Jangan Bicara Tentang Cinta !!!

by lusia on February 27, 2010

… sambungan Purest Pain

Jangan Bicara CintaYang kutahu kemudian adalah : aku tak terlalu beruntung urusan cinta. Sesaat setelah aku menyatakan cintaku buat Raka. Setelah pelukan – dan tatapan tajam teduhnya – itu, lalu dijawab dengan : JANGAN BICARA TENTANG CINTA.

Analisaku adalah : Raka masih sangat mencintai Rachel. Dan Rena kecilnya. Dan tak ingin siapapun bicara cinta. Walau hanya menyatakan perasaan cintanya.

Atau : Raka belum ingin membuka hubungan cinta dengan siapapun.

Atau : Raka terlalu menyayangi dan menganggap aku tak lebih dari sekedar ADIK.

Atau : Raka tidak mencintaiku. Catat : T-I-D-A-K-M-E-N-C-I-N-T-A-I-K-U !!!

Hiks!

‘Raka tuh nggak pantes buat lo, Ren.’

Aku ingat kalimat Vin, salah satu pasukan beranee mateeku.

Vin bilang begitu karena pacar Vin juga anak musik. Anak cafe. Simon tahu banget bagaimana Raka, karena dia juga hidup dalam dunia Raka. Dunia malam yang nggak jauh dari cewek cantik – miras – free seks. Makanya, waktu Vin tahu aku cerita tentang kedekatanku dengan Raka, plus perasaanku padanya, plus plus pernyataan cintaku padanya, dengan keras tegas lugas Vin sangat sangat sangat menentang hubunganku dengan Raka.

Dunia Raka emang gitu.

SWGL? So – What – Gitu – Loh?

Vin juga sering curhat-curhat tentang kesetiaan Simon yang meragukan. Pernah beberapa kali Vin mergokin Simon BBS – bobo bobo siang, dengan perempuan lain, setelah sebelumnya MMR – minum minum ‘ringan’. Lalu mereka bertengkar. Lalu mereka putus. Tapi nyambung lagi. Dan kejadian berlangsung lagi. (Makanya aku agak kaget – juga  May – waktu  kemudian Vin akhirnya memutuskan akan menikah dengan Simon.)

Is it all about the thirty-age or something ???

Walau Mayang berpihak padaku soal Vin dan putus nyambungnya dengan Simon, bukan berarti Mayang memihak padaku soal Raka.

“Kamu tuh nggak bisa dapatin cowok dengan kehidupan yang beda sama kamu. Maksudku, dunia kalian kan berbalik. Hidup kamu mengikuti irama matahari terbit. Bekerja dari pagi sampai sore. Dunia Raka matahari terbenam. Bekerja dari waktu sore ke pagi hari. Kalau kalian menikah nanti, jam delapan pagi lo mesti kerja, sementara suamimu, si Raka Jerk itu baru pulang dari ngafe, tidur sampai siang. Pasti kamu uring-uringan. Aku tahu banget kamu tuh orangnya organized banget. Perfect. Semuanya teratur sempurna sesuai kehendak kamu. Dan sedikit banyak, uhm banyak ‘banyak’nya siy : EGOIS, hehehe. Semua harus sesuai dengan yang kamu inginkan. Kamu akan kecapekan ngurusin orang yang akan jadi suamimu nanti dengan gaya hidup seperti Raka Jerk. Aku sayang sama kamu, makanya dari awal aku bilang sama kamu, supaya kamu enyah dari kehidupan Raka Jerk. Cari yang sama-sama orang kantoran. Punya jam kerja yang jelas. Kayak kamu. Kayak aku sama Bang Erwin.”

Namanya Raka Ardian, May. Bukan Raka Jerk. Raka enggak brengsek. Raka hanya nggak mau membuka hati buat perempuan lain. Belum. Raka hanya lelah gagal dengan perempuan-perempuan sebelumku yang datang atas nama cinta. Dan cinta mereka tidak menerima Rachel dan Rena.

And, who will get married soon, anyway?

Helllloooo … aku baru dua satu !!!

BARU. Bener-bener BARU DUA SATU. Masih sembilan tahun lagi sebelum 30.

Memangnya, kenapa dengan :

TIGA PULUUUUUH ???

shut-up-face-yellow-circle-ico-thumb5273848

Walau hanya sedikit pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan oposisi kedua sahabatku, aku tetap menyimpan cintaku buat Raka. Menyimpan rapat-rapat sebagai harta karun yang akan ditemukannya nanti pada saatnya. Segala pencarian cintaku berakhir ketika aku bertemu dengan Raka. Segala sesuatu tentang Raka terasa pas buatku. Hanya Raka seorang yang aku inginkan sebagai seorang kekasih. Tak peduli Raka dengan status duda. Tak peduli Raka tak bisa melupakan Rachel dan Rena. Aku mencintainya satu paket yang berarti juga menerima Rachel dan Rena. Aku tak peduli Raka yang punya jam hidup berlawanan dengan terbitnya matahari. Seperti takdirnya seorang pekerja seni. Hidupnya memang (sepertinya) tak punya aturan. Yah, aturan layaknya waktu buat orang kantoran. Tapi toh tak selamanya harus seperti itu??? Lagipula, apa salahnya dengan ritme yang berbeda kalau dari awal kita menyadari perbedaan itu dan menjalaninya dengan cara kita? Masalahnya adalah, Raka tak ingin bicara tentang cinta. Untuk saat ini. Aku akan menunggu. Aku tak lagi mencari. Karena aku sudah menemukan cinta yang aku cari. Aku hanya menunggu.

Aku sadar : RAKA – HANYA – BELUM – SIAP – HIDUP – DENGAN – PEREMPUAN – LAIN – YANG – TIDAK BISA – MENERIMA – RACHEL DAN RENA. (Dan aku, bisa!!!)

TITIK !!!

Eh, … TANDA SERU !!! !!! !!!

shut_up

… … … bersambung … … …

Leave a Comment

Previous post: Purest Pain

Next post: Does Beauty Still Rule ?