … …
