Hari Ini

by lusia on January 17, 2010

SATU HARI SEBELUM HARi iNi.
Aku punya satu hati untuk berbagi banyak cinta.
Aku punya banyak cinta yang ingin kuberikan pada orang lain.
Aku ingin memberi cinta, sebelum habis waktuku.
Aku tak punya banyak waktu.
Sebelum hari ini, ingin kuberi pada mereka cinta yang kupunya. Pada kedua orang tuaku. Pada ketujuh anak-anak asuhku. Pada jiwa-jiwa yang memberiku bahagia hanya dengan memberi mereka cinta, tanpa mengharapkan balasnya.

HARi iNi.
Namaku Raka, tapi Lesta memanggilku Cin, dari kata Cinta. Kadang dia mencandaiku dengan memanggilku “Cin” – Cina, karena mataku yang sipit dan kulit kuningku.
Lesta yang lebih dulu mencintaiku. Kami berkenalan secara tidak sengaja di sebuah perjalanan Jogjakarta – Manado. Aku dari liburanku di Jogja kembali ke Manado. Lesta dari Jogjakarta menuju liburannya ke Manado. Aku menemaninya berenang dan diving di Bunaken. Sejak itu hubungan kami jadi dekat.
Usiaku sembilan belas, waktu itu, sementara Lesta dua lima. Awalnya aku tak terlalu memberinya perhatian. Menjawab sms seadanya. Menerima telepon sesempatnya. Tapi kemudian kurindui kehadirannya saat tak ada telepon atau sms. Lalu, kusadari aku mulai mencintainya.
Aku pernah nyatakan rasaku padanya, aku mencintainya. Dan aku ingin selalu dekat dengannya, menjadi kekasihnya.
“Aku juga mencintaimu, Cin,” jawabnya. Tapi lalu dia menyatakan serangkaian alasan mengapa tak bisa menjadi kekasihku. Usia kami terpaut jauh, jarak dua kota yang terbentang.
“Tapi aku mencintaimu, Lesta. Apalah perbedaan usia. Apalah arti jauhnya jarak,” aku bersungguh-sungguh.
“Waktumu masih panjang, Cin. Kamu masih punya banyak waktu untuk meraih yang lebih baik dariku.”
“Memangnya, kamu sudah tidak punya waktu?” candaku waktu itu, dan dijawab dengan nada berat, “Waktuku tinggal sedikit, Cin, tapi selama itu, aku akan tetap mencintaimu.”
Tiga bulan sejak aku menyatakan cintaku padanya, selama itu Lesta tak pernah mengurangi perhatian dan cintanya untukku. Apa arti ‘waktuku tinggal sedikit?’ aku tak mengerti …
Sering kami berlama-lama bicara lewat telepon sambil menatap langit. Lesta dibawah langit Jogjakarta, aku dibawah langit Manado. Kami menghitung bintang. Kami pengagum bintang.
“Dari ribuan bintang dilangit, tak ada sinarnya yang seindah terang cintamu, Lesta,” aku merayu, tapi tulus.
“Dari ribuan bintang dilangit, ada satu bintang yang kucinta. Kamulah bintang kecilku,” Lesta membalas rayuan gombalku yang tulus. Lalu kami tertawa .
Kami sering menertawakan hal-hal bodoh yang hanya kami berdua yang tahu. Kami memiliki banyak hal untuk dibagi, walau perbedaan usia kami enam tahun. Walau jarak kami beratus kilo jauhnya.
Hari ini, adalah hari terakhir kulihat sinar terang itu bersinar. Lalu perlahan meredup. Pendar cahaya indahnya sirna. Seiring kepergian Lesta. Aku telah kehilangan bintang terindah dalam hidupku.
Hari ini, aku mengerti apa arti ‘waktuku tinggal sedikit’.
Hari ini, Lesta telah pergi.

HARi iNi.
Kabar itu kudapat beberapa saat sebelum aku naik panggung. Teman-teman band sudah bilang aku tak perlu on stage malam ini. Mereka bisa mengerti, tapi aku berkeras.
“Sudah biasa Lesta begitu, nanti juga dia baikan lagi.”
“Mendingan lo temani dia deh, Tang,” kata Andre, sang gitaris.
“Malam ini biar gue yang on stage, Tang,” tambah Katrina, partner vokalku.
Tapi aku berkeras tetap main malam ini. “Iya, iya, besok pagi gue ke rumah sakit,” kataku akhirnya menenangkan mereka.
Andre mendesah, dia mengerti betapa kerasnya aku menolak Lesta karena aku tak mencintainya.
Katrina cemberut, dia memang dekat dengan Lesta. Katrina tak mengerti mengapa aku selalu menolak Lesta. Katrina selalu bilang, “Cuma kamu yang dicintainya. Cobalah berpura-pura mencintainya, Tang. Lagipula, waktunya tinggal sedikit.”
Aku tidak mencintainya. Dan cinta tak dapat dibawa pura-pura. Titik.
Seberapa banyak waktu yang kita punya, tak akan pernah kita tahu. Titik.
Bukannya aku tak tahu seberapa besar cinta Lesta untukku. Dulu, aku menyebutnya cinta gila. Dulu aku bilang Lesta tergila-gila padaku, seperti kebanyakan gadis-gadis yang menggilaiku selama aku di panggung. Histeria, aku sudah biasa. Tapi Lesta berkeras bahwa cintanya tulus untukku, bukan histeria. Dia ingin sedikit cintaku, sampai waktunya habis.
Huh, WAKTU lagi yang dijadikan alasan!
Bukannya aku tak menyayanginya, aku hanya tidak mencintainya. Dan aku tak bisa berpura-pura mencintainya. Itu saja.
Namaku Bintang. Dia memberiku nama belakang : Bintang Selatan, entah apa artinya. Pernah Lesta mengirim puisi untukku.
Bintang selatan,
… di langitku yang kelam
Sementara diriku berada di utara,
… tak terjeda
Cahya bintangku, tak redup berbinar
Di jeda persimpangan bimbang
Menghantarku pada jiwa mengembara,
… merana lengang
Lalu kugubah jadi sebuah lagu yang membuat Lesta berbunga-bunga. Sudah kubilang, aku menyayanginya, bukan berarti harus mencintainya. Dan aku senang membuatnya bahagia. Dengan caraku.
Hari ini, aku terlambat menyadari betapa aku menyayanginya lebih dari yang kukira sebelumnya. Pagi tadi, sepulang on stage, aku ke rumah sakit dan kudapati Lesta di sana, terbaring. Tak seperti biasanya ia menyambut dengan senyum lemah walau dipaksa, lalu berkata, “Thanks God, aku masih punya waktu untuk melihatmu.”
Hari ini, tak ada senyum lemah yang menyambutku.
Hari ini, waktunya sudah benar-benar habis.
Hari ini, Lesta telah pergi.

HARi iNi.
Aku sangat mencintainya, tapi sepertinya dia tidak terlalu mencintaiku. Aku tahu, banyak cinta yang dia berikan untuk orang lain.
Cinta untuk anak-anak asuhnya. Ada tujuh orang. Aku juga mencintai anak-anaknya.
Cinta untuk kedua orang tuanya yang tak pernah mengerti. Aku lebih mengerti Lesta daripada kedua orang tuanya.
Cinta untukku, walau sedikit, tapi aku tahu Lesta punya cinta untukku. Katanya, hanya aku yang mampu bertahan untuk mengerti dirinya.
Cinta untuk Raka, yang dipanggilnya Cinta. Aku tak mengerti mengapa Lesta mencintainya. Usia mereka terpaut enam tahun tapi Lesta mencurahkan perhatian dan cinta yang berlebih untuk Raka. Jauh lebih besar dari cintanya untukku. Tapi aku berusaha selalu bisa mengerti. Aku bertahan, karena aku sangat mencintainya.
Satu-satunya cinta terbesar yang Lesta punya adalah untuk Bintang. Aku membencinya. Bintang tak pantas memperlakukan Lesta dengan sikap sok artisnya. Lesta seharusnya mendapatkan cinta yang lebih dari sekedar cinta Bintang. Cintaku lebih pantas untuk Lesta. Aku tak pernah mengerti mengapa Lesta mencintai Bintang. Oke, memang dia punya segalanya. Wajah tampan, popularitas, harta, fans, tapi bukan itu yang Lesta cinta dari Bintang. Lesta cinta Bintang karena CINTA. Seperti aku mencinta Lesta hanya karena CINTA. Tak peduli betapa Lesta selalu mengeluhkan tak punya banyak waktu untuk memberi cinta. Aku selalu bilang, sudah cukup banyak cinta yang Lesta beri.
Lesta mengagumi bintang. Lesta betah berjam-jam duduk dalam diam sambil memandang langit. Hanya aku satu-satunya pria yang dekat dengannya yang tak diberinya nama bintang.
Hari ini, aku menemaninya kembali terbaring di rumah sakit. Aku juga yang menelepon Katrina untuk memberi tahu Bintang tentang keadaan Lesta. Aku tahu betapa Lesta ingin ditemani Bintang saat-saat seperti ini. Aku tahu, bukan aku yang diinginkannya. Tapi aku juga tahu, Bintang tak pernah ada di saat-saat Lesta membutuhkan kehadirannya. Jadi, aku mencoba bertahan untuk ada sebagai pengganti Bintang, walau aku tahu, aku tak pernah bisa menggantikan Bintang di hati Lesta.
Hari ini adalah hari terakhir aku bisa melihatnya.
Hari ini adalah hari terakhir aku merasakan cintanya lewat tatapan matanya, tapi aku tahu, cintaku tak akan berakhir untuknya.
Hari ini, Lesta telah pergi.

HARi iNi.
Tak banyak orang yang bisa mengerti aku dan mauku. Bahkan kedua orang tuaku. Sejak dokter menyatakan bahwa ada kanker bersarang ditubuhku di usiaku yang keduapuluh dan aku hanya memiliki dua tahun untuk berobat, atau menyerah.
Awalnya aku memilih yang pertama. Orang tuaku hampir tiap hari menangis. Mereka selalu meratapi betapa sedikit sisa waktu yang mereka punya untukku. Lalu, aku lelah dengan cara pertama. Seberapapun keras aku bertahan dengan segala terapi yang melelahkan, sekaligus menyakitkan, tak juga mampu membuat orang tuaku sadar untuk menemaniku melawan kematian yang menjemput. Tiap malam kudapati mereka menangisiku.
Aku memilih cara kedua. Bukan menyerah. Bukan berobat. Aku melawan dengan caraku. Kutinggalkan segala terapi yang menyakitkan. Yang ingin kulakukan saat ini adalah berbahagia. Aku berikan cinta pada orang yang kucinta. Orang tuaku memberiku kelonggaran finansial tanpa batas. Mereka membebaskan aku membeli barang apapun yang kumau, sebelum kematian menjemputku. Mereka pikir aku bisa bahagia dengan cara itu?
Aku habiskan banyak uang untuk banyak hal. Aku melakukan banyak perjalanan ke tempat-tempat yang selama ini ingin kulakukan. Aku menikmati eksotisnya Bali dan Lombok, kujelajahi pedalaman Kalimantan, aku diving di Bunaken, dimana aku bertemu dengan (Raka) Cinta, yang kemudian menginspirasiku untuk membagi cinta untuk lebih banyak orang lagi, sebelum habis waktuku. Aku menyantuni tujuh anak asuh dari panti anak.
Kegiatan ini yang tak dimengerti kedua orang tuaku. Mereka pikir lebih baik uang itu untuk berobat dan mendapati kesembuhanku. Yang mereka pikir berseberangan dengan yang aku pikirkan. Aku punya terapi sendiri untuk kesembuhanku. Aku ingin memberi arti untuk orang lain, sampai habis waktuku. Mungkin saat ini tak dapat dirasakan. Tapi nanti, suatu hari, mungkin setelah habis waktuku.
Kini, setelah dua tahun dari sejak vonis itu dideklarasikan berlalu. Lalu lima tahun kemudian aku masih diberi waktu untuk membahagiakan kedua orang tuaku, memberi cinta untuk anak-anakku yang manis, juga pada Raka dan Ardhian, sahabat yang tak kuberi ijin memiliki cintaku sepenuhnya, karena aku tak ingin mereka bersedih setelah kepergianku. Aku hanya ingin mencintai dan dicintai, jangan dimiliki karena aku tak bisa memberi lebih dari yang kupunya saat ini. Dan juga, Bintang yang kucintai sepenuhnya, namun tak memberiku cinta lebih dari yang kubutuhkan …
Kini, waktuku habis. Benar-benar habis.
Ternyata tak sebegitu menakutkan dari yang kubayangkan. Aku terbaring lemah, untuk kesekian kalinya. Tapi aku tahu kali ini tak sama seperti sebelumnya. Kuharap detik merambat pelan. Tapi tanpa ampun dia berputar seperti biasanya. Kuharap luruhnya pasir waktu dapat diperlambat. Tapi mereka jatuh tertarik gravitasi bumi, seperti selayaknya. Waktu memang harus berputar. Waktuku semakin mendekat. Dan Bintang tak juga ada di sini.
Kuedarkan senyum bagi mereka yang menantiku dengan cinta. Aku tak pernah merasa cukup waktu untuk memberi cinta, walau kata mereka, sudah lebih dari cukup cinta yang kuberi.
Anak-anak berkumpul di sandingku. Mereka mengucap doa. Anita, Jingga, Kevin, Aurellia, Firman, Marcell, Rosa. Mereka menyanyi lirih. Lagu kesukaanku. “Di doa ibuku namaku disebut. Di doa ibuku kudengar ada namaku disebut.”
Cinta, Bintang kecilku, bersanding disebelah papa. Jauh-jauh dia datang dari Manado, hanya untuk mengantarku pergi di hari terakhirku.
Ardhian, satu-satunya pria yang mampu bertahan untuk mengerti segala sepak terjangku yang tak mudah dimengerti, bahkan oleh kedua orang tuaku. Ardhian berdiri merangkul bahu mama yang turun naik menahan tangis.
Please, don’t cry. It’s my time now to go. Masih banyak cinta yang ingin kuberi, tapi detik merayap mencipta waktu. Gelas pasir sudah hampir tersisa separuhnya. Waktuku sudah mendekat. Dan tak juga ada dia disini.
B I N T A N G !
Aku inginkan dia ada di sini. Hanya dia. Ingin aku pergi setelah melihatnya. Andaikan aku masih punya waktu …
Hari ini, aku harus pergi.

SATU HARI SETELAH HARi iNi.
Aku melihat mereka berdiri dalam diam.
Raka menggenggam seikat bunga lili putih dengan kelopak yang menyerupai bintang, kesukaanku. Dia meletakkannya di atas gundukan tanah basah. “Untuk bintang terindahku. Akan kujaga bintang kecil yang kau titipkan padaku agar tak pernah meredup sinarnya.”
Terima kasih, Cin.

Ardhian berdiri mematung. Aku bisa merasakan gejolak hatinya. “Lest, sebelum ini aku tak mengerti mengapa begitu betah kamu memandang langit melihat bintang. Setelah ini, aku jadi mengerti, dan aku akan sering menatap langit untuk mencari kamu diantara ribuan bintang yang berserak.”
Terima kasih, Ard. Kamu selalu ada untuk mengerti aku. Terima kasih untuk tetap bertahan selama ini untukku.

Bintang berdiri satu langkah di depan teman-teman satu bandnya. Andre. Katrina. Teguh. Dimas. Agung.
“Maafkan aku tak bisa mencintaimu, sampai detik terakhirmu membutuhkan hadirku. Aku menyayangimu, sampai kapanpun, kamu selalu ada dihatiku.”
Bintang, … Bintang, mengapa baru sekarang kau datang untukku? Mengapa setelah habis waktuku? Mengapa tak kau rundukkan hatimu untuk menyentuhku? Terlalu tingggi kau berada di angkasa sulit kugapai. Bahkan hingga kini aku berada di atas angkasa, tak juga mampu kuraih hatimu.

Kembali aku pada sendiriku.
Melayang pada sepi ruang kosong ilusi.
Menemui kesepian tempat aku selalu tersesat.
Bintang selatan, di langitku yang kelam.
Sementara diriku berada di utara, tak terjeda.
Cahya bintangku, tak redup berbinar.
Di jeda persimpangan bimbang.
Menghantarku pada jiwa mengembara, merana lengang.
Kembali aku pada sendiriku.
Berkelana dalam angkasa raya ruang kosongku.

Dijemput inspirasi dalam perjalanan diponegoro – prayudan,
02 Desember 2005

Leave a Comment

Previous post: Lebih Mudah Memadamkan Matahari

Next post: Gelato