<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>serpih serpih serpih serpih</title>
	<atom:link href="http://serpih.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serpih.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Mar 2010 09:43:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Namanya Rangga</title>
		<link>http://serpih.com/namanya-rangga/</link>
		<comments>http://serpih.com/namanya-rangga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 04:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Species Manusia &#8211; which one are you ?
Sejak Vin menyatakan ketidaksukaannya pada hubunganku dengan Raka, uhm &#8230; lebih tepatnya, pada perasaanku untuk Raka. Aku tak pernah punya pacar. Aku tidak mencari pacar karena aku sudah menemukan sosok yang tepat pada Raka. Sudah kubilang, Renata tidak mencari cinta. Aku menunggu cinta Raka jatuh padaku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Species Manusia &#8211; which one are you ?</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-466" title="R" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/R.gif" alt="R" width="137" height="123" />Sejak Vin menyatakan ketidaksukaannya pada hubunganku dengan Raka, uhm &#8230; lebih tepatnya, pada perasaanku untuk Raka. Aku tak pernah punya pacar. Aku tidak mencari pacar karena aku sudah menemukan sosok yang tepat pada Raka. Sudah kubilang, Renata tidak mencari cinta. Aku menunggu cinta Raka jatuh padaku. Walaupun Vin masih terus menanamkan doktrin untuk meyakinkanku bahwa Raka bukan orang yang tepat untukku sebagai pacar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka memang memiliki segala yang diinginkan seorang perempuan. Wajah tampan. Kemapanan, oh well, maksudku materi. Dan ketenaran. Tapi dia bukan orang yang  tepat untukmu hidup bersama, Ren. Aku bilang ini karena aku sayang kamu,” cerocos Vin melancarkan serangan doktrinnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Yeach. Dan setelah ini pasti tentang Raka yang &#8230;<span id="more-464"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka tuh dikelilingi banyak perempuan. Cantik. Seksi. Mungkin, mau saja dibawa sana sini. Dan, aku nggak mau kamu jadi perempuan yang ada di posisi itu. Lagian, aneh aja kalau dia nggak tertarik dengan satu diantara mereka. Kamu nggak ngerasa aneh?” tanya Vin dengan tatapan tanpa minta jawaban.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dia sudah tau jawabanku – tak ada yang aneh dengan Raka – lalu, Vin akan melanjutkan dengan kalimat &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Renata dan Rachel, katamu?! Itu yang membuat Raka masih bertahan sendiri? Bilang, aku yang bodoh atau apa. Kamu tahu bagaimana hubunganku dengan Simon. Aku tahu banget dunia orang-orang macam Raka dan Simon. Tak jauh dari minum, perempuan, dan freeseks. Jadi, kalau kamu yakin Raka nggak melakukan itu, pasti hanya masalah WAKTU. Kamu tidak tahu, atau entah, tidak mau tahu. Aku bilang ini karena aku sayang kamu, Ren. Jatuh bangun aku menjadi pacar Simon. Aku bisa kuat. Aku mampu bertahan. Bukannya aku meragukan kamu. Aku hanya menyayangkan kamu, Ren. Kamu bisa dapatkan yang lebih dari Raka. Dan semua pria itu ada di luar sana. Kamu hanya tinggal &#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Tinggal membuka mata dan hati, and then just grab one of that hot hunks,” sahutku cepat. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Hapal dengan kalimat Vin tentang nasehat <strong>– CARI – PACAR – SELAIN – RAKA – DIA – BUKAN – ORANG – YANG – TEPAT – BUAT – KAMU !!!</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, Vin bilang ini karena &#8230;,” timpal May, si guru les piano itu menambahi, semakin menyudutkanku sebagai seorang murid SD yang ketahuan nyontek dan diwajibkan menuliskan kalimat  SAYA – TIDAK – AKAN –MENYONTEK sebanyak 1000X.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya – ya – ya, karena kalian sayang ma gue kan. I know. Tapi, hatiku nggak mau tahu. Hanya Raka. Raka saja. Titik,” aku keras kepala.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sudah lebih dari lima tahun, Ren. Get real. Kamu cinta mati pada Raka. Lalu, apa yang Raka lakukan? Nothing! Wake up, wake, Sleeping Beauty !!!” gemas Vin.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lalu percakapan panjang yang tidak mengenakkan ini SELALU berakhir dengan desah nafas tidak puas dari Vin dan May. Entah kapan lagi di saat yang mereka pikir tepat untuk melancarkan nasehat itu – tentang tidak pantasnya Raka untukku – kembali aku akan dengar kalimat panjang Vin yang didukung May.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, aku tidak memaksamu, tapi aku ingin kamu mencoba sekaliiii ini aja. Sekali ini aja Ren, please. Aku dan Vin nggak akan maksa kalau kamu memang nggak cocok. Tapi setidaknya kamu menghargai usaha aku dan Vin.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menatap May malas. Selalu menyisakan aura yang sesak setiap bicara tentang Raka kubu perlawanan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku punya kandidat yang oke buat kamu. High quality jomblo, satu divisi sama Bang Erwin. Orangnya baik. Goodlooking. Lovely. Kamu nggak harus langsung jadi pacar deh. Setidaknya kita bisa pergi berenam. Nggak enak terus-terusan pergi berlima dengan kamu tanpa pasangan,” jelas May pelan-pelan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lagian, Raka toh nggak pernah mau jalan sama kita, Ren. Kalau kamu terus mempertahankan dia, kayaknya nggak worthed banget karena toh Raka nggak berusaha ngehargain usaha kamu,” Vin menyahut dengan kalimat yang lumayan pedas ditelingaku. Dan sayangnya, kalimat Vin terasa benar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Vin,” potong May mencoba menyelamatkan perang dingin antara aku dan Vin.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku bahkan nggak yakin Raka punya perasaan yang sama dengan kamu, Ren. Cowok, kalau punya rasa sama perempuan, pasti akan fight. Kalau dia adem ayem, perlu dipertanyakan,” tambah Vin lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Vin,” sergah May lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lalu, bagaimana kalau yang punya RASA itu si perempuan, Vin? Aku punya cinta buat Raka. CINTA, Vin! Dan aku mau fight untuk cintaku buat Raka. Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri, Vin? Sudah jelas Simon hobi selingkuh dibelakang kamu, bahkan mungkin, di depan kamu. Tapi apa? Kamu toh tetap fight. Karena kamu cinta dia.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“INI JELAS BEDA!!!” Vin berang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, please. Vin, peace!!!” May menjadi penengah. Tumben. Biasanya May yang paling jayus dan nggak pedulian. May punya rencana besar. Pasti berkaitan dengan keyakinannya yang super pede. “Sekali ini aja kita coba. Nothing to lose, Ren, Vin.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku dan Vin diam. Aku yakin, Vin juga sama denganku, tak mau bertengkar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Namanya Rangga,” sahut May pendek.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-467" title="Random" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/Random.jpg" alt="Random" width="159" height="159" /></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Yang terjadi kemudian adalah aku dan Rangga jadian. Entah bagaimana awalnya, aku hanya mengiyakan saja untuk menjalani skenario May untukku dan Rangga. Lagipula, mungkin benar mereka bilang, nggak ada salahnya aku dekat dengan Rangga. Toh Rangga baik, sopan, dan bermasa depan cerah. Satu hal yang kupikir menjadi masalah terbesarku dengan hubunganku dan Rangga adalah, aku masih mencintai Raka. Masih sangat mencintai dia &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lepas dari perasaan suka tidak sukaku pada Rangga, kenyataannya Raka menjauh dariku. Entah karena pernyataanku waktu itu, atau karena memang kesibukan Raka, aku tak pernah lagi bisa berhubungan dengan Raka. SMSku dijawab seadanya. Teleponku tak pernah diangkatnya. Sibuk, mungkin (<em>sebenarnya pernyataan ini hanya untuk melegakan hatiku saja</em>). Sejauh ini, aku mengikuti kabar Raka hanya dari media yang mengulik tentang perjalanan karier seorang bintang baru. Raka Ardian. Jadi, waktu itu di Diamond Cafe, hari pertama aku kenal dengan Long Island, Raka mendapatkan jalan lebar ke arah dunia industri musik dari dua orang yang ditemuinya malam itu. Hhhhgghhh &#8230; Pf for you, Bro!!!</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/namanya-rangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Species Manusia &#8211; which one are you ?</title>
		<link>http://serpih.com/species-manusia-which-one-are-you/</link>
		<comments>http://serpih.com/species-manusia-which-one-are-you/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 04:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Sahabat Berani Mati

Persahabatanku dengan May dan Vin bukan untuk berbagi hal-hal yang menyenangkan saja. Vin berpacaran dengan Simon sejak lulus kuliah. Simon, anak pengusaha kayu lapis di daerah Jawa Timur. Hubungan cinta Vin dan Simon membuat aku dan May merumuskan satu hal yang sampai saat ini masih kami yakini :
Seorang anak yang datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Sahabat Berani Mati</em></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-458" title="persahabatan" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/persahabatan.jpg" alt="persahabatan" width="142" height="106" />Persahabatanku dengan May dan Vin bukan untuk berbagi hal-hal yang menyenangkan saja. Vin berpacaran dengan Simon sejak lulus kuliah. Simon, anak pengusaha kayu lapis di daerah Jawa Timur. Hubungan cinta Vin dan Simon membuat aku dan May merumuskan satu hal yang sampai saat ini masih kami yakini :<span id="more-457"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Seorang anak yang datang dari keluarga kaya, SUDAH SEPANTASNYA memiliki pasangan seorang anak keluarga kaya juga, lalu mereka menikah dan berketurunan untuk meneruskan jaringan bisnis mereka. In my words, ada beberapa spesies manusia dalam dunia ini. Aku menyadari sebagai <strong><em>SOLITAIRE SPECIES</em></strong>, May sebagai <strong><em>SURVIVOR SPECIES</em></strong>, dan Vin sebagai <strong><em>LUCKY SPECIES</em></strong>. Simon berasal dari spesies yang sama dengan Vin. Mereka sudah selayaknya menikah dan menelorkan spesies-spesies keturunan untuk memperluas komunitas spesies mereka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Perbedaan spesies ini bukan berarti kami tak dapat hidup berdampingan. Buktinya, ketika Vin jatuh dalam narkoba, spesies survivor dan solitaire seperti aku dan May ada buat dia. Waktu keluarganya sudah putus asa dan menyerahkan Vin pada panti rehabilitasi, kami sangat tahu bukan itu yang diingankan Vin, akhirnya toh ada May dan Ren yang mendampingi Vin selama masa perawatannya di rumah. Hal ini terjadi pada waktu pertama kalinya Simon berselingkuh dari Vin. Jadi, ketika ternyata kami menyadari bahwa SELINGKUH adalah salah satu ‘kebutuhan’ Simon, aku dan May cukup kawatir juga bila bencana itu datang lagi. Tapi ternyata, tanpa kami sadari, Vin sangat menghargai persahabatan kami bertiga, jadi Vin belajar pada spesies survivor seperti May untuk tetap bertahan tidak tergelincir ke dunia narkoba untuk kedua kalinya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-461" title="friendship" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/friendship1.png" alt="friendship" width="173" height="114" />Dari May aku belajar tentang definisi kecantikan. Diantara kami bertiga, Vin yang paling cantik (<em>aku yakin mood Tuhan pasti lagi bagus-bagusnya waktu nyiptain Vin – she’s drop dead beautiful</em> !). Dan May yang paling ‘jelek’. Proporsi tubuh May yang 155 – 42 membuatnya terlihat mungil diantara aku yang 165 – 48 dan Vin yang 171 – 55. Wajah May pun biasa-biasa saja. Kecantikan May muncul karena kepercayaan dirinya yang luar biasa. Dengan tubuh mungilnya, May betul-betul menjadi magnet dimana-mana. Kemampuan diplomasinya, semangat juangnya, dan pembawaan diri yang sangat wibawa menjadikan May seseorang yang bukan biasa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sebenarnya, kalau boleh minder (boleh nggak siy?!), akulah yang paling biasa diantara trio kami. Aku bukanlah apa-apa dibandingkan May dengan kekuatan kepercayaan dirinya dan Vin dengan kecantikan given-nya. Wajahku tak bisa dibilang jelek, tapi juga nggak cantik-cantik banget. Kata May dan Vin, aku punya mata yang indah. Besar dan bulat, sayang agak tersamar karena kacamata minus-2-ku (<em>dan nggak tertolong dengan soft-lens karena aku alergi dengan lensa</em>). Aku punya tulang pipi yang bagus, kokoh tapi memancarkan kesan eksotis (<em>yang kadang malah bikin aku ngerasa kayak laki-laki</em>). Bibirku sempurna. Aku juga punya rambut yang hitam dan lebat. Dua hal yang membuatku tidak pede adalah jidat jenongku (<em>yang membuat Djati bahagia memanggilku dengan panggilan sayangnya : NONG</em> !) dan gigi tak rataku (<em>dulu Djati punya panggilan sayang kedua setelah NONG : GITARA </em>– singkatan dari <strong>GI</strong>gi <strong>TA</strong>k <strong>RA</strong>ta.) Kini aku bisa memperbaiki gitaraku dengan treatment kawat gigi, tapi kan tidak bisa memperbaiki kondisi jenongku (<em>memangnya mau operasi perampingan jidat jenong? Please deh &#8230; </em>)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/species-manusia-which-one-are-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Berani Mati</title>
		<link>http://serpih.com/sahabat-berani-mati/</link>
		<comments>http://serpih.com/sahabat-berani-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 08:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Does Beauty Still Rule ?
Vincentia Machri a.k.a Vin.
Mayang Kustanti a.k.a May.
Ken Djati Maulana Nugroho a.k.a Djati a.k.a Djay a.k.a Jay.
Aku sudah bersahabat dengan ketiganya sejak SMA. Vin dan Djati berasal dari keluarga yang kaya, sangat sangat sangat kaya, untuk ukuran Jogja. Selama sekolah, Djati tinggal di Jogja, sementara kedua orang tuanya tinggal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Does Beauty Still Rule ?</em></span></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">Vincentia Machri a.k.a Vin.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">Mayang Kustanti a.k.a May.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">Ken Djati Maulana Nugroho a.k.a Djati a.k.a Djay a.k.a Jay.</span></strong></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-453" title="4" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/4.jpg" alt="4" width="167" height="111" />Aku sudah bersahabat dengan ketiganya sejak SMA. Vin dan Djati berasal dari keluarga yang kaya, sangat sangat sangat kaya, untuk ukuran Jogja. Selama sekolah, Djati tinggal di Jogja, sementara kedua orang tuanya tinggal di Jakarta. Setelah lulus SMA, Djati kuliah dan bekerja di Jakarta, malah orang tuanya tinggal di Jogja menikmati masa tuanya. Mama Djati memberikan gen dominan untuk Djati. Wajah lembutnya, sifat baiknya, termasuk penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Bengek. Tapi karena sakitnya itulah Djati ketemu jodohnya. Siska, si perawat seksi yang menjadi perawat tetap keluarga Djati.<span id="more-452"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Vin anak tunggal pemilik jaringan bisnis kue, supermarket dan elektronik yang terkenal di Jogja.  Vin yang tertua diantara kami dan menganggap kami adalah adik-adiknya. Di rumah Vin hanya dengan beberapa pembantu, dan seekor Retriever betinanya dengan nama SIMON (waktu Retriever cakep itu jadi bagian hidup Vin, Simon masih jadi cowok incaran Vin, belum berstatus pacar. Itu alasan Vin memberi nama SIMON – even it’s female).</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku dan Mayang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Kedua orang tua Mayang guru SMP yang meninggal dini karena sakit ketika Mayang dan Markus, satu-satunya adik laki-lakinya, masih kecil. Dengan berbekal uang pensiun orang tua, Mayang yang jago musik membuka les piano dirumahnya. Mayang juga menambah penghasilan dengan menjadi wedding singer sejak SMA. Dimataku, Mayang mematahkan pendapat bahwa tidak semua orang hidup enak (mengingat dua sahabatku begitu beruntung lahir sebagai manusia dengan penampilan fisik cantik / ganteng dan keluarga kaya raya). Mayang adalah sahabat sekaligus role modelku untuk survive menghadapi hidup.*)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Keluargaku juga biasa-biasa saja. Widjaya Jatmika, ayahku, meninggal waktu aku berusia delapan tahun, meninggalkan ibu, aku, dan mbak Femmy, satu-satunya kakak perempuanku. Setahun kemudian ibu menikah lagi dengan Om Sus, seorang duda cerai mati dengan satu anak. Mas Restu lebih tua satu tahun dari Mbak Femmy, sementara selisih usia aku dengan Mbak Femmy cukup banyak, delapan tahun.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Usia yang sangat dini membuatku sulit menerima kenyataan antara – kepergian ayah – pernikahan ibu – keluarga baru. Perubahan ini membuatku berkembang menjadi pribadi yang pemurung, penyendiri, dan sulit dimengerti. Kalau dalam teori disebutkan, manusia adalah makhluk sosial, maka aku berkembang menjadi seorang makhluk sosial yang <strong><em>solitaire</em>.</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pribadi solitaire-ku cukup merepotkan ibu. Hanya aku satu-satunya anak yang tetap memanggil ibu dengan panggilan IBU, bukan mama, dan memanggil ayah baruku, Om Sus, bukan papa. Perselisihan ini berlangsung terus sampai aku lulus kuliah. Selama itu berganti-ganti anggota keluarga menjadi penjinak seorang Ren Solitaire. Kalau lagi beda pendapat sama Ibu, Mbak Femmy dan Mas Restu penengahnya. Kalau lagi ngambek sama Om Sus, Ibu yang merengkuh. Kalau lagi ngiri sama Mbak Femmy dan Mas Restu (seringnya sih iri sama Mbak Femmy karena kami sama-sama cewek), Ibu juga yang jadi pendamai. Sebenarnya aku tak pernah memusuhi Om Sus, tapi dimataku, sejak kecil dan terbentuk hingga aku dewasa, bahwa Om Sus perebut hati Ibu dari Ayah. Jadi, aku tak pernah berusaha dekat dengan Om Sus.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dibalik itu semua, sebenarnya aku sangat menyayangi keluargaku. Aku hanya rindu pada ayah. Kebutuhan akan kehadiran dan kasih sayang ayah yang kurasakan masih sangat kurang (walaupun sebenarnya Om Sus juga sangat menyayangi aku). Namun tindakan penolakanku tidak aku lakukan dengan sikap destruktif. Catat : aku hanya tidak bisa menerima sikap ibu yang menikah dalam jarak waktu HANYA satu tahun setelah kepergian ayah (<em>yang walaupun pada akhirnya aku bisa memahami bahwa memang dalam hidupnya ibu masih membutuhkan seorang laki-laki untuk sosok ayah bagi anak-anaknya, dan pendamping hidup pemimpin keluarganya. Dan well, sayangnya, Om Sus sosok ayah dan suami yang baik, sehingga aku tak punya denial yang tepat untuk memusuhi Om Sus</em>).</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tetap tumbuh sebagai anak yang berprestasi. Anehnya, aku mendedikasikan prestasi-prestasi hidupku untuk ayah. Buatku, ayah masih selalu nyata dalam hidupku. Dari sejak SD sampai SMA aku selalu masuk tiga besar. Kuliahpun aku diterima di PTN terkenal dan lulus dini karena prestasi. Jadi, in my defense, sebagai seorang anak, aku cukup membanggakan, bukan? Walaupun aku tumbuh menjadi anak yang sulit dimengerti, penyendiri, dan satu kata yang tepat adalah : SOLITAIRE.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Selesai kuliah, aku bekerja di Pinastika Corporation (PinCorp) yang bergerak di bidang finance. Satu tahun bekerja, aku mengambil kredit rumah. Sebuah keputusan yang cukup kontroversial dan menjadi pertentangan keluargaku. Lagi-lagi, Mbak Femmy dan Mas Restu berada di belakangku untuk mendukung keputusanku. Waktu itu Mas Restu sudah menikah dan punya anak satu, tinggal di Kalasan, Jogja. Mbak Femmy menikah, belum punya anak, tinggal di Indraprasta, Semarang. Yang menjadi pertentangan adalah, aku masih single, tidak punya pacar, dan membeli rumah di daerah Karangwuni, Jogja.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ibu dan Om Sus menyayangkan keputusanku membeli rumah padahal masih ada orang tua yang tinggal di Jogja, di kota yang sama dengan tempat aku tinggal saat ini. Sementara, Mbak Femmy dan Mas Restu memahami ‘keanehan’ku selama ini. Jadi, kekuatan cukup sebanding, dua lawan dua. Akhirnya, atas nama cinta, ibu dan Om Sus memberiku ijin untuk tinggal di Karangwuni. In my defense, nothing to lose, semua biaya hidup toh menjadi tanggunganku pribadi, sekaligus aku belajar mandiri untuk mengatur finansial hidupku. Dari semua alasanku memilih hidup sendiri hanyalah satu : aku ingin menikmati dan menjalani menjadi seorang Ren, pribadi yang solitaire. (<em>Dari hidup sendiri ini pula akhirnya aku menyadari bahwa ternyata ada banyak spesies-spesies manusia yang belum pernah terdefinisi sebelumnya – yang akan kuceritakan nanti.</em>)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dirumah inipun aku tak pernah sendiri. Yang tadinya tempat nongkrong resmi adalah kamar Vin, sekarang berpindah ke rumah mungilku. May dan Vin sering datang kerumah. Kadang nginap di sini, terutama malam minggu. Vin bekerja sebagai team marketing sebuah bank swasta (<em>sebenarnya dengan kondisi keuangan yang demikian, Vin tak perlu bekerja – jadi Vin bekerja hanya untuk kesibukan saja</em>). May yang masih membuka les piano, dan wedding singer, membuka warung makan bersama Markus, adiknya. Aku, yang sejak tinggal di Karangwuni senang bereksperimen dengan menu-menu baru, menjadi teman diskusi yang asyik dengan Mayang untuk memperkaya menu di warung miliknya.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-454" title="empat sahabat" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/empat-sahabat.JPG" alt="empat sahabat" width="241" height="195" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/sahabat-berani-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Does Beauty Still Rule ?</title>
		<link>http://serpih.com/does-beauty-still-rule/</link>
		<comments>http://serpih.com/does-beauty-still-rule/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 03:41:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Jangan Bicara Tentang Cinta
KARANGWUNI, Jogja. Setahun setelahnya &#8230;

 
PINDANG BERANI MATI *)
Bahan :
-         1 ekor ikan kakap, siangi, potong-potong
-         2 sendok makan air jeruk nipis + garam secukupnya
-         3 ruas jari kunyit, kupas, bakar, parut
-         3 ruas jari jahe, bakar, iris tipis
-         6 buah bawang merah, bakar, potong kasar
-         3 buah cabai merah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Jangan Bicara Tentang Cinta</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>KARANGWUNI, Jogja. <em>Setahun setelahnya &#8230;</em></strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><strong><img class="aligncenter" title="beautiful" src="../wp-content/uploads/2010/03/beautiful.jpg" alt="beautiful" width="138" height="260" /></strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>PINDANG BERANI MATI *)</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bahan :</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 ekor ikan kakap, siangi, potong-potong</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         2 sendok makan air jeruk nipis + garam secukupnya</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 ruas jari kunyit, kupas, bakar, parut</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 ruas jari jahe, bakar, iris tipis</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         6 buah bawang merah, bakar, potong kasar</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 buah cabai merah, bakar, belah 4 bagian</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         15 buah cabai rawit merah dan hijau utuh</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 buah tomat hijau, belah dua</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         50 cc air asam jawa</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 sendok teh garam</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 liter air</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 batang daun bawang, potong kasar</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“May, ambil nangka dan alpokat yang ada di kulkas, nangka dipotong-potong, buah alpokat dikeruk, terus kelapa muda yang udah aku siapkan tinggal dikeruk dagingnya, siapin di mangkuk yang ada di sebelah kiri itu. Please,” pintaku pada Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sirup mocca, vanili dan susu cairnya sekalian disiapin, Ren?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, iya iya, ada di kulkas semua deh.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Cara buat :</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Lumuri ikan dengan air jeruk nipis dan garam. Diamkan 15 menit. Sisihkan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Didihkan air. Masukkan semua bahan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Setelah hampir mendidih, masukkan ikan pindang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Aduk perlahan, masak sampai mendidih.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“<strong>Es Tropikana*) </strong>ya, Ren? Wah, cocok niy!” Mayang mengamat-amati bahan-bahan yang ada dihadapannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Yup! Es Tropikana buat desertnya. Main coursenya Pindang Berani Mati, untuk dua sahabat berani matiku!”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mayang tertawa kecil. Dia suka dengan sebutan sahabat berani mati yang kami cipta dulu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Gelas rampingnya ada di lemari sebelah kanan, May. Tuang campuran susu. Masukkan semua buah. Pecahin es batu, atau kalau nggak mau terlalu dingin, nggak usah pake es serut tapi masukkin aja ke kulkas. Sip?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sip! Duh, Vin mana siy?” Mayang melongok-longok ke ruang tengah dimana Vin sedang bebaringan sambil baca buku. “Viiin, lo mau Tropikananya pake es SERUT apa dingin aja masukkin kulkas?” teriak Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Bikin dua buat aku! Satu pakai es langsung mau diminum, satu lagi masukin kulkas buat entaran abis makan.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Payah, nggak bantuin bikin maunya dobel. Nggak bisa! Nggak ada porsi dobel,” omel Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Bisa kok, May, kalau lo nyiapin bahannya sesuai catatan aku disitu, bisa cukup buat lima porsi. Tenang aja, lo juga boleh dobel,” kataku menengahi.<br />
</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;">Bahan :</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 kaleng leci</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         100 gram nangka, potong-potong</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 buah alpokat, ambil isinya</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 buah kelapa muda, ambil dagingnya</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         300 cc susu cair + 50 cc sirup vanili, campur jadi satu</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         50 cc sirup mocca</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         es batu secukupnya</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, lo udah baca <strong>BEAUTY CASE *) </strong>belum?” tiba-tiba Vin nimbrung di dapur sambil menggamit buku lumayan tebal dengan cover warna permen.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, jelas udah dong! Kenapa?” aku mengernyit heran menatap wajah cantik Vin – dan tentu saja pertanyaan nggak jelasnya. Toh buku itu dia ambil dari rak bukuku. Dan semua buku yang ada di rak bukuku sudah ludes aku baca. Bahkan ada beberapa yang kubaca lebih dari sekali.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, wah baunya Pindang Berani Mati lo seddeeep banget deh!” Mayang menyela. “Kenapa siy namanya <strong>PINDANG BERANI MATI *) </strong>???” heran Mayang nggak penting.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Soalnya pindang ini berani mati demi kenikmatan perut kita,” jawabku asal.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mayang terkekeh mendengar jawaban asalku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, define beauty, menurut lo?” tanya Vin lagi sambil mengambil tempat duduk di atas meja sebelah tempat Mayang menata racikan Tropikana, yang tentu membuat Mayang uring-uringan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Beauty?” aku mengedik, nggak konsen, perhatianku pada kepulan kuah mendidih di penggorengan dan aroma sedap yang menusuk-nusuk hidung.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Menurut lo apa, May?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mayang terkekeh ringan. “Kamu, nanya Mayang, apa definisi kecantikan? Yang pasti bukan fisik deh! Lo lihat lah sejauh mana kecantikan seorang Mayang. I am not beautiful, phisically, then I found my beauty in my inner. My great confidence makes me beautiful.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Okay, jadi menurut lo, kecantikan itu seberapa besar kita pede,” Vin ngangguk-angguk.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kurang lebih begitu, tapi kalau dirumuskan begini nih : kecantikan bukanlah terletak pada penampilan fisik, tapi rasa percaya yang ada dalam diri kita akan memunculkan kecantikan dari dalam. See?” jelas Mayang sok penting banget.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kalau menurut lo, Ren?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kenapa sih tiba-tiba ngomongin tentang kecantikan?” aku balas membalik dengan pertanyaan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Menurut lo semua, gue cantik nggak siy?” tanya Vin nggak pede.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“VIIIIN? LOOOO? CANTIIIIK?” jawab aku dan Mayang spontan, hampir berbarengan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Vin terkikik geli mendapati reaksi aku dan Mayang yang berlebihan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo tuh cantiiiiiik banget, Bu!” kataku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kalau lo nggak cantik, terus aku apa dong?” geli Mayang. “Cuma orang buta aja yang bilang lo tu nggak cantik,” tambah Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Dan Simon tu buta kalau lagi-lagi dia berselingkuh,” sungutku sambil mengangkat masakan dan menempatkannya di mangkuk kuah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kok lo tahu kalau Simon selingkuh lagi?” tanya Vin lugu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“AGAIIIIIIN?” aku dan Mayang – lagi-lagi – hampir berbarengan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku tahu Ren cuma nebak kok. Kan emang udah sering begitu. Lo tu jadi nggak cantik gara-gara kebodohan lo mempertahankan hubungan lo sama Simon yang nggak sehat,” kata Mayang gemas.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Menurut lo, gue cantik karena apa?” tanya Vin masih nggak pede.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Karena lo tu emang cantik dari lahirnya, Bu. Bukan melulu karena lo lahir <em>brojol</em> dari keluarga kaya yang pastinya bisa merawat tubuh lo di salon-salon mahal. Itu iya juga siy,” selingku dengan tawa sekaligus menyesali betapa tidak adilnya duniaku dibandingkan dunia Vin. “Lo tu punya semuanya, Vin. Cantik fisik, cantik hati, cantik semuanya deh. Satu hal yang menyesalkan, kamu masih bertahan dengan CINTA Simon yang selalu nyakitin kamu, tapi karena sikap survive kamu itupun, menurutku, mempercantik kepribadian kamu.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo lagi baca buku tentang kecantikan ya?” May mencuri lihat judul di cover permen.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo belum baca, May?” tanyaku heran. BEAUTY CASE termasuk salah satu buku yang kubaca lebih dari sekali. Menurutku, ini buku ringan yang lumayan penting buat dibaca semua cewek (dan cowok juga) karena isinya yang penting banget buat cewek, dan cukup bikin aku berpikir apa siy definisi kecantikan? Aku bahkan nyaris hapal definisi kecantikan di BEAUTY CASE.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Beberapa pandangan cowok tentang kecantikan :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah seksi.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah cewek berbadan ramping, kulit putih, berambut panjang, berkelakuan manis.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah relatif dan jelek adalah absolut J</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #993300;">Kecantikan menurut Icha Rahmanti (Beauty Case – Define Beauty) :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah masalah asosiasi, aturan tak tertulis di kepala yang akhirnya mendeskripsikan kecantikan itu sendiri.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah masalah form &amp; order ; semakin cantik seseorang maka semakin simetris antara muka kanan dan kirinya.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah relatif, berhubungan dengan faktor psikologis yang rumit dan perasaan adalah penyebabnya.</span></li>
</ol>
<h2><span style="color: #993300;">See?</span></h2>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-450" title="beauty" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/beauty.png" alt="beauty" width="73" height="87" />Icha mewakili pandangan cewek, toh sama juga dengan pandangan cowok. Kecantikan itu RELATIF. Hal ini terjadi karena kompleksitas perasaan dan pengalaman hidup manusia. Manusia yang tumbuh dalam kasih sayang ibunya akan mengartikan cantik itu seperti ibunya. Atau sebaliknya. Pokoknya kompleks banget deh, menurutku siy, dan kayanya banyak yang mengiyakan deh. *)<br />
</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em>Everyday is so wonderful </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>And suddenly it’s hard to breath</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Now and then I get insecure </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>From all the fame, I’m so ashamed</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>I am beautiful no matter what they say</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Words can’t bring me down</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Am beautiful in every single way</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Yes, words can’t bring me down</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>So don’t you bring me down today</em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">Beautiful-nya Christina mengalun lembut dari sound di ruang tengah. Pas banget dengan obrolan pendek sambil menyiapkan menu makan siang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pindang Berani Mati untuk dua sahabat berani matiku,” aku menghidangkan menu spesial di meja makan. Tak lagi memusingkan definisi cantik. Mayang mengikuti langkah dibelakangku dengan senampan berisi 5 gelas Es Tropikana. Semua diberi topping es serut dan buah cherry.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kami makan dalam diam. Namun dalam keterdiamanku, (ternyata) aku (masih) berpikir tentang kecantikan dan kroni-kroninya.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/does-beauty-still-rule/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Bicara Tentang Cinta !!!</title>
		<link>http://serpih.com/jangan-bicara-tentang-cinta/</link>
		<comments>http://serpih.com/jangan-bicara-tentang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 03:11:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Purest Pain

Yang kutahu kemudian adalah : aku tak terlalu beruntung urusan cinta. Sesaat setelah aku menyatakan cintaku buat Raka. Setelah pelukan – dan tatapan tajam teduhnya – itu, lalu dijawab dengan : JANGAN BICARA TENTANG CINTA.
Analisaku adalah : Raka masih sangat mencintai Rachel. Dan Rena kecilnya. Dan tak ingin siapapun bicara cinta. Walau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Purest Pain</em></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-441" title="Jangan Bicara Cinta" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/Jangan-Bicara-Cinta.jpg" alt="Jangan Bicara Cinta" width="184" height="275" />Yang kutahu kemudian adalah : aku tak terlalu beruntung urusan cinta. Sesaat setelah aku menyatakan cintaku buat Raka. Setelah pelukan – dan tatapan tajam teduhnya – itu, lalu dijawab dengan : JANGAN BICARA TENTANG CINTA.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Analisaku adalah : Raka masih sangat mencintai Rachel. Dan Rena kecilnya. Dan tak ingin siapapun bicara cinta. Walau hanya menyatakan perasaan cintanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Atau : Raka belum ingin membuka hubungan cinta dengan siapapun.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Atau : Raka terlalu menyayangi dan menganggap aku tak lebih dari sekedar <strong>ADIK.</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Atau : Raka tidak mencintaiku. Catat : T-I-D-A-K-M-E-N-C-I-N-T-A-I-K-U !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Hiks!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>‘Raka tuh nggak pantes buat lo, Ren.’</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku ingat kalimat Vin, salah satu pasukan beranee mateeku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Vin bilang begitu karena pacar Vin juga anak musik. Anak cafe. Simon tahu banget bagaimana Raka, karena dia juga hidup dalam dunia Raka. Dunia malam yang nggak jauh dari cewek cantik – miras – free seks. Makanya, waktu Vin tahu aku cerita tentang kedekatanku dengan Raka, plus perasaanku padanya, plus plus pernyataan cintaku padanya, dengan keras tegas lugas Vin sangat sangat sangat menentang hubunganku dengan Raka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dunia Raka emang gitu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">SWGL? So – What – Gitu – Loh?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Vin juga sering curhat-curhat tentang kesetiaan Simon yang meragukan. Pernah beberapa kali Vin <em>mergokin</em> Simon BBS – bobo bobo siang, dengan perempuan lain, setelah sebelumnya MMR – minum minum ‘ringan’. Lalu mereka bertengkar. Lalu mereka putus. Tapi nyambung lagi. Dan kejadian berlangsung lagi. (Makanya aku agak kaget – juga  May – waktu  kemudian Vin akhirnya memutuskan akan menikah dengan Simon.)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Is it all about the thirty-age or something ???</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Walau Mayang berpihak padaku soal Vin dan putus nyambungnya dengan Simon, bukan berarti Mayang memihak padaku soal Raka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu tuh nggak bisa dapatin cowok dengan kehidupan yang beda sama kamu. Maksudku, dunia kalian kan berbalik. Hidup kamu mengikuti irama matahari terbit. Bekerja dari pagi sampai sore. Dunia Raka matahari terbenam. Bekerja dari waktu sore ke pagi hari. Kalau kalian menikah nanti, jam delapan pagi lo mesti kerja, sementara suamimu, si Raka Jerk itu baru pulang dari ngafe, tidur sampai siang. Pasti kamu uring-uringan. Aku tahu banget kamu tuh orangnya organized banget. Perfect. Semuanya teratur sempurna sesuai kehendak kamu. Dan sedikit banyak, uhm banyak ‘banyak’nya siy : EGOIS, hehehe. Semua harus sesuai dengan yang kamu inginkan. Kamu akan kecapekan ngurusin orang yang akan jadi suamimu nanti dengan gaya hidup seperti Raka Jerk. Aku sayang sama kamu, makanya dari awal aku bilang sama kamu, supaya kamu enyah dari kehidupan Raka Jerk. Cari yang sama-sama orang kantoran. Punya jam kerja yang jelas. Kayak kamu. Kayak aku sama Bang Erwin.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Namanya Raka Ardian, May. Bukan Raka Jerk. Raka enggak brengsek. Raka hanya nggak mau membuka hati buat perempuan lain. Belum. Raka hanya lelah gagal dengan perempuan-perempuan sebelumku yang datang atas nama cinta. Dan cinta mereka tidak menerima Rachel dan Rena.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">And, who will get married soon, anyway?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Helllloooo &#8230; aku baru dua satu !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">BARU. Bener-bener BARU DUA SATU. Masih sembilan tahun lagi sebelum 30.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Memangnya, kenapa dengan :</span></p>
<h2><span style="color: #993300;"><strong>TIGA PULUUUUUH ???</strong></span></h2>
<p><span style="color: #993300;"><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-442" title="shut-up-face-yellow-circle-ico-thumb5273848" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/shut-up-face-yellow-circle-ico-thumb5273848.jpg" alt="shut-up-face-yellow-circle-ico-thumb5273848" width="89" height="89" /></strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Walau hanya sedikit pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan oposisi kedua sahabatku, aku tetap menyimpan cintaku buat Raka. Menyimpan rapat-rapat sebagai harta karun yang akan ditemukannya nanti pada saatnya. Segala pencarian cintaku berakhir ketika aku bertemu dengan Raka. Segala sesuatu tentang Raka terasa pas buatku. Hanya Raka seorang yang aku inginkan sebagai seorang kekasih. Tak peduli Raka dengan status duda. Tak peduli Raka tak bisa melupakan Rachel dan Rena. Aku mencintainya satu paket yang berarti juga menerima Rachel dan Rena. Aku tak peduli Raka yang punya jam hidup berlawanan dengan terbitnya matahari. Seperti takdirnya seorang pekerja seni. Hidupnya memang (sepertinya) tak punya aturan. Yah, aturan layaknya waktu buat orang kantoran. Tapi toh tak selamanya harus seperti itu??? Lagipula, apa salahnya dengan ritme yang berbeda kalau dari awal kita menyadari perbedaan itu dan menjalaninya dengan cara kita? Masalahnya adalah, Raka tak ingin bicara tentang cinta. Untuk saat ini. Aku akan menunggu. Aku tak lagi mencari. Karena aku sudah menemukan cinta yang aku cari. Aku hanya menunggu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku sadar : <strong>RAKA – HANYA – BELUM – SIAP – HIDUP – DENGAN – PEREMPUAN – LAIN – YANG – TIDAK BISA – MENERIMA – RACHEL DAN RENA. (Dan aku, bisa!!!)</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">TITIK !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>Eh, &#8230; TANDA SERU !!! !!! !!!</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-443" title="shut_up" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/shut_up.jpg" alt="shut_up" width="71" height="68" /></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/jangan-bicara-tentang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Purest Pain</title>
		<link>http://serpih.com/purest-pain/</link>
		<comments>http://serpih.com/purest-pain/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 03:03:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Diamond Cafe
Aku menangkap sesuatu yang dalaaaam banget dalam matanya. 
Sinar mata perih yang tergores muncul dari luka hati yang terdalam. Tiba-tiba aku ingin memeluknya. Kami hanya saling menatap. I can see love just the way you look at me. I can see heartache deep inside your sight. And I wanna cure your pain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Diamond Cafe</em></span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em>Aku menangkap sesuatu yang dalaaaam banget dalam matanya. </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Sinar mata perih yang tergores muncul dari luka hati yang terdalam. Tiba-tiba aku ingin memeluknya. Kami hanya saling menatap. I can see love just the way you look at me. I can see heartache deep inside your sight. And I wanna cure your pain &#8230; &#8230; &#8230; cure your purest pain &#8230;</em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;"><strong>PRINGWULUNG, </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong><em>Awal Desember di rumah kost Raka yang rapi</em></strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-438" title="brokeheart" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/brokeheart1.jpg" alt="brokeheart" width="158" height="144" />Aku jadi teringat kalimat Wilda : Raka pernah bilang enggak sih kalau dia – tiiiit – sensor. Raka pernah bilang, Wilda lumayan tahu banyak tentang masa lalunya. Sejak dulu Wilda naksir berat, tapi Raka menganggapnya nggak lebih dari teman. Jadi yang dilakukan Wilda adalah mengintimidasi dan menginterogasi cewek-cewek yang dekat dengan Raka. Termasuk aku, Renata. Buy hey, I am just his lil’sista, right? Only a sista’. Only. Yah, cuma adiknya &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Jadi ini maksud Wilda. <span id="more-434"></span>Raka pernah menikah. Tiga tahun usia pernikahan, mereka dikaruniai seorang puteri yang cantik. Malangnya, tak lama setelah melahirkan, istri Raka meninggal, bersama si kecil. Raka menamai puterinya, sesuai keinginan istri tercinta, dengan nama: RENATA. Istrinya bernama Rachel. Ketiganya berawalan huruf R. Renata. Seperti namaku. Raka nggak pernah bilang bahwa itu jadi alasan kenapa Raka sayang banget sama aku sebagai adik. Tapi aku tahu, pasti Raka punya alasan mengapa di hari pertama Raka begitu antusias saat aku menyebut namaku. Dan ingin mengenalku lebih. Pake kasih-kasih kartu nama juga. Ternyata, Raka juga mengalami pertanda-pertanda. Tapi Raka nggak pernah mendefinisikannya. Pilihan tempat dudukku yang <em>eye-catching</em> banget buat Raka. Pertanda bahwa akan ada cerita antara Renata dan Raka, karena namaku dan nama anak Raka sama.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sejak Rachel dan Renata pergi, aku lebih senang hidup menyendiri. Dalam kesendirianku aku merasakan kehadiran mereka.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku mengedarkan pandang di kamar kost Raka yang besar. Kamar lima kali empat dengan ranjang nyaman, kamar mandi dalam dan seperangkat komputer komplit buat Raka bekerja menggarap musik.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Banyak lagu-lagu yang terinspirasi dari kehadiran mereka. Uhm, kamu ngerasa aneh ya? Beberapa teman bilang aku terlalu terpaku pada masa lalu. Tapi buatku, mereka bukan masa lalu. Mereka masih hidup. Di sini. Dihatiku,” Raka menebah dadanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku nggak ngerasa aneh kok. Wajar. Bisa dipahami. Kamu pasti cinta banget sama mereka ya?” tebakku. Raka memberi seulas senyum. “Tapi bukan berarti kamu nggak pernah membuka hatimu untuk perempuan lain, Bro?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm,” Raka menerawang. “Beberapa nama pernah singgah, tapi mereka tak bisa menerima keadaanku. Yah, aku tak bisa menyalahkan mereka, Sist. Aku sebenarnya tak memaksa mereka untuk menerima kehadiran Rachel dan Rena dalam hidup mereka. Tapi saat mereka mau menerima komitmen hidup bersama denganku, mereka seharusnya bisa menerima aku apa adanya. Dengan atau tanpa Rachel dan Rena. Kenyataannya, Rachel dan Rena tak pernah lepas dari hidupku,” Raka tertawa getir. “Menerimaku berarti satu paket. Dengan Rachel dan Rena.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Well, aku menangkap sesuatu yang dalaaaam banget dalam matanya. Sinar mata perih yang tergores muncul dari luka hati yang terdalam. Tiba-tiba aku ingin memeluknya. Kami hanya saling menatap. I can see love by the way you look at me. I can see heartache deep inside your sight. And I wanna cure your pain &#8230; &#8230; &#8230; cure your purest pain &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Setelah aku cerita this part of my life. Setelah kamu tahu apa yang dimaksud Wilda dengan : KAMU BELUM TAHU SIAPA RAKA. Aku tidak memaksamu untuk tetap berada di sini, Sist. Tak dapat disangkal, aku seorang DUDA dengan MASA LALU yang tak bisa kulupakan. Dan, nggak mudah mendapatkan seseorang dengan cinta seperti yang aku harapkan. Menerimaku apa adanya. Dengan atau tanpa Rachel dan Rena.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Hey, apa salahnya siy dengan duda? Toh Raka bukan duda cerai karena selingkuh atau Rachel yang selingkuh. Hallah, apa siy. Kayak kehidupan artis yang sok penting dibahas di infotainment. Uff, kok aku jadi ngelantur ya?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Suatu saat nanti, Bro, akan ada seseorang yang menemukan cintamu. Seseorang yang mencari cinta, dan menemukan ada sebongkah cinta yang tulus yang kamu punya.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dan seseorang yang mencari cinta itu adalah AKU.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">RENATA!!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Renata mencari cinta. Dan Renata mendapatkannya!!! Pada seorang Raka &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tak tahan mengendalikan emosi dalam gelegak hatiku, aku rengkuh Raka dalam pelukku. Dalam diam Raka balas memelukku. Membelai lembut rambutku. Kami berpelukan lamaaaa sekali. I wanna cure your purest pain, Bro. Jadikan aku kekasihmu. Akan kuhalau semua luka yang mengendap lama. Raka menarik tubuhnya perlahan. Kami saling menatap lama. Aku menyusuri binar mata yang menembus ke dalam relung hatinya. Raka diam. Matanya bicara banyak. Tentang kenangan. Tentang masa lalu. Tentang harapan. Kerinduan pada Renata. Pada Rachel. Pada cinta. Tentang cinta. Cinta? Cintakah Raka padaku? Seperti cinta yang kurasakan untuknya? Seperti cinta yang kucari dan kutemukan ada padanya? Aku jatuh cinta pada Raka. Fall so deeeeep &#8230; Tiba-tiba Raka mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu, saking takutnya, berharap terlalu banyak, takut terlalu kecewa, tidak seperti yang aku bayangkan. Aku memejamkan mataku mencoba meredam harapan dalam batas kekecewaan. Menutup jendela hati dimana aku bisa mencari cinta. Dari matanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bibirku basah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lekat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lembut.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bibir kami bertaut.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">My first kiss. French kiss.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sekian detik adegan ini berlangsung, berakhir ketika aku membuka mata. Kudapati mata Raka sedang melekat padaku. Tatapan matanya yang lekat. Teduh dan tajam. Tatapan elang. I love the way you look at me. Senyumnya mengembang. I love your smile. I love the way you smile. Uff, I love all the way you do.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“I love you, Raka,” bisikku tak tertahan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka kembali memelukku erat. Membawa tubuhku dalam dekapannya. Membenamkan kepalaku dalam kehangatan hati yang kurasakan merelung pekat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Jangan bicara tentang cinta &#8230; ,” bisiknya parau.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Lagu Purest Pain mengalir satir &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-435" title="heartbreak2" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/heartbreak2.jpg" alt="heartbreak2" width="246" height="206" /></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/purest-pain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diamond Cafe</title>
		<link>http://serpih.com/diamond-cafe/</link>
		<comments>http://serpih.com/diamond-cafe/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=425</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan dari Raka, Api Cintaku !

Raka itu, &#8230; ah enggak enak ngomongnya sama kamu. 
Hati-hati dengan Raka. Kamu belum kenal dia.

Sejak itu aku dan Raka makin dekat. Janji yang kubuat di 20012001 untuk mengawali sekaligus mengakhiri dunia malam itu kandas. Aku jadi sering nongkrong di Cafe. Sama Raka dan teman-teman bandnya. Aku kenal baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan dari Raka, Api Cintaku !</em></span></p>
<blockquote>
<p align="right"><span style="color: #993300;"><em>Raka itu, &#8230; ah enggak enak ngomongnya sama kamu. </em></span></p>
<p align="right"><span style="color: #993300;"><em>Hati-hati dengan Raka. Kamu belum kenal dia.</em></span></p>
</blockquote>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-426" title="diamond" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/diamond.gif" alt="diamond" width="140" height="73" />Sejak itu aku dan Raka makin dekat. Janji yang kubuat di 20012001 untuk mengawali sekaligus mengakhiri dunia malam itu kandas. Aku jadi sering nongkrong di Cafe. Sama Raka dan teman-teman bandnya. Aku kenal baik dengan teman-teman bandnya. Nama band mereka : The Simphaty Band yang disingkat dengan SIM Band. Raka mengenalkanku sebagai adiknya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo <em>adik </em> apanya Raka sih?” tanya Wilda, satu-satunya cewek di SIM Band. Vokalis, duetnya Raka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Saudara jauh. Saudara keturunan Adam,” jawabku asal. Terkekeh. Tapi Wilda tidak tertawa. Memang dari keseluruhan personil SIM Band yang terdiri dari tujuh orang, hanya sikap Wilda yang paling enggak bersahabat. Mungkinkah Wilda naksir Raka, dan &#8230; yah you know lah. Jealousy.<span id="more-425"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sist, kamu nggak pesen minum?” tanya Raka tiba-tiba sambil merangkul bahuku. Aku sempat menangkap tatapan tajam Wilda ke arah tangan Raka yang <em>nyampir</em> di bahuku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Hmm, belum. Entar deh,” sahutku. Sekalipun aku mulai terbiasa dengan lingkungan penuh asap rokok dan alkohol ini, aku belum pernah sekalipun pesan minum kecuali mineral water dan cola. Masalahnya, satu-satunya minuman yang paling cocok di lidahku hanyalah teh panas. Tapi, masa siy mau pesan TEH PANAS ???</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Stt, jangan bilang-bilang Wilda kalau di tas merahku ada Cadbury,” bisik Raka kenceng, jadi Wilda tetap dengar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Iiiih, Raka gitu deh. Mana &#8230; mana &#8230; mana, Wilda minta cokelat!” teriak Wilda dimanja-manjain. Aku <em>empet </em>dengan sikap over-nya. Tapi Raka senyum aja nggak menggubris.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sist, aku tinggal dulu ya. Ada orang dari industri musik di sayap kiri. Doakan aku bisa ngelobi dia, ya.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ok. Good luck, Bro!” kataku manis. Bro = Brother; dia kan manggil aku ‘SIST’.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka mengacau rambutku sebelum meninggalkanku ke ‘orang industri musik’ itu. Aku menangkap kilat benci di mata Wilda yang nggak sanggup menatap ‘kemesraan’ kami secara langsung.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo tu pacarnya Raka, ya?” tembaknya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menggeleng. “Bukan.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Trus ngapain dia mesra?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mesra? Biasa aja kalee. Itu sayang, bukan mesra. Eh, tapi karena sayang dia mesra,” aku terkekeh nggak penting.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ati-ati sama Raka. Kamu belum kenal dia,” tandas Wilda pedas.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Apa pedulimu, Nenek?!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka nggak sebaik seperti kelihatannya,” hasutnya lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Oh ya?” aku nggak tertarik. Ngapain sih Nenek satu ini sirik banget. Aku pura-pura nggak dengar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka itu, &#8230; ah enggak enak ngomongnya sama kamu. Takutnya, kamu emang belum kenal-kenal banget sama dia. Soalnya gini Ren, sorry lho ya, aku udah kenal Raka lama banget, dan selama aku kenal sama dia, belum pernah aku tahu ada kamu dalam hidup Raka. Lagian, dia nggak punya adik. Dia kan anak bontot. Jadi aku masih curiga aja kamu ini siapanya Raka. Sorry lho Ren. Kalau memang kamu mau pacaran sama Raka, pikir lagi deh. Kamu bukan pacarnya Raka kan? Kalau memang belum, dengerin aku deh. Aku  tahu banget siapa Raka, dan kalau kamu enggak siap tahu siapa dia, hati-hati aja. Prepare for the worse thing,” Madam Hortensia dengan sapu terbangnya itu terus meracuni otakku dengan ramuan kata-kata sihirnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Oke deh, aku mau tanya, Raka udah cerita belum sih kalau dia –“ tambahnya lagi, lalu &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“HAAAAAAI, GALS !!!” tiba-tiba Johan, sound engineringnya SIM Band, mencairkan perang dingin antara aku dan Wilda. “Minum dulu deh, Gals!” Jo mengulurkan dua gelas ramping ke arahku dan Wilda.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Wilda mengangkat botol warna orange-nya tinggi-tinggi. Isinya mineral water. Artinya, dia bawa minum sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Buat kamu, Nona Manis,” Jo menyodorkan gelas ramping itu ke arahku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Apa ini?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lemon Squash.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sambil mengucap ‘thanks’, aku menyedotnya dari straw warna hijau cerah. Lumayan ada yang mesenin. Well, obrolan nggak penting sama Wilda tadi membuat tenggorokanku lumayan kering.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kok, ada alkoholnya ya, Jo?” aku spontan menjauhkan gelasku dari mulut.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Duh Nona Manis, kok nggak tahu siy, disini nggak ada beverages yang non alkohol, Sayang.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, really? Aku minta coke aja.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Cobain enak deh, enggak papa. Kadarnya kecil kok.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku meminumnya lagi. Uhm, memang enak siy. Segar. Aku menandaskan dengan sekali tarik. Jo dan Wilda memperhatikanku dengan senyum nyengir.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ambil aja punyaku, Ren. Aku minum ini kok!” Wilda menunjukkan botol orange-nya dan menyorongkan gelas rampingnya kehadapanku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Oke. Thanks.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Wilda, dan semua anak SIM naik panggung lagi. Aku duduk berdua dengan Jo. Raka melempar senyum dari atas panggung. I love the way he does. Raka menyanyi di panggung. Aku menikmati di bawah panggung. Di tempat aku duduk. Di dekat bar desk. Aku jadi tahu kenapa Raka dulu bilang ‘stay sit there’ karena dari tempat Raka berdiri diatas sana, aku kelihatan jelas. Lampu remang di atasku menyorot aku dengan teduh. I’m in the spot light, Dear !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Tapi, uhm, apa tadi Wilda bilang? Tiba-tiba ramuan sihir kata-kata Wilda Hortensia mulai bereaksi meracuni pikiranku. <em>Kamu belum tahu Raka, Ren – Dia nggak sebaik kelihatannya – Raka pernah bilang tentang – </em>Duh, apa ya? Penting nggak sih? Racun kata-kata Wilda merasuki darahku. Duh! Kenapa aku tiba-tiba terjangkit virus Wilda-Paranoia? Nggak penting banget !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Uhm, 1-10, Wilda = 2 !!!</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><img class="size-full wp-image-427 aligncenter" title="love" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/love.jpg" alt="love" width="141" height="157" /></span></p>
<p style="text-align: center;">
<p><span style="color: #993300;">“Euufff, capek banget, Sist!” Raka menghempaskan tubuhnya di sandingku. Satu persatu anak-anak SIM Band berkumpul di sofa tempat aku duduk.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pijat Masas, Om?” godaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka tertawa kecil sambil memukul kepalaku gemas.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Tadi aku lihat kamu ngobrol sama Wilda? Ngobrol apa aja, Sist?” tanyanya lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, tanya-tanya nggak penting.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Tanya apa? Kamu siapanya Raka, gitu?” tebaknya. Lalu, tawanya berderai.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Makanya, aku bilang, nggak penting,” sahutku cuek.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Dia selalu gitu,” Raka menggumam.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kalian pernah ada cerita ya?” aku jadi penasaran.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka menyeling dengan tawa, membuka mulutnya seperti mau mengatakan sesuatu, lalu terdiam, berpikir, dan nggak jadi menjawab.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Wilda suka sama kamu?” desakku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mungkin. Nggak tahu. Pinjem kata-kata kamu : nggak penting.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Iya siy, tadi dia nanya aku siapanya Raka. Ya aku jawab : adik, masih saudara jauh, saudara keturunan Adam, ya kan, Bro?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka tertawa renyah. Tawanya terdengar sangat enak ditelingaku. Lagi-lagi Raka mengacau rambutku. Aku suka caranya membuat rambut rapiku berantakan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku harus jawab gimana, Bro? Pacar kamu?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka menatapku serius dengan mata elangnya. Senyumnya tersembunyi. Tapi cara dia menatapku itu membuatnya semakin terlihat tampan dan charming. Please, jawab iya, Ka. Iya, aku pacar kamu. Iya, Renata pacar Raka. Paksa aku menjawab itu di depan Wilda. Akui aku sebagai pacar kamu &#8230; pleeeeasseeee &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Dia lumayan tahu banyak tentang masa laluku, jadi aneh aja tiba-tiba muncul seorang Renata jelek kaya kamu dalam hidupku,” katanya sambil menyentil hidungku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kehidupanmu dikelilingi cewek-cewek cantik kan, Bro. Makanya aneh aja ada seorang Ren jelek ini dekat sama kamu,” aku merajuk dibilang ‘jelek’. Raka tersenyum geli menangkap sinyal manja dariku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Nggak penting, tahu nggak?” lagi-lagi Raka mengacau rambutku yang mulai kacau.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Yee, that’s my word, udah didaftarin hak ciptanya. Nggak bisa dipakai semena-mena.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka tertawa enak lagi sambil mengemasi tas merahnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mau langsung pulang, Bro?” tanyaku. Aku melirik jam. Duh, baru setengah tiga. Masih tiga jam lagi untuk mencapai waktu – jam – pulang – normal J Sudah bisa dipastikan PLA.NET akan jadi pilihan. Warnet milik teman Raka yang punya nama Flavianus. Lalu dipilihlah nama PLA. Pilihan nama yang unik. PLA.NET jadi favorit kami menghabiskan subuh menanti pagi. Pilih kabin nomer 20 yang sofanya paling panjang. Order PAKET 3jam dengan biaya delapan ribu (<em>jauh lebih murah dari biaya short-time, hehehe</em>). Lalu aku terlelap disanding Raka sementara Raka chatting dengan teman-teman virtualnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Btw, bagaimana obrolan dengan orang musik tadi, Bro?” tanyaku masih memperhatikan Raka yang memberesi barangnya yang banyak dalam tas merah besarnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Oh ya,” Raka menghentikan sejenak kegiatannya berkemas, lalu menatapku dengan mata elangnya. Freezed. Aku suka caranya menatapku. Membuatku sejenak terlempar ke negeri antah berantah. “Bantu doa ya Sist, mudah-mudahan lancar. Prospeknya siy bagus. Mereka minta portofolioku.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Artinya?” tanyaku nggak ngerti.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mereka menawarkan proyek solo. Jangan bilang anak-anak SIM Band dulu ya. Sebelum semua jelas aku nggak mau teman-teman tahu dulu. Cuma kamu dan Indra yang tahu. Nanti deh kalau udah ada progress lagi aku pasti kasih tahu mereka. Akur?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Siip!!!” aku mengacungkan dua ibu jariku. Indra adalah keyboardis SIM Band.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sist, kamu jadi order minum apa tadi?” tanya Raka kemudian.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Si Jo yang pesenin aku minum. Lemon Squash.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Squash? Ini gelas kamu?” tanya Raka sambil menunjuk gelas ramping di atas meja. Kali ini ia benar-benar menghentikan kegiatan mengemas tas yang sedang dilakukan. Diletakkannya tas merah besar itu begitu saja dan menatapku dengan tatapan yang aku nggak ngerti.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku mengangguk. Polos.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu minum berapa banyak?” tanyanya lagi. Mengintimidasi. Duh, kenapa siy?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Dua. Punya Wilda dikasih ke aku, ya udah aku abisin. Kenapa sih, Bro?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu ngerasa pusing?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menggeleng. Bro, ada apa siiiiiy ????</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menangkap geretak rahang Raka. Duh, ada apa siy? Ada yang salah?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Johan yang kasih ini ke kamu?” ulang Raka meminta kepastianku, kali ini nggak bisa menyembunyikan amarahnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku mengangguk takut-takut.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka meninggalkanku mencari sosok Jo. Aku mengikuti dengan pandanganku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Jo, kenapa kamu kasih Renata Long Island?” aku mendengar Raka bicara agak keras, well sambil mencengkeram lengan si kurus Jo.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uh, itu kan cuma Long Island, Ka,” Jo membela diri.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“CUMA? Lo bisa dikasih kepercayaan nggak sih? Cuma gue titipin adik gue selama gue di stage. Lo kasih dia yang nggak bener.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Bro, sudahlah. Lagian aku nggak papa kok. Raka, sudahlah. Kita pulang aja,” aku mencoba menengahi. Tidak enak jadi tontonan anak-anak SIM Band dan beberapa barista.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Jangan bikin perkara ma gue, ya lo Jo!” geram Raka pada Jo.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Jo minta minta maaf ke Raka berulang-ulang. Sedetik kemudian Raka menggamit lenganku dan keluar dari Diamond tanpa pamit. Masih dengan tatapan bingung aku mengikuti langkah Raka yang terburu. Aku sempat memperhatikan tatapan mata anak-anak SIM Band beralih-alih dari aku dan Raka – lalu Jo, sambil bertanya-tanya : ADA APA SIY ?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lain kali kalau mau MINUM harus sama aku,” kata Raka padaku, dingin.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku nggak tahu itu Long –,” aku nggak tahu bagaimana menyebut Long Island.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-428" title="love" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/love1.jpg" alt="love" width="173" height="165" /></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Di PLA.NET baru aku merasakan dampak dari Long – <em>something</em>. Pusing. Berputar. Perutku seperti digerus-gerus. Aku tepar di sofa panjang kabin 20. Jadi gini toh rasanya over load, kebanyakan minum. Aku kan cuma minum dua gelas. Tapi karena hanya terbiasa diisi teh panas, paling banter coke, lalu dimasuki dua gelas cairan alkohol alhasil perutku mengaduh.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Duh, &#8230; &#8230; &#8230; enggak &#8230; &#8230; &#8230; eeeenak &#8230; &#8230; &#8230; banggeeeet &#8230; &#8230; &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pusing ya?” tanya Raka penuh perhatian sambil memijat kepalaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku mengangguk dengan mata terpejam.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka melepas jaketnya dan menyelimuti tubuhku. Uhm, so sweet. “Tunggu sini bentar ya, Sist.” Raka meninggalkanku. Dingin. Aku merasakan hembusan AC di atas kabin 20. Tapi hatiku hangat merasakan perlakuan Raka yang <em>gently</em> banget. Begitu seharusnya laki-laki. Cool. Gentle.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu mau teh panas?” tanya Raka sekembalinya dari luar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">TEH PANAS? Did he say something about – HOT – TEA ??? Oh yeach, perfect!!! Finally, I meet my mate beverage! Ketemu jodohku! Teh panas!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pintu kabin diketuk pelan. Petugas warnet datang dengan dua gelas minum. Aku bisa melihat kepulan teh panasku. Cihhhuiiii what a perfect drink !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mas, bisa minta tolong kecilkan AC di kabin ini?” tanya Raka sopan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Petugas warnet itu mengangguk.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sist, kamu belum pernah loading kan?” Raka memulai wejangannya. Loading adalah istilah anak SIM Band untuk mengijinkan cairan ‘laknat’ merasuki sendi-sendi tubuh lewat darah. “Besok lagi kalau pengen, bilang sama aku. Biar aku bisa jagain kamu. Dan &#8230; bla bla bla, bzzz bzzz bzzzz &#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku terlelap.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku masih bisa mendengar samar-samar Raka menggerutu dan tertawa kecil karena aku tertidur. Lalu, masih bisa kurasakan sentuhan lembutnya di kakiku. Raka menarik jaket super jumbonya menutup tubuhku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> So sweet.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/diamond-cafe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raka, Api Cintaku !</title>
		<link>http://serpih.com/raka-api-cintaku/</link>
		<comments>http://serpih.com/raka-api-cintaku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 03:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; &#8230; &#8230; sambungan Renata Mencari Cinta.
 I think LOVE is a fire 
 and i’m burning up in a flame
Aku mencari cinta. Dan aku menemukannya. Namanya Raka. Raka adalah pria pertama yang kujatuhi cinta. Bukan pacar, karena aku dan Raka nggak pernah pacaran. Bukan juga cinta pertama. Memangnya kamu tahu kapan jatuh  cinta pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; &#8230; &#8230; sambungan Renata Mencari Cinta.</em></span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em> I think LOVE is a fire </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em> and i’m burning up in a flame</em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;"><img class="size-full wp-image-423 alignleft" title="love" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/love.jpg" alt="love" width="89" height="105" />Aku mencari cinta. Dan aku menemukannya. Namanya Raka. Raka adalah pria pertama yang kujatuhi cinta. Bukan pacar, karena aku dan Raka nggak pernah pacaran. Bukan juga cinta pertama. Memangnya kamu tahu kapan jatuh  cinta pertama kali? Undefine. Nggak jelas batasnya kapan cuma sekedar naksir, atau bener-bener cinta. Dan, biasanya niy, menurut survey ke beberapa teman, cinta pertama jarang-jarang ada yang sukses. Kebanyakan berbuntut patah hati, entah karena usia yang sangat dini, atau, ya karena definisi dan batas yang enggak jelas tadi antara suka dan cinta.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka memang bukan cinta pertamaku, tapi aku merasakan benar-benar cinta ya sama dia. He’s my fire. And I’m burning up in a flame. Pertemuan pertamaku dengan Raka tanggal 20 Januari 2001. Bukan hanya karena angkanya bagus “20012001” aku selalu ingat kapan pertama kali aku kenal sama Raka, tapi karena menyangkut soal ANGKA, aku punya ingatan yang super duper kuat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Miss Numberfreak, remember?</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku masih ingat hampir semua nomor absen teman-temanku (<em>mengingat jaman sekolah dulu, absen dilakukan sekretaris kelas dengan memberi titik titik tanda hadir di daftar nama murid – dan hampir sembilan tahun sekolah wajib, aku selalu menjadi sekretaris kelas</em>). Aku ingat plat nomor kendaraan orang-orang terdekatku. Aku hampir nggak pernah lupa tanggal ultah teman-teman (termasuk Siska, calon istri Djati Jijay Jayus, yang nggak terlalu aku kenal). Kalaupun lupa, biasanya aku ngerasa, uhm &#8230; hari ini tanggal sekian bulan ini, uhm &#8230; ultah siapa yaa &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kembali ke Raka.<span id="more-402"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tanggal 20012001 pertama kali aku clubbing. Kenal dunia malam. Diajakin temen-temen kantor setelah seminggu penuh berkutat dengan pemeriksaan audit yang melelahkan. Reaksi pertama ketika melihat Raka menyanyi di panggung adalah :</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>FREEZED </strong>!!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Entah karena suasana asing yang baru pertama aku kenal. Entah karena bisingnya hingar bingar musik cafe. Yang pasti, aku melihat ada cahaya berpendar-pendar menyilaukan yang menyelingkupi tubuh Raka dan membuatku terpukau.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ketika teman-teman mulai bergoyang dan turun ke <em>floor</em> (<em>uhm well, dan beberapa gelas alkohol yang menemani – tapi aku tak menyentuhnya. Sayangnya, di Diamond Cafe agak aneh memesan secangkir teh panas, dan aku memilih tidak menjadi aneh di tempat asing, jadi untuk amannya aku memilih coke sebagai gantinya</em>). Aku duduk saja dikursi dekat bar desk sambil menatap Raka dengan takjub. Uhm, well &#8230; aku belum tahu namanya, tapi aku pengen, &#8230; pengen, &#8230; pengen banget tahu lebih tentang vokalis band keren ini.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tuhan emang sayang banget sama seorang Renata. Jeda break pertama, homeband turun panggung diganti musik DJ yang berisik (menurutku siy ). Aku ke rest room. Disanalah aku ketemu Raka. Aku yang menyapanya dulu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Hi,” sapaku sok akrab dengan senyum pepsodent selebar jalan protokol. Dadaku berdebar. Seperti ada sinyal yang mengingatkan bahwa pencarian cintaku bisa berhenti di sini. Aku sudah menemukannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Menemukan cinta.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Cowok cakep yang aku belum tahu namanya itu tersenyum. <em>Senyumnya dahsyat, man !!!</em> Dan &#8230; duh, ternyata dia punya tatapan mata elang. Tajam namun teduh. Saat itulah pertama kali aku menyadari hatiku telah ‘meleleh’.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Band kamu keren,” pujiku tulus tanpa tendensi apapun.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Baru pertama di Diamond ya?” tanyanya tanpa meremehkan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Perfectly right guess !!!</em> Ouff, suaranya &#8230; daleeeem banget. Dan mata itu !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Iy, iya,” duh kok jadi grogi gini? Tanganku berkeringat. Adem. Dadaku nggak berhenti berdentum. Come on, Renata &#8230; steady !!! <em>Feeling</em> mengetuk-ketuk dinding hati.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Oya, aku belum pernah cerita ya. Dulu, ibuku sering mengulang-ulang cerita bahwa Tuhan adalah sahabat kita. Tuhan tidak nampak dan tidak ada disekitar kita secara nyata, tapi dia mengirim sesuatu supaya selalu dekat dengan kita. Tuhan mencipta sesuatu dalam tubuh kita. Tuhan kecil. Hati Nurani. Aku menyebutnya :<strong> FEELING</strong>. Dalam saat-saat genting nan penting, <em>Feeling</em> selalu muncul untuk jadi second opinion. Yang mengingatkan saat kita berlaku bodoh. Yang menguatkan saat kita bersikap mulia. Dan seiring bertumbuhnya usiaku, aku selalu mengandalkan Feeling untuk mengambil alih keputusan penting. Seperti saat ini, <em>Feeling</em> tiba-tiba muncul seperti ingin memberi pertanda ini saat aku bertemu dengan cinta. (Mungkin ya ??? J) Aku menyebutnya dengan capital <strong>‘F’ </strong>karena dia begitu nyata. Seperti orang kedua dalam diriku.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tapi kadang juga, aku merasa bahwa sebenarnya aku menderita <em>skizofrenia<strong> </strong></em>?!?!?!?!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka,” ia yang lebih dulu mengulurkan tangan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren,” jawabku pendek. Gagu. SIAL! Dia pasti bisa merasakan basahnya tanganku. &#8220;Nata&#8221;, sisa suara seperti tertelan hingar bingar musik dan ludahku sendiri.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“REN? Ups,” matanya menatapku tajam beberapa detik. Raka menelengkan kepalanya untuk mengeja namaku. Ada jeda waktu yang terasa nikmat. “Ren, nice to meet you but, euff &#8230; aku musti ke panggung lagi,” katanya sambil mengedik kode ke atas panggung.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Uhm, aku mengangguk. Bego. Dungu. Dodol.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Coz I’m freezed.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu yang duduk dekat bar desk tadi kan?” tanyanya lagi sebelum meninggalkanku dengan segenap predikat tadi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bego. Dungu. Dodol.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Coz I’m freezed.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Uhm, aku mengangguk lagi. Kok Raka tahu?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Stay sit there ya!” katanya dengan tak lepas mata elang itu mencengkeram tepat dihatiku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Uhm, aku serasa orang-orangan sawah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ken, &#8230; uhm, kenapa?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka tersenyum dan dengan jari telunjuknya menunjuk mata dan jarak pandang. Duh, apa sih maksudnya? Tapi aku membalasnya dengan senyum. Senyum dodol karena nggak ngerti maksudnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Wake up, Ren. Nyadar!!! Lo musti ke restroom sooner. Kalau enggak lo bakal pipis disini. Lo tu kayanya butuh minum ginko biloba biar nggak bengong kayak tadi. Kayanya Raka bikin lo jadi makhluk aneh. </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em> </em>Sstttt, aku membungkam <em>Feeling</em>. Kalau gue musti minum ginko biloba mungkin supaya <em>Feeling </em>bisa redam. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Terapi untuk penderita skizofrenia ada nggak siy resep ginko bilobanya ???</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sekembaliku dari rest room, Raka sudah menyanyi lagi. Waktu aku kembali duduk di tempat yang sama, beberapa kali Raka mencuri tatap ke arahku dan melempar senyum dahsyatnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Well Diamond’ers, dari tadi udah lagu menghentak. Coolling down dulu yah,” Raka menyela di akhir lagu. “Okay Diamond’ers, pernah jatuh cinta? Pernah dong. Lagi jatuh cinta? Bersyukurlah. Pernah jatuh sampai dalaaaam?” Raka tertawa kecil. “Well then, ini semua buat kamu, yang pernah jatuh cinta dalaaam. Buat kamu, yang pernah jatuuuuh dalaaaam. Lagu lama banget tapi dijamin pasti kalian suka. Fall So Deep dari EOL. Buat Ren, dan teman-teman disana,” Raka melambai ke arahku.</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em>Fall so deep? </em>Uhm, so sweet.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Buat Ren – dan teman-teman?</em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">Wait, maksudnya apa nih? Bodo ah &#8230; Jangan GR dulu, Ren. It might be nothing.</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em>Some people think that love is foolish</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>While others think it’s a game</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Well, i think love is a fire</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>And i’m burning up in a flame</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>I’m so lost in my emotions</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>More than you’ll ever know </em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">Malam yang manis (<em>karena Raka</em>) itu berakhir dengan ‘ancur’. Pak Stanis, manajer area sekaligus ketua ‘rombongan dugem’ku mabuk berat sampai tepar. Sedikit menyusup dalam hatiku sebuah janji bahwa malam ini menjadi malam terakhir aku datang ke cafe. Malam pertama sekaligus yang terakhir seorang Ren mengenal dunia malam.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Sampai, &#8230;</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sesampainya di luar seseorang memanggilku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka. Pria bermata elang itu!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Deg. Deg. Deg. Tanpa dikomando jantungku konser sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, simpan nomor aku,” katanya sambil terengah karena setengah mengejarku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Thanks,” kataku datar sambil menerima selembar kertas kecil dari tangannya. Aku kelelahan. Tak kuasa menghentikan konser di hatiku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Nomor kamu?” tanyanya memintaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Entar aku telpon kamu,” kataku pendek. Aku tak terbiasa memberikan nomorku ke orang asing. Even he’s a hot hunk must grab macam Raka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada rombongan kecilku yang memapah Pak Stanis.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, kamu baik-baik saja?” tanya Raka penuh perhatian. Padaku.</span></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">PADAKU !!!</span></strong></p>
<p><span style="color: #993300;">“Maaf, siapa yang bawa mobil?” tanya Raka. Pada rombongan kecilku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Samuel menunjukkan kunci yang digenggamnya. Tandanya dia yang bawa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mm, maaf, yakin bisa bawa mobil? Ng, nggak<em> loading</em> kan?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Fine. Nggak papa,” sahut Samuel asal.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Biar aku aja yang bawa, Sam,” aku menengahi demi melihat kekawatiran di mata Raka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu kan enggak pernah bawa mobil manual, Ren,” sahut Samuel.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya, tapi aku bisa. Bisalah. Daripada kamu yang nyetir. Lagian cuma aku yang nggak minum malam ini. Siniin, Sam.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bukannya aku mau ngerasa heroik tapi aku sebenarnya juga kuatir dengan kondisi teman-teman yang semuanya mabuk. Setidaknya aku yang paling waras yang harusnya pegang kendali. Eh, pegang kemudi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kayaknya sama<em> worry</em>-nya kamu enggak mabuk tapi bawa mobil manual. Bawa mobil matic aja kamu nggak fasih. Masih mendingan aku,” Samuel tertawa nyengir. Sialan. Aku menatap Samuel beralih ke Raka yang menyimpan senyum, tapi tak juga berkurang rasa kawatirnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">And I love that !</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Really love that &#8230; </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Love the way he looks at me that way !!! And cares of me so much.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Oke. Ati-ati ya. Sam, titip adikku ya!” kata Raka kemudian. Pada Samuel. Dan &#8230; dan, Raka mengusap puncak kepalaku. Dengan cara yang sangat <em>gently. </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sip,” Samuel mengacungkan jempolnya..</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Adik?</em> Uhm, maksudnya &#8230; &#8230; &#8230; <strong>aku?</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>O-M-G !!! </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>Oh My God !!!</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku masih dalam kondisi <em>freezed</em> bahkan setelah mobil melaju.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo kenal sama Raka ya, Ren?” tanya Mita yang duduk dengan kepala tergeletak di atas jok dengan lunglai tanda mabuk berat dan puyeng.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, ya.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Dia kakak kamu? Kok kamu nggak bilang?” sahut Tyas dengan mata setengah. Dalam kondisi over load kayak gitu Tyas masih sempat menyimak Raka bilang ‘titip adikku’.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, iya.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kakak darimana? Saudara jauh maksudmu?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, iya. Iya. Saudara jauh gitu deh.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Masih saudara satu keturunan Adam. Iya kan? :-p<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Cakep loh dia. Coba gue tadi nggak loading pasti gue minta lo kenalin ke gue, Ren. Tau nggak lo, Raka tuh digilai banyak cewek. Tampangnya, suaranya, gayanya, keren,” oceh  Mita nggak jelas.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Oh, ya?” sahutku malas. Aku terlalu bahagia dengan kejadian barusan. Bertemu dengan <strong>CINTA </strong> which is Raka. Dan cara dia menatapku, mengakuiku sebagai adiknya, dan cara Raka mengusap rambutku.</span></p>
<h2><span style="color: #993300;">Wwwaaaaa !!!!</span></h2>
<p><span style="color: #993300;">Selama perjalanan pulang aku senyum-senyum. Bahagia. Aku terlalu bahagia untuk memperhatikan teman-temanku yang satu persatu merelakan diri dibawa angan nikmat sesaat.  Alcohol, I mean. Kecuali Sam, tentu saja. Cowok satu ini berusaha keras konsentrasi dengan jalanan yang di jam segini udah nggak terlalu macet. Tapi mengingat Sam lumayan berat juga tadi dia minum konsentrasi penuh dia butuhkan. Aku terlalu bahagia untuk memikirkan hal nggak penting seperti mereka. Saat ini. Aku menimang-nimang kartu nama Raka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">RAKA.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">RAKA ARDIAN.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">081 1381  !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Simpan ah di phone book.</span></p>
<h2><span style="color: #993300;">Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit !!!</span></h2>
<p><span style="color: #993300;">HP melompat dari tanganku. Meluncur bebas dan mendarat di bawah kakiku</span></p>
<h2><span style="color: #993300;">“ANJRIIIIT! LIAT JALAN, BUDUK!!!!!!!” </span></h2>
<p><span style="color: #993300;">Samuel mengumpat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> “Saaaaam! Apaan? Ati-ati dong!” jeritku. Karena hanya aku yang ‘sadar’ jadi hanya aku yang protes. Mita terlelap di sandingku. Tyas mendengkur halus disandingnya. Pak Stanis? Entah sudah sampai mana. Sedari masuk mobil tadi Pak Stanis sudah tepar dan ketinggalan moment penting Raka mengusap rambutku so gently (<em>nggak penting ya?! :-p</em>)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mobil gila tu loh nyelonong aja. Sumpret!” umpat Samuel.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menatap mobil Lancer yang menyelip mobil kami. Spontan aku melihat nomor platnya. Selalu. Hubungan Ren dan nomor mobil seperti anjing dengan tulang (iih, apa hubungannya yach? Jangan-jangan aku mabuk juga &#8230;)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Uhm. D 1381 BD.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Ren, satu lagi pertanda &#8230;</em> Feeling mengingatkan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ups, pertanda. Baru saja aku mau menyimpan nomor Raka. Uhm, 0811381. Ups. Nomor mobil Lancer 1381. Huuh, kenapa selalu begini?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Percaya pada<strong> PERTANDA? </strong>Ketika kamu sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba segala sesuatu yang ada didepan kamu berhubungan dengan apa yang sedang kamu pikirkan. Yang kemudian akan terjadi satu hubungan yang tak pernah bisa kamu kaitkan secara logika tapi jadi satu cerita dalam hidupmu. Aku sering mengalami hal itu, seperti kejadian barusan. Bukannya disengaja. Nomor Raka dan nomor Lancer itu bisa sama kan diluar kuasaku? Sebuah kebetulan yang kadang terlewat dari perhatian.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Yang pasti, sejak acara dugem  itu, aku jadi sering memikirkan Raka. Seminggu lebih aku belum kasih kabar ke Raka. 1381-nya masih aku simpan. Masih ingatkah Raka padaku? Ini sudah seminggu lebih. Mungkin Raka biasa memberikan kartu namanya pada siapapun, lalu menganggap mereka adik, lalu berlalu begitu saja. Mungkin aku yang ke-GR-an<em>. Uff, tau diri dikit dong, Ren.</em> Tapi aku pengen tahu kabarnya. Tapi aku malu. Tapi aku pengen meneleponnya. Tapi aku enggan. Tapi aku pengen dengar suaranya. Tapi aku takut Raka sudah tak mengingatku. Tapi aku bingung. Aaaaaarrrrrrgghggghhhh &#8230; Tapi – tapi – tapi – tapi – tapi – tapi saya bundar &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mengapa harus ada mobil dengan nomor 1381 yang nyaris menabrak? Pertandakah? Pertanda bahwa aku nggak boleh menghubungi Raka? Atau sebaliknya, akan ada cerita antara Renata dan Raka?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mengapa dia begitu ‘dalam’ saat aku menyebut nama REN. Seperti nama sakti yang membuat Raka berhenti bernafas. Untuk beberapa detik. Nggak penting ya? Tapi aku pengin telpon. Aku &#8230; uhm, I fall so deep.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Deep in LOVE with him.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">CINTA? &#8230; &#8230; Secepat inikah?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku belum memikirkan untuk mencari cinta. Aku tidak mencari cinta.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Cinta yang datang mencariku !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Cinta yang datang dan menemukanku !!! !!! !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Akhirnya, setelah berlalu seminggu plus tiga hari, aku mengirim sms. Iseng-iseng tanpa berharap Raka masih mengingatku. Uhm, okelah &#8230; ada harapan sedikit – Raka masih mengingatku.  Aku kirim sms yang biasa. Sangat sangat biasa. Nanyain kabar. Dan tahu, apa balasan sms dari Raka?</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><strong>Hi Sist, akhirnya sms juga. Kirain lupa. </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>Atau malah namecard-nya sudah dibuang :-)</strong><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>Aku lagi main di Bandung. Take care ya.</strong></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;"><em>Sist </em>= Sister = Adik ?</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Akhirnya? – </em>Apakah Raka menunggu smsku? Mengingat aku tidak memberinya nomorku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Lupa </em>? – Aku? Bagaimana bisa &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Dibuang </em>? – Nggak mungkinlah &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Bandung </em>? – D 1381 BD! ; D = nopol kendaraan Bandung.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Take care &#8230; – </em>So sweet !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Well, gradasi 1 – 10 ; Raka = 9,5 !!! &#8230; ralat = 9,8 !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em><br />
</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><em><br />
</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/raka-api-cintaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renata Mencari Cinta</title>
		<link>http://serpih.com/renata-mencari-cinta/</link>
		<comments>http://serpih.com/renata-mencari-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 06:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Cinta harus dicari. Cinta tak datang sendiri. Kita harus peka kapan cinta datang, dan meraihnya. Memang, untuk menikah tak cukup hanya bermodal cinta saja. Cinta adalah kendaraan hidup baru bersama seseorang. Selamanya. Sampai nanti, sampai mati. Sampai maut memisahkan. Menikah. Bukan “hanya” karena perut kadung berisi janin. Atau karena usia merambat menaiki tangga kata bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><blockquote><p><span style="color: #993300;"><em>Cinta harus dicari. Cinta tak datang sendiri. Kita harus peka kapan cinta datang, dan meraihnya. Memang, untuk menikah tak cukup hanya bermodal cinta saja. Cinta adalah kendaraan hidup baru bersama seseorang. Selamanya. Sampai nanti, sampai mati. Sampai maut memisahkan. Menikah. Bukan “hanya” karena perut kadung berisi janin. Atau karena usia merambat menaiki tangga kata bernama : <strong>TUA!</strong> Atau sekedar sensasi tanggal bagus untuk menikah. Hari baik. Tanggal baik. Well, uhm &#8230; bukankah semua hari Tuhan yang cipta baik?</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em><em>Aku akan menikah, saat aku telah menemukan cinta. Dan aku akan mencari cinta &#8230;</em></em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">Turrruuut. Turrrruuuurrrruuuurut.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dering telepon rumah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Nomor Jakarta. Jakarta ? Hmm &#8230;<span id="more-398"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Malam.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lagi apa, Nong?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“H..i..i..iiii&#8230; D&#8230;E..A..A..A..A&#8230;R..!!!”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Duh! Pekak! Biasa aja lagi.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku terkekeh.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lagi nerima telepon dari Djati,” manjaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Jayus.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Iya, Djati. Djay. Jijay. Jay. Jayuz.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Jeda tawa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“How’s life?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, so-so.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pakabar Rangga?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, yaaah &#8230; so-so juga .”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Udah nggak pernah kontak.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Duh, kenapa siy cowok lo tu musti berawalan ‘R’?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku terkekeh. “Kata mbah dukun musti gitu.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Djati terkekeh.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Atau karena namaku berawalan huruf R juga. Renata,” kataku jayus nggak penting. Ngobrol sama Djati selalu membuatku tertular jayusnya. Hehehee.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pakabarmu? Sehat kan, Jay?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Oh, yah ! Tumben ya?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Jeda tawa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Nong, gue ada kabar baru.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Gue mau nikah.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“AAAAAH, TIIIDDDDAAAAAAKKKKK!”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Loh, loh, kok, respon lo gitu? Ih, jahat banget!”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Hehehe, sorry, spontan.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Jahat banget. Lo tu orang pertama diluar keluarga yang tahu tentang rencana besar ini. Dan lo memberi respon : <strong>T – I – D – A – K ?</strong> Please deh! Bukannya bahagia.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tergelak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya BAHAGIA dong, Jijay Sayang. Tapi aku pasti kehilangan kamu. Secara, lo kan cowok <em>sok single sok available</em> yang rela didaulat jadi pasangan di saat-saat genting,” tambahku meyakinkan dan terdengar tawa kecil Djati. “Congratz yah. Kapan?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Awal tahun. Maret. Bulan ultah kami berdua. Biar spesial.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Uff, too soon. Seingatku, Djati baru pacaran sekitar dua tiga bulanan ini.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sama perawat rumah sakit itu ya?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Djati diam. Mungkin mengangguk, ah ya pasti mengangguk, Djati kan jayus banget. Dia ngangguk di telepon dan aku nggak tahu. Tapi aku tahu, Djati mengiyakan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu udah mantap, atau nekat? Secara lo berkali-kali pacaran sampai bertahun-tahun kagak pernah jadi,” aku terkekeh. “Atau lo takut keburu gagal lagi,” sekilas aku menyadari terlalu rese, lalu menambahkan, “Yang penting lo bahagia ya, Say.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Terdengar suara renyah tawa Djati.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu mencintai dia kan? Uhm, mengingat usia pacaran kalian &#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm &#8230; oke, kamu boleh tau. Jujur, Siska positif. Aku dan Siska sepakat untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah kami lakukan. Kalau kamu tanya cinta, entahlah, Nong, aku nggak bisa menjawab. Kuharap kamu bisa ngerti. Well, ini Jakarta, usiaku belum genap dua lima. Masih banyak yang ingin diraih. But, no way to turn back, Nong. Aku percaya, suatu saat nanti aku akan mencintai dia.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Uff, see &#8230; Djati. Sahabat berani matiku. Sejak kecil kami tumbuh bersama. Bahkan kedua orang tua kami pernah mau menjodohkan kami. Tapi justru saking dekatnya kami jadi seperti kakak adik. Dan nggak enak rasanya pacaran sama adik sendiri (aku lebih tua tujuh bulan dari Djati J).</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> <strong>Tiiitiiiit. </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Sms masuk.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> <strong>R, kbr bhgia. Vin merid akhir Jan. Q nysul Mei.Lo?</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sender : May Saberma.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Reply.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> <strong>WOW! Yeah, hppy 4 u both. Q ? After u !</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Write message.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> <strong>Kok g da kbr k Q ttg akh Jan?</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Send to : Vin Saberma.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> <strong>Tiiitiiiit. </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Sms masuk.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> <strong>Hehe. Doakan lancar ya! May nyusul Mei. </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>Hari baiknya jatuh bulan Mei pas bday. </strong><strong>Kamu?</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sender : Vin Saberma.</span></p>
<h2><span style="color: #993300;"> AAAAAAAAARRRRRRGGGGHHHHH !!!!!!!!!!!!!</span></h2>
<p><span style="color: #993300;">Kenapa tiba-tiba berlomba-lomba merid siiiiy? Pas hari ultah lagi. Vin, 31 Januari. May, 04 Mei. Djati, 10 Maret. Siska, 15 Maret. Hmm, Si Jijay jelek itu  belum kasih tahu tanggal nikahannya siy. Ah, nggak penting. Catat dulu ah, Januari – Maret – Mei : pernikahan SABERMA : <em>SAHABAT BERANEE MATEE </em>ku! Lagian, kenapa juga aku tahu ultah Siska ya? Gara-gara Djati pernah bilang ultah mereka deketan. Selisih lima hari. Jadi bisa tanggal 5 atau 10 Maret. Tapi kayaknya sepuluh deh. Duh, aku memang gampang banget nginget nomor. Seperti ada <em>reminder </em>yang terekam di otak entah bagian sebelah mana. Miss Numberfreak*), kata Mayang. Segala sesuatu aku ingat dengan angka. Nomor kendaraan. Nomor rumah. Nomor telpon. HP. Tanggal lahir. Ukuran BH. Ukuran  itu &#8230; (ukuran sepatu, ukuran baju, dll gitu maksudnya, jangan pikir yang <em>iya iya</em> dong!!!)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Well, lumayan beralasan siy kalau tiba-tiba saja aku terserang <em>married-paranoid-syndrome </em>mengingat saat ini aku tak punya pacar tetap. Ada beberapa yang singgah di hati tapi belum juga jadi penghuni tetap. Aku percaya cinta harus dicari. Cinta tak datang sendiri. Kita harus peka kapan cinta datang, dan meraihnya. Memang, untuk menikah tak cukup hanya bermodal cinta saja. Cinta adalah kendaraan hidup baru bersama seseorang. Selamanya. Sampai nanti, sampai mati. Sampai maut memisahkan. Menikah. Bukan “hanya” karena perut kadung berisi janin. Atau karena usia merambat menaiki tangga kata bernama : TUA! Atau sekedar sensasi tanggal bagus untuk menikah. Hari baik. Tanggal baik. Well, uhm &#8230; bukankah semua hari Tuhan yang cipta? Dan Tuhan selalu menciptakan yang baik bagi umat yang mencintai-Nya! Aku akan menikah, saat aku telah menemukan cinta. Dan aku akan mencari cinta &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ngomong-ngomong soal merid, aku jadi ingat kalimat Ibu kemarin lusa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu kapan kawinnya to, Nak? Nunggu apa lagi? Mbakmu, Masmu sudah. Rangga juga sudah siap. Tahun depan?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">–  Ah !</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Nggak usah kelamaan, nanti keburu tua. Ibu dulu umur duadua punya anak. Masih bisa lihat kamu tumbuh dewasa.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku belum (ngerasa) tua kok, Ibu. Lagian aku baru dua lima.</span></p>
<h2><span style="color: #993300;">BARU???</span></h2>
<p><span style="color: #993300;">Iya. Baru dua lima. Kalau klik klok jam biologis memanggil, aku masih punya waktu 5tahun untuk mencari cinta yang tepat. Dan lima tahun pasti waktu yang lebih dari cukup untuk mendapatkannya. Masak siy aku nggak ngedapetin? Aku kan nggak jelek-jelek banget walau juga nggak secantik Vin. Juga nggak bego-bego amat walau nggak secerdas May. Juga nggak serapuh Djati yang sering sakit-sakitan. Intinya, aku dalam kondisi prima untuk mencari cinta &#8230; apalagi dengan tenggat waktu 5 tahun. Aku PD seribu milyar persen pasti berhasil.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Sekarang kamu belum mikir. Ntar dua sembilan, kayak aku. UP deh. Usia Panik.</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku terngiang kalimat Vin.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ooooo, jadi Vin buru-buru nikah akhir Januari karena usianya pas 30!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Hehe. Bentar lagi lo 30 ya!</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Masih empat – lima tahun lagi, Ard.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Kan udah pengen nikah? </em>tambahnya lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pengen? Ya pengenlah!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Udah siap kan? Kalau udah punya pacar pasti entar langsung nikah, deh &#8230;</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Nggak juga. Siap? Aku udah siap, tapi nggak buru-buru. Jelas ada bedanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Aku belum siap. </em>(Ardian merenung)<em>.</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lagian, siapa yang nanya kamu? Siapa yang ngejak lo kawin? (batinku!)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Teringat percakapan – nggak penting – ku – sama Ardian, the hotest hunk must grab. Mengapa cinta kembali dipertanyakan? Bukan semata siap tidak siap. Aku hanya belum menemukan belahan jiwaku. Yang menyimpan separuh cintaku dihatinya, dan separuh hatinya dalamku. Yang suatu saat nanti akan datang membawa separuh hatiku dan mengambil separuh hatinya, untuk kami persatukan atas nama CINTA. Jadi aku tak terburu menikah, sampai aku menemukan cintaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Uff, ngomong apa siiiiy ??? !!! ??? !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Lagian, well, aku baru dua lima. Tahun depan dua enam.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">BARU???</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Hehe, masih empat – lima tahun lagi, sebelum tiga puluh.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">30 !</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Usia yang ditakutkan para wanita yang belum menikah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">TIDAK TAKUUUUT!!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;">–        sambil kelima jari tangan membentang di depan wajah –</span></p>
<p><span style="color: #993300;">–        <em>iklan sabun kesehatan </em>–</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Memangnya, kenapa dengan 30?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Quarter life crisis?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bukan gue banget deh !!!</span></p>
<p align="center"><span style="color: #993300;"><br />
</span></p>
<p align="center"><span style="color: #993300;"><strong><em>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</em><br />
</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/renata-mencari-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dipelukan Bayang Bayang Bintang</title>
		<link>http://serpih.com/dipelukan-bayang-bayang-bintang/</link>
		<comments>http://serpih.com/dipelukan-bayang-bayang-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 06:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Yang Patah]]></category>
		<category><![CDATA[Love Fool]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Senja masih terlalu sore untuk disebut malam. Aku meringkasi isi tas yang sebagian tercecer di atas meja kerja. Buku agenda. Pena. Name tag perusahaan. Sisir. Bedak. Lipstik. Aah, banyak betul barangku, aku tersenyum sendiri. Ini akhir minggu dan aku tidak punya rencana berarti.
Pesan singkat darinya kuterima sore ini. Mengabarkan dia akan menikmati akhir minggu bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-393" title="pelukan" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/pelukan.jpg" alt="pelukan" width="169" height="170" />Senja masih terlalu sore untuk disebut malam. Aku meringkasi isi tas yang sebagian tercecer di atas meja kerja. Buku agenda. Pena. Name tag perusahaan. Sisir. Bedak. Lipstik. Aah, banyak betul barangku, aku tersenyum sendiri. Ini akhir minggu dan aku tidak punya rencana berarti.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pesan singkat darinya kuterima sore ini. Mengabarkan dia akan menikmati akhir minggu bersama dua perempuannya. Aaah, bahagiamu, Sahabat. Dia memiliki bahu untuk bersandar, lengan untuk memeluk, dan senyum yang meneduhkan dari dua perempuanmu. Dua !!! </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tersenyum sendiri. Pahit. Harusnya aku bahagia melihat Raka bahagia. Oh ya. Tentu aku bahagia. Tiada yang membahagiakan selain melihat orang yang kita sayang bahagia. Ya. Harusnya aku juga bahagia melihat lelakiku bahagia memilikiku. Tapi tahukah dia aku tidak bahagia?<span id="more-386"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lelakiku, begitu singkat waktu yang kuhabiskan bersamanya. Belum pula berbagi dengan kesibukan yang lain. Tapi kini dia seperti orang asing bagiku. Ataukah aku yang mengasingkan diri? Entahlah. Tidakkah dia tahu aku selalu berusaha menghangatkannya? Lenganku siap memeluk kapanpun dia butuhkan. Senyumku tercurah untuk menceriakan harinya. Dan hatiku selalu terbuka untuk menerima cintanya. Ataukah aku yang mulai menghitung berkat yang harusnya tulus kuberikan padamu?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Katanya, yang namanya cinta adalah melakukan segala hal untuk kebahagiaan orang yang dicintainya. Dengan tulus. Tanpa mengharap kembali. Ataukah, aku mulai tidak tulus mencintainya? Karena aku berharap dia memberikan kembali kebahagiaan yang kuciptakan untuknya? Yaaah. Mungkin aku mulai berhitung. Dan itu tidak benar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Mbak Ris, saya duluan. Have a nice weekend yah!&#8221; Putri, sekretaris Branch berlalu dari meja kerjaku. Rambutnya yang kuncir kuda dengan pita warna ungu mengingatkanku pada Sacha di serial OB. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;You too, Put! Salam buat Mama,&#8221; sahutku. Putri melambai dan berlalu dari hadapanku. Berganti wajah kekar milik Putra muncul di dinding cubicleku. Senyumnya mengembang. Gigi putihnya berderet menyilaukan. Ah. Ha. Aku berlebihan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Nape Put?&#8221; sahutku cuek sambil memasukkan semua pernak-pernikku ke dalam tote bagku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Weekend kemana?&#8221; tanyanya. Tangannya usil meraih lipstik pinkku. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Nggak kemana-mana,&#8221; sahutku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Jalan yuk!&#8221; ajaknya. Kini dia beralih ke kursi di hadapan meja kerjaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Malas ah. Capek,&#8221; sahutku sekenanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Iya nggak jalan deh. Naik mobil!&#8221; katanya lucu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Garing!&#8221; sahutku acuh.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Putra terbahak. &#8220;Ris, kamu kenapa siy nggak pernah mau aku ajak keluar? Jalan. Cuma makan doang. Nonton. Nggak ngapa-ngapain juga.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menatapnya dengan tatapan &#8211; please &#8211; deh &#8211; tapi sepertinya Putra tak menangkap sinyal tatapan gangguku. Putra masih duduk di tempat yang sama saat aku selesai beberes.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Aku pulang ya, Put. Kamu jagain mejaku aja. Jangan sampe dibawa pergi keong,&#8221; kataku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-394" title="mawar 3" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/mawar-3.jpg" alt="mawar 3" width="113" height="155" />Putra tertawa. Tangannya menyentuh jemariku. Tatapannya meminta tapi tidak memaksa. Sebenarnya, Putra adalah pria single yang menarik. Lucu, santun, dan tampan. Tapi entah. Sejak Raka menjadi mantan kekasihku, menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang cantik, dan kemudian aku menikah dengan lelakiku, yang saat ini aku tak merasakan kebahagiaan karena kehilangan kehangatannya, hatiku sepertinya mati. Tertutup. Ya memang harusnya begitu kan. Semenarik apapun Putra.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Have a great weekend, Dear,&#8221; kata Putra <em>lebay</em>. Aku mengangguk lalu berlalu darinya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Ris,&#8221; panggil Putra lagi. Aku mendapatinya tengah menatap tubuhku lekat yang berada di ambang pintu keluar ruang kantor. &#8220;If you need a friend to spend your weekend, you know where you can find me.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Thanks,&#8221; aku tersenyum. Tidak seharusnya aku bersikap sinis padanya. Hanya karena aku tahu Putra suka padaku dan aku bukanlah perempuan yang available lagi. Putra terlalu menarik untuk ditolak. Justru karena alasan itulah aku menolak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Selama menunggu lift terbuka, aku merasakan saku blazer ku bergetar. Aku meraih ponselku dan terpampang nama : <strong>Ka</strong>. Raka. Uff. Tiba-tiba sebersit rindu menyelip tanpa diminta dan tak mampu aku tolak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Hai Raka,&#8221; sahutku dengan suara gemetar. Tiba-tiba aku merasa letih dengan rasa rindu yang tiba-tiba.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Kamu sudah pulang?&#8221; tanyanya. Suaranya yang berat dan menenangkan selalu mampu memberi sensasi damai untukku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Sedang akan mau pulang.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka tersenyum mendengar jawabanku. &#8220;Kamu baik-baik, kan?&#8221; tanyanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Ya,&#8221; sahutku singkat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Riska,&#8221; suaranya seperti sedang menghela. &#8220;Dia belum juga kembali?&#8221; tanyanya retoris. Raka tahu, lelakiku entah kemana tak ada kabar sudah hampir sebulan ini. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;I&#8217;ll be fine soon, Ka. Don&#8217;t worry.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka menghela nafas lagi. Aku ingin Raka bilang akan menemaniku. Aku rindu cinta Raka yang menenangkan. Yang mencintaiku. Yang menjagaiku. Yang melindungiku. Raka adalah cinta yang nyaman. Raka adalah cinta yang aku butuhkan. Tapi itu dulu. Dan sekarang pun aku tak pernah mampu memilikinya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Have a great weekend for you and your family, Ka,&#8221; kataku perih. Adakah yang bisa mengerti perasaan sepiku? </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Riska,&#8221; suara Raka terdengar berat. &#8220;Aku tak bisa menemanimu, tapi aku ingin kamu tahu, aku ingin keadaan membaik. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu. Sejak aku tak mampu memberimu bahagia.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku ingin menangis. Tanpa sadar aku sudah menangis.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Malam minggu sisa malam itu aku habiskan dengan duduk di teras Belle View. Resto outdoor dengan ginger tea-nya yang menenangkan. Sambil menimang-nimang sebatang rokok putih dan menyesali lupa membawa koreknya. Sudah sebulan ini aku kembali merokok. Sejak kepergian lelakiku. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tiba-tiba seseorang menawarkan api. Dia berdiri gagah disandingku. Aku mendongak dan mendapati senyum manis dan deretan gigi putih yang menyilaukan itu. Putra. Senyumnya teduh. Dia bertanya dengan santun apakah aku keberatan bila dia duduk di kursi di depanku. Aku menggeleng. Aku butuh teman, kurasa. Walau aku tak membuka hati untuk Putra, tapi ya, aku butuh teman malam ini.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Putra menceritakan hal-hal lucu yang membuatku tertawa. Tatapannya teduh. Dia meminta tapi tak memaksa. Kerlip bintang di atap langit seperti mengerti galau rasaku malam ini. Senyum Putra bagaikan bayang-bayang bintang yang menghangatkan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-392" title="hug" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/hug.jpg" alt="hug" width="246" height="183" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/dipelukan-bayang-bayang-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->
