Diamond Cafe

by lusia on February 23, 2010

… sambungan dari Raka, Api Cintaku !

Raka itu, … ah enggak enak ngomongnya sama kamu.

Hati-hati dengan Raka. Kamu belum kenal dia.

diamondSejak itu aku dan Raka makin dekat. Janji yang kubuat di 20012001 untuk mengawali sekaligus mengakhiri dunia malam itu kandas. Aku jadi sering nongkrong di Cafe. Sama Raka dan teman-teman bandnya. Aku kenal baik dengan teman-teman bandnya. Nama band mereka : The Simphaty Band yang disingkat dengan SIM Band. Raka mengenalkanku sebagai adiknya.

“Lo adik apanya Raka sih?” tanya Wilda, satu-satunya cewek di SIM Band. Vokalis, duetnya Raka.

“Saudara jauh. Saudara keturunan Adam,” jawabku asal. Terkekeh. Tapi Wilda tidak tertawa. Memang dari keseluruhan personil SIM Band yang terdiri dari tujuh orang, hanya sikap Wilda yang paling enggak bersahabat. Mungkinkah Wilda naksir Raka, dan … yah you know lah. Jealousy.

“Sist, kamu nggak pesen minum?” tanya Raka tiba-tiba sambil merangkul bahuku. Aku sempat menangkap tatapan tajam Wilda ke arah tangan Raka yang nyampir di bahuku.

“Hmm, belum. Entar deh,” sahutku. Sekalipun aku mulai terbiasa dengan lingkungan penuh asap rokok dan alkohol ini, aku belum pernah sekalipun pesan minum kecuali mineral water dan cola. Masalahnya, satu-satunya minuman yang paling cocok di lidahku hanyalah teh panas. Tapi, masa siy mau pesan TEH PANAS ???

“Stt, jangan bilang-bilang Wilda kalau di tas merahku ada Cadbury,” bisik Raka kenceng, jadi Wilda tetap dengar.

“Iiiih, Raka gitu deh. Mana … mana … mana, Wilda minta cokelat!” teriak Wilda dimanja-manjain. Aku empet dengan sikap over-nya. Tapi Raka senyum aja nggak menggubris.

“Sist, aku tinggal dulu ya. Ada orang dari industri musik di sayap kiri. Doakan aku bisa ngelobi dia, ya.”

“Ok. Good luck, Bro!” kataku manis. Bro = Brother; dia kan manggil aku ‘SIST’.

Raka mengacau rambutku sebelum meninggalkanku ke ‘orang industri musik’ itu. Aku menangkap kilat benci di mata Wilda yang nggak sanggup menatap ‘kemesraan’ kami secara langsung.

“Lo tu pacarnya Raka, ya?” tembaknya.

Aku menggeleng. “Bukan.”

“Trus ngapain dia mesra?”

“Mesra? Biasa aja kalee. Itu sayang, bukan mesra. Eh, tapi karena sayang dia mesra,” aku terkekeh nggak penting.

“Ati-ati sama Raka. Kamu belum kenal dia,” tandas Wilda pedas.

Apa pedulimu, Nenek?!

“Raka nggak sebaik seperti kelihatannya,” hasutnya lagi.

“Oh ya?” aku nggak tertarik. Ngapain sih Nenek satu ini sirik banget. Aku pura-pura nggak dengar.

“Raka itu, … ah enggak enak ngomongnya sama kamu. Takutnya, kamu emang belum kenal-kenal banget sama dia. Soalnya gini Ren, sorry lho ya, aku udah kenal Raka lama banget, dan selama aku kenal sama dia, belum pernah aku tahu ada kamu dalam hidup Raka. Lagian, dia nggak punya adik. Dia kan anak bontot. Jadi aku masih curiga aja kamu ini siapanya Raka. Sorry lho Ren. Kalau memang kamu mau pacaran sama Raka, pikir lagi deh. Kamu bukan pacarnya Raka kan? Kalau memang belum, dengerin aku deh. Aku  tahu banget siapa Raka, dan kalau kamu enggak siap tahu siapa dia, hati-hati aja. Prepare for the worse thing,” Madam Hortensia dengan sapu terbangnya itu terus meracuni otakku dengan ramuan kata-kata sihirnya.

“Oke deh, aku mau tanya, Raka udah cerita belum sih kalau dia –“ tambahnya lagi, lalu …

“HAAAAAAI, GALS !!!” tiba-tiba Johan, sound engineringnya SIM Band, mencairkan perang dingin antara aku dan Wilda. “Minum dulu deh, Gals!” Jo mengulurkan dua gelas ramping ke arahku dan Wilda.

Wilda mengangkat botol warna orange-nya tinggi-tinggi. Isinya mineral water. Artinya, dia bawa minum sendiri.

“Buat kamu, Nona Manis,” Jo menyodorkan gelas ramping itu ke arahku.

“Apa ini?”

“Lemon Squash.”

Sambil mengucap ‘thanks’, aku menyedotnya dari straw warna hijau cerah. Lumayan ada yang mesenin. Well, obrolan nggak penting sama Wilda tadi membuat tenggorokanku lumayan kering.

“Kok, ada alkoholnya ya, Jo?” aku spontan menjauhkan gelasku dari mulut.

“Duh Nona Manis, kok nggak tahu siy, disini nggak ada beverages yang non alkohol, Sayang.”

“Uhm, really? Aku minta coke aja.”

“Cobain enak deh, enggak papa. Kadarnya kecil kok.”

Aku meminumnya lagi. Uhm, memang enak siy. Segar. Aku menandaskan dengan sekali tarik. Jo dan Wilda memperhatikanku dengan senyum nyengir.

“Ambil aja punyaku, Ren. Aku minum ini kok!” Wilda menunjukkan botol orange-nya dan menyorongkan gelas rampingnya kehadapanku.

“Oke. Thanks.”

Wilda, dan semua anak SIM naik panggung lagi. Aku duduk berdua dengan Jo. Raka melempar senyum dari atas panggung. I love the way he does. Raka menyanyi di panggung. Aku menikmati di bawah panggung. Di tempat aku duduk. Di dekat bar desk. Aku jadi tahu kenapa Raka dulu bilang ‘stay sit there’ karena dari tempat Raka berdiri diatas sana, aku kelihatan jelas. Lampu remang di atasku menyorot aku dengan teduh. I’m in the spot light, Dear !!!

Tapi, uhm, apa tadi Wilda bilang? Tiba-tiba ramuan sihir kata-kata Wilda Hortensia mulai bereaksi meracuni pikiranku. Kamu belum tahu Raka, Ren – Dia nggak sebaik kelihatannya – Raka pernah bilang tentang – Duh, apa ya? Penting nggak sih? Racun kata-kata Wilda merasuki darahku. Duh! Kenapa aku tiba-tiba terjangkit virus Wilda-Paranoia? Nggak penting banget !!!

Uhm, 1-10, Wilda = 2 !!!

love

“Euufff, capek banget, Sist!” Raka menghempaskan tubuhnya di sandingku. Satu persatu anak-anak SIM Band berkumpul di sofa tempat aku duduk.

“Pijat Masas, Om?” godaku.

Raka tertawa kecil sambil memukul kepalaku gemas.

“Tadi aku lihat kamu ngobrol sama Wilda? Ngobrol apa aja, Sist?” tanyanya lagi.

“Uhm, tanya-tanya nggak penting.”

“Tanya apa? Kamu siapanya Raka, gitu?” tebaknya. Lalu, tawanya berderai.

“Makanya, aku bilang, nggak penting,” sahutku cuek.

“Dia selalu gitu,” Raka menggumam.

“Kalian pernah ada cerita ya?” aku jadi penasaran.

Raka menyeling dengan tawa, membuka mulutnya seperti mau mengatakan sesuatu, lalu terdiam, berpikir, dan nggak jadi menjawab.

“Wilda suka sama kamu?” desakku.

“Mungkin. Nggak tahu. Pinjem kata-kata kamu : nggak penting.”

“Iya siy, tadi dia nanya aku siapanya Raka. Ya aku jawab : adik, masih saudara jauh, saudara keturunan Adam, ya kan, Bro?”

Raka tertawa renyah. Tawanya terdengar sangat enak ditelingaku. Lagi-lagi Raka mengacau rambutku. Aku suka caranya membuat rambut rapiku berantakan.

“Aku harus jawab gimana, Bro? Pacar kamu?”

Raka menatapku serius dengan mata elangnya. Senyumnya tersembunyi. Tapi cara dia menatapku itu membuatnya semakin terlihat tampan dan charming. Please, jawab iya, Ka. Iya, aku pacar kamu. Iya, Renata pacar Raka. Paksa aku menjawab itu di depan Wilda. Akui aku sebagai pacar kamu … pleeeeasseeee …

“Dia lumayan tahu banyak tentang masa laluku, jadi aneh aja tiba-tiba muncul seorang Renata jelek kaya kamu dalam hidupku,” katanya sambil menyentil hidungku.

“Kehidupanmu dikelilingi cewek-cewek cantik kan, Bro. Makanya aneh aja ada seorang Ren jelek ini dekat sama kamu,” aku merajuk dibilang ‘jelek’. Raka tersenyum geli menangkap sinyal manja dariku.

“Nggak penting, tahu nggak?” lagi-lagi Raka mengacau rambutku yang mulai kacau.

“Yee, that’s my word, udah didaftarin hak ciptanya. Nggak bisa dipakai semena-mena.”

Raka tertawa enak lagi sambil mengemasi tas merahnya.

“Mau langsung pulang, Bro?” tanyaku. Aku melirik jam. Duh, baru setengah tiga. Masih tiga jam lagi untuk mencapai waktu – jam – pulang – normal J Sudah bisa dipastikan PLA.NET akan jadi pilihan. Warnet milik teman Raka yang punya nama Flavianus. Lalu dipilihlah nama PLA. Pilihan nama yang unik. PLA.NET jadi favorit kami menghabiskan subuh menanti pagi. Pilih kabin nomer 20 yang sofanya paling panjang. Order PAKET 3jam dengan biaya delapan ribu (jauh lebih murah dari biaya short-time, hehehe). Lalu aku terlelap disanding Raka sementara Raka chatting dengan teman-teman virtualnya.

“Btw, bagaimana obrolan dengan orang musik tadi, Bro?” tanyaku masih memperhatikan Raka yang memberesi barangnya yang banyak dalam tas merah besarnya.

“Oh ya,” Raka menghentikan sejenak kegiatannya berkemas, lalu menatapku dengan mata elangnya. Freezed. Aku suka caranya menatapku. Membuatku sejenak terlempar ke negeri antah berantah. “Bantu doa ya Sist, mudah-mudahan lancar. Prospeknya siy bagus. Mereka minta portofolioku.”

“Artinya?” tanyaku nggak ngerti.

“Mereka menawarkan proyek solo. Jangan bilang anak-anak SIM Band dulu ya. Sebelum semua jelas aku nggak mau teman-teman tahu dulu. Cuma kamu dan Indra yang tahu. Nanti deh kalau udah ada progress lagi aku pasti kasih tahu mereka. Akur?”

“Siip!!!” aku mengacungkan dua ibu jariku. Indra adalah keyboardis SIM Band.

“Sist, kamu jadi order minum apa tadi?” tanya Raka kemudian.

“Si Jo yang pesenin aku minum. Lemon Squash.”

“Squash? Ini gelas kamu?” tanya Raka sambil menunjuk gelas ramping di atas meja. Kali ini ia benar-benar menghentikan kegiatan mengemas tas yang sedang dilakukan. Diletakkannya tas merah besar itu begitu saja dan menatapku dengan tatapan yang aku nggak ngerti.

Aku mengangguk. Polos.

“Kamu minum berapa banyak?” tanyanya lagi. Mengintimidasi. Duh, kenapa siy?

“Dua. Punya Wilda dikasih ke aku, ya udah aku abisin. Kenapa sih, Bro?”

“Kamu ngerasa pusing?”

Aku menggeleng. Bro, ada apa siiiiiy ????

Aku menangkap geretak rahang Raka. Duh, ada apa siy? Ada yang salah?

“Johan yang kasih ini ke kamu?” ulang Raka meminta kepastianku, kali ini nggak bisa menyembunyikan amarahnya.

Aku mengangguk takut-takut.

Raka meninggalkanku mencari sosok Jo. Aku mengikuti dengan pandanganku.

“Jo, kenapa kamu kasih Renata Long Island?” aku mendengar Raka bicara agak keras, well sambil mencengkeram lengan si kurus Jo.

“Uh, itu kan cuma Long Island, Ka,” Jo membela diri.

“CUMA? Lo bisa dikasih kepercayaan nggak sih? Cuma gue titipin adik gue selama gue di stage. Lo kasih dia yang nggak bener.”

“Bro, sudahlah. Lagian aku nggak papa kok. Raka, sudahlah. Kita pulang aja,” aku mencoba menengahi. Tidak enak jadi tontonan anak-anak SIM Band dan beberapa barista.

“Jangan bikin perkara ma gue, ya lo Jo!” geram Raka pada Jo.

Jo minta minta maaf ke Raka berulang-ulang. Sedetik kemudian Raka menggamit lenganku dan keluar dari Diamond tanpa pamit. Masih dengan tatapan bingung aku mengikuti langkah Raka yang terburu. Aku sempat memperhatikan tatapan mata anak-anak SIM Band beralih-alih dari aku dan Raka – lalu Jo, sambil bertanya-tanya : ADA APA SIY ?

“Lain kali kalau mau MINUM harus sama aku,” kata Raka padaku, dingin.

“Aku nggak tahu itu Long –,” aku nggak tahu bagaimana menyebut Long Island.

love

Di PLA.NET baru aku merasakan dampak dari Long – something. Pusing. Berputar. Perutku seperti digerus-gerus. Aku tepar di sofa panjang kabin 20. Jadi gini toh rasanya over load, kebanyakan minum. Aku kan cuma minum dua gelas. Tapi karena hanya terbiasa diisi teh panas, paling banter coke, lalu dimasuki dua gelas cairan alkohol alhasil perutku mengaduh.

Duh, … … … enggak … … … eeeenak … … … banggeeeet … … …

“Pusing ya?” tanya Raka penuh perhatian sambil memijat kepalaku.

Aku mengangguk dengan mata terpejam.

Raka melepas jaketnya dan menyelimuti tubuhku. Uhm, so sweet. “Tunggu sini bentar ya, Sist.” Raka meninggalkanku. Dingin. Aku merasakan hembusan AC di atas kabin 20. Tapi hatiku hangat merasakan perlakuan Raka yang gently banget. Begitu seharusnya laki-laki. Cool. Gentle.

“Kamu mau teh panas?” tanya Raka sekembalinya dari luar.

TEH PANAS? Did he say something about – HOT – TEA ??? Oh yeach, perfect!!! Finally, I meet my mate beverage! Ketemu jodohku! Teh panas!

Pintu kabin diketuk pelan. Petugas warnet datang dengan dua gelas minum. Aku bisa melihat kepulan teh panasku. Cihhhuiiii what a perfect drink !!!

“Mas, bisa minta tolong kecilkan AC di kabin ini?” tanya Raka sopan.

Petugas warnet itu mengangguk.

“Sist, kamu belum pernah loading kan?” Raka memulai wejangannya. Loading adalah istilah anak SIM Band untuk mengijinkan cairan ‘laknat’ merasuki sendi-sendi tubuh lewat darah. “Besok lagi kalau pengen, bilang sama aku. Biar aku bisa jagain kamu. Dan … bla bla bla, bzzz bzzz bzzzz …”

Aku terlelap.

Aku masih bisa mendengar samar-samar Raka menggerutu dan tertawa kecil karena aku tertidur. Lalu, masih bisa kurasakan sentuhan lembutnya di kakiku. Raka menarik jaket super jumbonya menutup tubuhku.

So sweet.

… … … bersambung … … …

Leave a Comment

Previous post: Raka, Api Cintaku !

Next post: Purest Pain