Laki Laki Laila

by lusia on December 30, 2009

wanitaMusik berdebum keras, menghentak lantak. Laila menggoyang kaki dan menggeleng kepala mengikuti dentuman musik yang mengisi kepala dan menggelitik telinga. Senyum termanis dilemparkan ketika lelaki tampan penuh pesona di atas panggung melempar senyum andalannya. Ariel, lelaki penuh pesona itu, adalah lelaki Laila. Ia mencintainya.

Bip. Pip. Biiip. Piiip. Storm digenggamannya bergetar. Ah. Dipencetnya tombol reject. Malas. Kemudian getar – bip – pip – itu terus berbunyi. Laila tahu dia sanggup mereject sekalipun ribuan bip pip menyebalkan itu. Adjie. Lelaki lemah yang lembek. Apalagi kalau tidak merengek-rengek meminta Laila menerima lamarannya. Menikah dengan Adjie.

MENIKAH?

Tidak ada dalam kamus hidup Laila.

Bip. Pip. Biiip. Piiip. Strom kembali bergetar.

“Hallooo, ya, halllooo!!!” Laila setengah berteriak pada Storm-nya. Bukan. Bukan Andre. Ardian, pengusaha jual beli mobil bekas yang lumayan tajir.

“DIMANAAAA? – OHYAAA??? KAMU SUDAH LIHAT AKUUUU??? YA SUDAAAH. KAMU TUNGGU DISANA YAAAA.”

Klik. Hubungan terputus.

Laila mencari-cari tatapan mata Ariel. Setelah ditangkapnya, Laila memberi isyarat Ariel dia akan meninggalkan tempatnya duduk untuk ke toilet. Pernah, Laila menghilang dari tempat duduk istimewanya, Ariel langsung meninggalkan stage untuk mencari Laila dan itu membuat heboh malam itu. Padahal Laila cuma mau pipis. Laila memang mendapat tempat istimewa di kafe ini. Juga tempat istimewa di hati Ariel. Dari sekian ribu fans perempuan Ariel, dia yang dipilih untuk menerima cinta Ariel. Ralat : Laila bukan fans Ariel. Laila adalah salah satu perempuan penting dalam hidup Ariel. Itu saja.

Kali ini Laila ke toilet tidak ingin pipis. Laila janjian ketemu dengan Ardian. Laila tidak masuk ke toilet cewek, dia menemui Ardian di toilet cowok. Sekecup dua kecup. Quicky sebentar. Keluar beres. Ardian akan menransfer sekian juta untuk kencan kilat penuh gairah itu. Disela jadwal manggung Ariel, kekasihnya.

Laila melirik Leather Strap Watch merah dari Coach yang melingkar manis di tangannya yang ramping. Dua lebih lima. Sebentar lagi Ariel selesai.

Bip. Pip. Biiip. Piiip. Adjie lagi. Suck !!! Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject. Bip. Pip. Reject.

LAILA. AKU MENCINTAIMU. AKU MENERIMAMU APA ADANYA.

So what. Aku juga menerima diriku apa adanya kok. Dan lelaki-lelaki itu. Desah Laila dalam hati sambil mengulum senyum.

Bip. Pip. Laila memencet tombol ACCEPT.

“Hallo, Darling, hey … lagi dimana, Sayang?” kali ini Laila tidak berteriak karena musik sudah berhenti. Hanya house music yang tak terlalu hingar bingar. Ariel menghampiri dan merengkuhnya dalam peluk. Tubuhnya yang berkeringat membuat seketika Laila bergairah. Ariel mencium bibir Laila lekat, membekukan langkah perempuan-perempuan mupeng yang mengikuti Ariel saat meninggalkan stage.

Ciuman. Keringat. Desah nafas. Ariel memang penuh pesona. Membuat tubuhnya terbakar seketika. Sabar, Laila, sebentar malam kamu akan memenangkan pertarungan hebat. Seperti biasanya.

“Siapa?” tanya Ariel.

Bibir Laila menyebut sebuah nama dan Ariel mengangguk.

“Iya, iya, aku masih di kafe,” kata Laila masih dengan Storm-nya.

Hening di seberang.

“Dimas, please deh. We have a deal on this,” Laila merengek tapi tidak termehek-mehek. “Aku memang bersama Ariel.”

Masih hening di seberang.

“Oke. Jadi kapan, Dimas?”

“Kenapa siy kamu masih sama pemain band kere itu?” suara diseberang menggerutu.

“Pekerja seni,” ralat Laila.

“Iya, seniman kere itu. Apa yang kurang dari aku, La?”

“Tidak ada. Kamu baik, Dimas,” sahut Laila. Dan kaya. Laila tersenyum pada Ariel yang sedang mengemasi barang dan melempar senyum dahsyatnya.

“I love him. This is the only reason why I am still hanging on with him.”

“Kamu tidak mencintaiku?”

“Tidak,” jawab Laila pendek. “Kamu tahu itu,” tegasnya lagi. Aku hanya butuh duitmu. Dan kamu hebat di ranjang, itu bonusnya. “Tapi aku selalu memenuhi janji kita kan, Dimas. Kapan aku menolak setiap kamu bikin waktu kencan buat kita. Sebisa mungkin aku penuhi apa yang kamu mau, tapi jangan minta aku tinggalkan Ariel. Aku tidak mau. I love him. Deadly.”

Ariel tersenyum mendengar kalimat Laila terakhir. Ada binar mata cinta menyala di matanya.

“Sudah ya. Ariel sudah selesai niy,” Laila ingin segera mengakhiri telepon dengan Dimas.

“Kamu bercinta dengannya malam ini, La?” tanya Dimas desperate.

“Sepertinya begitu,” Laila menelan ludah melihat Ariel melepas kaosnya karena gerah dan menggantinya dengan kaos baru. Badannya yang tak terlalu kekar tapi terlihat begitu bersih, putih, dan … yummy. I’ll swallow you tonight, Baby.

“Sudah ya, Dim. Got to go. Bye.”

Klik. Begitu saja.

“Pegawai bank itu, Baby?” tanya Ariel sambil menyulut dua batang rokok. Satu untuk Laila yang diselipkan di bibirnya. Laila suka Ariel melakukannya begitu. Satu untuknya sendiri.

“Ya, Baby. Kapan aku bisa pergi dengannya?”

“Minggu depan aku perform di Bali. Kamu mau ikut?”

“Setelah dengan Dimas ya, Baby? Aku menyusul kamu.”

“Okay then. Pulang yuk. Aku udah nggak sabar.”

“Aku juga, Baby. Malam ini aku yang menang ya.”

“You always win, Baby. I love you.”

“I Love you too, Baby.”

Bip. Pip. Accept.

Adjie.

“Kenapa lagi, Djie?” Laila merengut.

“Menikahlah denganku, La.”

“Untuk keseribu kalinya, aku bilang, TIDAK, Djie. Bye.”

Entah apa yang terjadi dengan Adjie disana, Laila tidak peduli. Bahkan kalau esok paginya Laila membaca berita murah tentang seorang pemuda mati bunuh diri karena ditolak perempuan yang dicintainya.

Laila tak peduli.

“Adjie?” tanya Ariel.

Laila mengangguk. Lengannya menggelayut manja di tubuh Ariel.

“It’s time to do something to him, Baby. Kamu nggak bisa menggantung dia begitu lama.”

“Malas ah. Nanti juga dia bakalan menggantung dirinya sendiri. Love suck.”

“Our love?”

“Sure not, Baby,” Laila menatap Ariel penuh cinta.

Malam bergulir menjelang pagi.

Penguasa malam yang cantik keperakan bergeser oleh Sang Penguasa hari.


@especially to Kajol, …

{ 1 comment… read it below or add one }

ravimalekinth January 3, 2010 at 2:05 am

wah ini genrenya 17+ :P

Leave a Comment

Previous post: Ruang Kosong

Next post: Perempuan Perempuan Pram