Does Beauty Still Rule ?

by lusia on March 1, 2010

… sambungan Jangan Bicara Tentang Cinta

KARANGWUNI, Jogja. Setahun setelahnya …

beautiful

PINDANG BERANI MATI *)

Bahan :

-         1 ekor ikan kakap, siangi, potong-potong

-         2 sendok makan air jeruk nipis + garam secukupnya

-         3 ruas jari kunyit, kupas, bakar, parut

-         3 ruas jari jahe, bakar, iris tipis

-         6 buah bawang merah, bakar, potong kasar

-         3 buah cabai merah, bakar, belah 4 bagian

-         15 buah cabai rawit merah dan hijau utuh

-         3 buah tomat hijau, belah dua

-         50 cc air asam jawa

-         1 sendok teh garam

-         1 liter air

-         1 batang daun bawang, potong kasar

“May, ambil nangka dan alpokat yang ada di kulkas, nangka dipotong-potong, buah alpokat dikeruk, terus kelapa muda yang udah aku siapkan tinggal dikeruk dagingnya, siapin di mangkuk yang ada di sebelah kiri itu. Please,” pintaku pada Mayang.

“Sirup mocca, vanili dan susu cairnya sekalian disiapin, Ren?”

“Uhm, iya iya, ada di kulkas semua deh.”

Cara buat :

-         Lumuri ikan dengan air jeruk nipis dan garam. Diamkan 15 menit. Sisihkan.

-         Didihkan air. Masukkan semua bahan.

-         Setelah hampir mendidih, masukkan ikan pindang.

-         Aduk perlahan, masak sampai mendidih.

Es Tropikana*) ya, Ren? Wah, cocok niy!” Mayang mengamat-amati bahan-bahan yang ada dihadapannya.

“Yup! Es Tropikana buat desertnya. Main coursenya Pindang Berani Mati, untuk dua sahabat berani matiku!”

Mayang tertawa kecil. Dia suka dengan sebutan sahabat berani mati yang kami cipta dulu.

“Gelas rampingnya ada di lemari sebelah kanan, May. Tuang campuran susu. Masukkan semua buah. Pecahin es batu, atau kalau nggak mau terlalu dingin, nggak usah pake es serut tapi masukkin aja ke kulkas. Sip?”

“Sip! Duh, Vin mana siy?” Mayang melongok-longok ke ruang tengah dimana Vin sedang bebaringan sambil baca buku. “Viiin, lo mau Tropikananya pake es SERUT apa dingin aja masukkin kulkas?” teriak Mayang.

“Bikin dua buat aku! Satu pakai es langsung mau diminum, satu lagi masukin kulkas buat entaran abis makan.”

“Payah, nggak bantuin bikin maunya dobel. Nggak bisa! Nggak ada porsi dobel,” omel Mayang.

“Bisa kok, May, kalau lo nyiapin bahannya sesuai catatan aku disitu, bisa cukup buat lima porsi. Tenang aja, lo juga boleh dobel,” kataku menengahi.

Bahan :

-         1 kaleng leci

-         100 gram nangka, potong-potong

-         1 buah alpokat, ambil isinya

-         1 buah kelapa muda, ambil dagingnya

-         300 cc susu cair + 50 cc sirup vanili, campur jadi satu

-         50 cc sirup mocca

-         es batu secukupnya

“Ren, lo udah baca BEAUTY CASE *) belum?” tiba-tiba Vin nimbrung di dapur sambil menggamit buku lumayan tebal dengan cover warna permen.

“Uhm, jelas udah dong! Kenapa?” aku mengernyit heran menatap wajah cantik Vin – dan tentu saja pertanyaan nggak jelasnya. Toh buku itu dia ambil dari rak bukuku. Dan semua buku yang ada di rak bukuku sudah ludes aku baca. Bahkan ada beberapa yang kubaca lebih dari sekali.

“Ren, wah baunya Pindang Berani Mati lo seddeeep banget deh!” Mayang menyela. “Kenapa siy namanya PINDANG BERANI MATI *) ???” heran Mayang nggak penting.

“Soalnya pindang ini berani mati demi kenikmatan perut kita,” jawabku asal.

Mayang terkekeh mendengar jawaban asalku.

“Ren, define beauty, menurut lo?” tanya Vin lagi sambil mengambil tempat duduk di atas meja sebelah tempat Mayang menata racikan Tropikana, yang tentu membuat Mayang uring-uringan.

“Beauty?” aku mengedik, nggak konsen, perhatianku pada kepulan kuah mendidih di penggorengan dan aroma sedap yang menusuk-nusuk hidung.

“Menurut lo apa, May?”

Mayang terkekeh ringan. “Kamu, nanya Mayang, apa definisi kecantikan? Yang pasti bukan fisik deh! Lo lihat lah sejauh mana kecantikan seorang Mayang. I am not beautiful, phisically, then I found my beauty in my inner. My great confidence makes me beautiful.”

“Okay, jadi menurut lo, kecantikan itu seberapa besar kita pede,” Vin ngangguk-angguk.

“Kurang lebih begitu, tapi kalau dirumuskan begini nih : kecantikan bukanlah terletak pada penampilan fisik, tapi rasa percaya yang ada dalam diri kita akan memunculkan kecantikan dari dalam. See?” jelas Mayang sok penting banget.

“Kalau menurut lo, Ren?”

“Kenapa sih tiba-tiba ngomongin tentang kecantikan?” aku balas membalik dengan pertanyaan.

“Menurut lo semua, gue cantik nggak siy?” tanya Vin nggak pede.

“VIIIIN? LOOOO? CANTIIIIK?” jawab aku dan Mayang spontan, hampir berbarengan.

Vin terkikik geli mendapati reaksi aku dan Mayang yang berlebihan.

“Lo tuh cantiiiiiik banget, Bu!” kataku.

“Kalau lo nggak cantik, terus aku apa dong?” geli Mayang. “Cuma orang buta aja yang bilang lo tu nggak cantik,” tambah Mayang.

“Dan Simon tu buta kalau lagi-lagi dia berselingkuh,” sungutku sambil mengangkat masakan dan menempatkannya di mangkuk kuah.

“Kok lo tahu kalau Simon selingkuh lagi?” tanya Vin lugu.

“AGAIIIIIIN?” aku dan Mayang – lagi-lagi – hampir berbarengan.

“Aku tahu Ren cuma nebak kok. Kan emang udah sering begitu. Lo tu jadi nggak cantik gara-gara kebodohan lo mempertahankan hubungan lo sama Simon yang nggak sehat,” kata Mayang gemas.

“Menurut lo, gue cantik karena apa?” tanya Vin masih nggak pede.

“Karena lo tu emang cantik dari lahirnya, Bu. Bukan melulu karena lo lahir brojol dari keluarga kaya yang pastinya bisa merawat tubuh lo di salon-salon mahal. Itu iya juga siy,” selingku dengan tawa sekaligus menyesali betapa tidak adilnya duniaku dibandingkan dunia Vin. “Lo tu punya semuanya, Vin. Cantik fisik, cantik hati, cantik semuanya deh. Satu hal yang menyesalkan, kamu masih bertahan dengan CINTA Simon yang selalu nyakitin kamu, tapi karena sikap survive kamu itupun, menurutku, mempercantik kepribadian kamu.”

“Lo lagi baca buku tentang kecantikan ya?” May mencuri lihat judul di cover permen.

“Lo belum baca, May?” tanyaku heran. BEAUTY CASE termasuk salah satu buku yang kubaca lebih dari sekali. Menurutku, ini buku ringan yang lumayan penting buat dibaca semua cewek (dan cowok juga) karena isinya yang penting banget buat cewek, dan cukup bikin aku berpikir apa siy definisi kecantikan? Aku bahkan nyaris hapal definisi kecantikan di BEAUTY CASE.

Beberapa pandangan cowok tentang kecantikan :

  1. Cantik adalah seksi.
  2. Cantik adalah cewek berbadan ramping, kulit putih, berambut panjang, berkelakuan manis.
  3. Cantik adalah relatif dan jelek adalah absolut J

Kecantikan menurut Icha Rahmanti (Beauty Case – Define Beauty) :

  1. Cantik adalah masalah asosiasi, aturan tak tertulis di kepala yang akhirnya mendeskripsikan kecantikan itu sendiri.
  2. Cantik adalah masalah form & order ; semakin cantik seseorang maka semakin simetris antara muka kanan dan kirinya.
  3. Cantik adalah relatif, berhubungan dengan faktor psikologis yang rumit dan perasaan adalah penyebabnya.

See?

beautyIcha mewakili pandangan cewek, toh sama juga dengan pandangan cowok. Kecantikan itu RELATIF. Hal ini terjadi karena kompleksitas perasaan dan pengalaman hidup manusia. Manusia yang tumbuh dalam kasih sayang ibunya akan mengartikan cantik itu seperti ibunya. Atau sebaliknya. Pokoknya kompleks banget deh, menurutku siy, dan kayanya banyak yang mengiyakan deh. *)

Everyday is so wonderful

And suddenly it’s hard to breath

Now and then I get insecure

From all the fame, I’m so ashamed

I am beautiful no matter what they say

Words can’t bring me down

Am beautiful in every single way

Yes, words can’t bring me down

So don’t you bring me down today

Beautiful-nya Christina mengalun lembut dari sound di ruang tengah. Pas banget dengan obrolan pendek sambil menyiapkan menu makan siang.

“Pindang Berani Mati untuk dua sahabat berani matiku,” aku menghidangkan menu spesial di meja makan. Tak lagi memusingkan definisi cantik. Mayang mengikuti langkah dibelakangku dengan senampan berisi 5 gelas Es Tropikana. Semua diberi topping es serut dan buah cherry.

Kami makan dalam diam. Namun dalam keterdiamanku, (ternyata) aku (masih) berpikir tentang kecantikan dan kroni-kroninya.

… … … bersambung … … …

Leave a Comment

Previous post: Jangan Bicara Tentang Cinta !!!

Next post: Sahabat Berani Mati