Duniaku Sunyi

by lusia on January 28, 2010

reja sajaAku sadar mereka memandangku dengan tatapan aneh. Mereka menyebutku : ANEH. Aku merasa tak ada yang aneh dengan diriku. Aku hanya … berbeda! Aku menyebutnya, … ISTIMEWA !!!

PADA SEBUAH PAGI. Aku masih ingat pagi itu, hari Rabu di bulan September. Pagi ini berbeda dari pagi pagi sebelum pagi ini. Bukan saja karena Bunda tidak pergi kerja. Biasanya, pagi pagi Bunda sudah sibuk berkemas, mengepak gunting, rangkaian daun dan bunga yang sudah dirancang malam sebelumnya sampai spon warna hijau yang aku tak tahu untuk apa, ke dalam box besar warna magenta. Biasanya, Bunda jarang menyentuhku sekalipun hanya mengecup keningku. Yang tertangkap di mataku hanya kesibukan Bunda dan ekspresi wajahnya yang tak pernah tenang. Morning rush. Aku mengerti. Sampai detik terakhir Bunda menutup pintu mobil dan menatapku seolah menyesal tak mengecup keningku tapi terlalu sibuk dan membuang waktu. Aku mengerti. Dalam diam, aku mengerti.

Hari ini berbeda. Bunda tidak bekerja. Sejak bangun tidur tadi Bunda mendekapku erat seperti takut kehilanganku. Kadang terasa sesak, sampai aku tak bisa bernapas. Bukan, Bunda tidak akan membunuhku, tentu saja TIDAK. Aku merasa aneh saja dengan pelukan Bunda pagi itu, tapi aku menemukan kedamaian dalam pelukannya.

Yang lebih aneh, bukan saja memeluk, punggungku basah oleh airmata Bunda. Bunda menangis?! Aku menarik diriku lalu menatap bulat bola matanya. Mata yang kumiliki darinya. Bibir tipis namun penuh yang juga kupunya. Warnanya merah muda. Kami berdua saling menatap. Ada wajah duka disana. Salah apa aku, Bunda, sehingga membuatmu menangis dengan luka? Aku tak mendengar suara tangis Bunda, aku hanya mendapati bahunya turun naik. Dan pipinya basah. Aku menghapusnya dengan lembut lalu mengecup pipinya. Ia kembali memelukku erat. Sangat erat.

Setelah pagi yang berbeda itu, hari-hari berikutnya juga menjadi hari yang berbeda. Banyak orang datang. Tidak seperti biasa orang berkumpul, tertawa, merangkai bunga, mengusung rangkaian bunga yang sudah jadi. Hari-hari setelah pagi itu diisi oleh tangis Bunda. Setiap ada orang baru yang datang, kembali Bunda menangis sambil berpelukan. Lalu mereka menatapku yang berdiri di ujung tak mengerti. Aku benci tatapan itu. Tatapan aneh. Aku tidak merasa ada yang aneh dalam diriku. Aku tahu ada yang berbeda. Aku menyebut diriku ISTIMEWA.

Dari sekian banyak orang yang datang, hanya satu orang yang membuatku nyaman. Berbeda dari teman-teman Bunda yang datang, memeluk Bunda, menangis bersama, lalu menatapku dengan aneh. Namanya Reja. Berbeda dengan yang mereka lakukan, Reja tidak menatapku dengan aneh. Reja menghampiriku dan memelukku. Dia menggendong, mengecup kening, dan membawaku menjauh dari tatapan mereka.

love teddyREJA. Nama yang aneh. Well, aku tidak suka menilai ANEH. Aku lebih suka menyebutnya BERBEDA. Hubungan Reja dengan Bunda cukup dekat. Reja selalu datang di acara istimewa Bunda. Bunda juga begitu. Kami datang di acara pernikahannya. Reja kelihatan sangat cantik dan berbeda. Suaminya juga begitu baik.
Selang beberapa waktu setelah pagi itu, baru aku mengerti mengapa aku berbeda. Bunda membawaku ke sebuah tempat yang disebut sekolah. Berbeda dengan sekolah dimana kakak lelakiku bersekolah. Sekolah untuk anak-anak berbeda. Istimewa. Kami tidak diperbolehkan bertemu dengan Bunda dan Ayah, dan satu-satunya kakak lelakiku. Baru kemudian aku tahu sekolah seperti ini disebut ASRAMA. Asrama sekolah ini tempatnya sangat jauh. Aku sering … sangat … sering … kangen pada Bunda dan Ayah. Walau kakak lelakiku sangat bandel dan sering merebut mainanku, aku juga kangen dia. Kangen berebut mainan, seringkali, dan aku memenangkan pertengkaran setelah memukulnya, hehe. Aku kangen dia. Aku tahu dia juga kangen aku, atau pukulanku, haha.

Beberapa kali Reja datang bersama suaminya. Masih sama seperti sejak pertama kali di awal pagi itu, Reja tak menatapku dengan aneh. Setiap datang ia memelukku, mencium kening atau pipiku, dan membawakanku mainan. Belakangan setelah aku bisa membaca, Reja sering membawa buku cerita anak-anak. Ternyata Reja sendiri yang mengarangnya. Cerita lucu dan mendidik. Ada beberapa yang terinspirasi dari kenakalanku, katanya.

love letterPADA SUATU PAGI YANG BERBEDA. Aku memberanikan diri untuk meminta sesuatu pada Bunda. Sesuatu, yang bagiku, bagi kami, terlalu mustahil karena harganya yang tak terjangkau. 25 dengan nol enam angka adalah angka yang sangat spektakuler. Bunda tak menjawab ya atau tidak. Bunda hanya menangis. Kemudian terpekur. Duh, aku menyesal dan sedih sekali membuat Bunda menangis. Aku mencium pipinya kemudian berlari meninggalkan Bunda dan Ayah yang sibuk menenangkan Bunda. Reja mengejarku. Kakak lelakiku mengikutinya dari belakang. Aku bersembunyi. Reja tahu dimana bisa menemukanku. Dia memelukku dan berkata-kata yang aku tak mengerti. Aku menangkap bibirnya bergerak-gerak. Dia berbicara dalam bisikan terlalu cepat. Aku tak mampu membaca bibirnya. Aku hanya bisa mengerti sedikit yang dia bilang setelah ia menggendongku dan menatap mataku.

“Suatu hari nanti. Suatu saat nanti aku pasti mewujudkannya untukmu.”

DAN HARI ITU PUN TIBA. Waktu sepertinya berulang. Bunda menangis. Ayah menenangkan Bunda. Kakak lelakikku tak sabar berada di samping Reja. Dan Suster kepala membantuku memasang sesuatu yang pernah kuminta pada Bunda dan hanya terjawab oleh air mata. Reja yang mewujudkannya. Reja memagang janjinya. Terima kasih, Reja.

AKU KINI BISA MENDENGAR. Walau suara yang aku dengar tak sama seperti yang Bunda, Ayah, Kakak Lelakiku, dan Reja dengar. Aku memang berbeda. Suara yang aku dengar pun berbeda. Tapi kini duniaku tak lagi sunyi. Aku bisa mendengar suara Bunda yang lembut. Suara Ayah yang tegas. Suara Kakak Lelakiku yang ceria. Dan Reja yang lebih sering tersenyum dari berkata-kata.

TERIMA KASIH, REJA !!!

rejaREJA. Nama yang aneh. Ouff, maaf, bukan aneh. Aku lebih suka menyebutnya berbeda. Namanya berbeda dari nama kebanyakan. Sekarang baru aku tahu namanya. Bukan nama yang aneh, hanya berbeda. Retas Senja : ReJa. REtas senJA.

Nama yang unik.

Dia sangat istimewa.

Dan aku mencintainya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kusongsong sinar mentari pagi
Hangat tawarkan gairah hidup
dan ……..
Kubuka tirai hari dengan seribu cerita
Kurentangkan seluruh hari
Dengan senyum ceria,
sarat dengan harap dan cita-cita
Penuh gelak tawa yang membiaskan pesona
Kumenjelajah awan biru
Kumenempuh jalan yang penuh liku
Dan kutiti petak-petak penuh debu
Bahkan seribu kerikil dan batu
Kulalui semua itu dengan tekad dan harap Untuk meraih makna kehidupan
Segala puja dan puji kusanjungkan
sebab ……..
Keagungan Allah semakin kurasa
Meski aku lahir tanpa kesempurnaan indera
Nada dan suara tidak pernah kudengar

Namun Tuhan memberi aku :
Orang-orang yang berhati mulia
yang tangannya lembut menyentuh rasa
yang membawa aku sampai mampu wicara
Dunia semakin terbuka bagiku
Hingga sunyi dan sepi tak lagi kurasa.

“la menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata”.
Dedicated to Mutiara Tercipta, my beautiful niece, i love you

Leave a Comment

Previous post: Secangkir Teh Kayu Manis dan Kamu

Next post: A Simple Happiness