Dipelukan Bayang Bayang Bintang

by lusia on February 20, 2010

pelukanSenja masih terlalu sore untuk disebut malam. Aku meringkasi isi tas yang sebagian tercecer di atas meja kerja. Buku agenda. Pena. Name tag perusahaan. Sisir. Bedak. Lipstik. Aah, banyak betul barangku, aku tersenyum sendiri. Ini akhir minggu dan aku tidak punya rencana berarti.

Pesan singkat darinya kuterima sore ini. Mengabarkan dia akan menikmati akhir minggu bersama dua perempuannya. Aaah, bahagiamu, Sahabat. Dia memiliki bahu untuk bersandar, lengan untuk memeluk, dan senyum yang meneduhkan dari dua perempuanmu. Dua !!!

Aku tersenyum sendiri. Pahit. Harusnya aku bahagia melihat Raka bahagia. Oh ya. Tentu aku bahagia. Tiada yang membahagiakan selain melihat orang yang kita sayang bahagia. Ya. Harusnya aku juga bahagia melihat lelakiku bahagia memilikiku. Tapi tahukah dia aku tidak bahagia?

Lelakiku, begitu singkat waktu yang kuhabiskan bersamanya. Belum pula berbagi dengan kesibukan yang lain. Tapi kini dia seperti orang asing bagiku. Ataukah aku yang mengasingkan diri? Entahlah. Tidakkah dia tahu aku selalu berusaha menghangatkannya? Lenganku siap memeluk kapanpun dia butuhkan. Senyumku tercurah untuk menceriakan harinya. Dan hatiku selalu terbuka untuk menerima cintanya. Ataukah aku yang mulai menghitung berkat yang harusnya tulus kuberikan padamu?

Katanya, yang namanya cinta adalah melakukan segala hal untuk kebahagiaan orang yang dicintainya. Dengan tulus. Tanpa mengharap kembali. Ataukah, aku mulai tidak tulus mencintainya? Karena aku berharap dia memberikan kembali kebahagiaan yang kuciptakan untuknya? Yaaah. Mungkin aku mulai berhitung. Dan itu tidak benar.

“Mbak Ris, saya duluan. Have a nice weekend yah!” Putri, sekretaris Branch berlalu dari meja kerjaku. Rambutnya yang kuncir kuda dengan pita warna ungu mengingatkanku pada Sacha di serial OB.

“You too, Put! Salam buat Mama,” sahutku. Putri melambai dan berlalu dari hadapanku. Berganti wajah kekar milik Putra muncul di dinding cubicleku. Senyumnya mengembang. Gigi putihnya berderet menyilaukan. Ah. Ha. Aku berlebihan.

“Nape Put?” sahutku cuek sambil memasukkan semua pernak-pernikku ke dalam tote bagku.

“Weekend kemana?” tanyanya. Tangannya usil meraih lipstik pinkku.

“Nggak kemana-mana,” sahutku.

“Jalan yuk!” ajaknya. Kini dia beralih ke kursi di hadapan meja kerjaku.

“Malas ah. Capek,” sahutku sekenanya.

“Iya nggak jalan deh. Naik mobil!” katanya lucu.

“Garing!” sahutku acuh.

Putra terbahak. “Ris, kamu kenapa siy nggak pernah mau aku ajak keluar? Jalan. Cuma makan doang. Nonton. Nggak ngapa-ngapain juga.”

Aku menatapnya dengan tatapan – please – deh – tapi sepertinya Putra tak menangkap sinyal tatapan gangguku. Putra masih duduk di tempat yang sama saat aku selesai beberes.

“Aku pulang ya, Put. Kamu jagain mejaku aja. Jangan sampe dibawa pergi keong,” kataku.

mawar 3Putra tertawa. Tangannya menyentuh jemariku. Tatapannya meminta tapi tidak memaksa. Sebenarnya, Putra adalah pria single yang menarik. Lucu, santun, dan tampan. Tapi entah. Sejak Raka menjadi mantan kekasihku, menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang cantik, dan kemudian aku menikah dengan lelakiku, yang saat ini aku tak merasakan kebahagiaan karena kehilangan kehangatannya, hatiku sepertinya mati. Tertutup. Ya memang harusnya begitu kan. Semenarik apapun Putra.

“Have a great weekend, Dear,” kata Putra lebay. Aku mengangguk lalu berlalu darinya.

“Ris,” panggil Putra lagi. Aku mendapatinya tengah menatap tubuhku lekat yang berada di ambang pintu keluar ruang kantor. “If you need a friend to spend your weekend, you know where you can find me.”

“Thanks,” aku tersenyum. Tidak seharusnya aku bersikap sinis padanya. Hanya karena aku tahu Putra suka padaku dan aku bukanlah perempuan yang available lagi. Putra terlalu menarik untuk ditolak. Justru karena alasan itulah aku menolak.

Selama menunggu lift terbuka, aku merasakan saku blazer ku bergetar. Aku meraih ponselku dan terpampang nama : Ka. Raka. Uff. Tiba-tiba sebersit rindu menyelip tanpa diminta dan tak mampu aku tolak.

“Hai Raka,” sahutku dengan suara gemetar. Tiba-tiba aku merasa letih dengan rasa rindu yang tiba-tiba.

“Kamu sudah pulang?” tanyanya. Suaranya yang berat dan menenangkan selalu mampu memberi sensasi damai untukku.

“Sedang akan mau pulang.”

Raka tersenyum mendengar jawabanku. “Kamu baik-baik, kan?” tanyanya.

“Ya,” sahutku singkat.

“Riska,” suaranya seperti sedang menghela. “Dia belum juga kembali?” tanyanya retoris. Raka tahu, lelakiku entah kemana tak ada kabar sudah hampir sebulan ini.

“I’ll be fine soon, Ka. Don’t worry.”

Raka menghela nafas lagi. Aku ingin Raka bilang akan menemaniku. Aku rindu cinta Raka yang menenangkan. Yang mencintaiku. Yang menjagaiku. Yang melindungiku. Raka adalah cinta yang nyaman. Raka adalah cinta yang aku butuhkan. Tapi itu dulu. Dan sekarang pun aku tak pernah mampu memilikinya.

“Have a great weekend for you and your family, Ka,” kataku perih. Adakah yang bisa mengerti perasaan sepiku?

“Riska,” suara Raka terdengar berat. “Aku tak bisa menemanimu, tapi aku ingin kamu tahu, aku ingin keadaan membaik. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu. Sejak aku tak mampu memberimu bahagia.”

Aku ingin menangis. Tanpa sadar aku sudah menangis.

Malam minggu sisa malam itu aku habiskan dengan duduk di teras Belle View. Resto outdoor dengan ginger tea-nya yang menenangkan. Sambil menimang-nimang sebatang rokok putih dan menyesali lupa membawa koreknya. Sudah sebulan ini aku kembali merokok. Sejak kepergian lelakiku.

Tiba-tiba seseorang menawarkan api. Dia berdiri gagah disandingku. Aku mendongak dan mendapati senyum manis dan deretan gigi putih yang menyilaukan itu. Putra. Senyumnya teduh. Dia bertanya dengan santun apakah aku keberatan bila dia duduk di kursi di depanku. Aku menggeleng. Aku butuh teman, kurasa. Walau aku tak membuka hati untuk Putra, tapi ya, aku butuh teman malam ini.

Putra menceritakan hal-hal lucu yang membuatku tertawa. Tatapannya teduh. Dia meminta tapi tak memaksa. Kerlip bintang di atap langit seperti mengerti galau rasaku malam ini. Senyum Putra bagaikan bayang-bayang bintang yang menghangatkan.

hug

Leave a Comment

Previous post: Racun Otak

Next post: Renata Mencari Cinta