<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>serpih serpih serpih serpih &#187; Pursuit of Love</title>
	<atom:link href="http://serpih.com/category/pursuit-of-love/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serpih.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Mar 2010 09:43:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Namanya Rangga</title>
		<link>http://serpih.com/namanya-rangga/</link>
		<comments>http://serpih.com/namanya-rangga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 04:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Species Manusia &#8211; which one are you ?
Sejak Vin menyatakan ketidaksukaannya pada hubunganku dengan Raka, uhm &#8230; lebih tepatnya, pada perasaanku untuk Raka. Aku tak pernah punya pacar. Aku tidak mencari pacar karena aku sudah menemukan sosok yang tepat pada Raka. Sudah kubilang, Renata tidak mencari cinta. Aku menunggu cinta Raka jatuh padaku. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Species Manusia &#8211; which one are you ?</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-466" title="R" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/R.gif" alt="R" width="137" height="123" />Sejak Vin menyatakan ketidaksukaannya pada hubunganku dengan Raka, uhm &#8230; lebih tepatnya, pada perasaanku untuk Raka. Aku tak pernah punya pacar. Aku tidak mencari pacar karena aku sudah menemukan sosok yang tepat pada Raka. Sudah kubilang, Renata tidak mencari cinta. Aku menunggu cinta Raka jatuh padaku. Walaupun Vin masih terus menanamkan doktrin untuk meyakinkanku bahwa Raka bukan orang yang tepat untukku sebagai pacar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka memang memiliki segala yang diinginkan seorang perempuan. Wajah tampan. Kemapanan, oh well, maksudku materi. Dan ketenaran. Tapi dia bukan orang yang  tepat untukmu hidup bersama, Ren. Aku bilang ini karena aku sayang kamu,” cerocos Vin melancarkan serangan doktrinnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Yeach. Dan setelah ini pasti tentang Raka yang &#8230;<span id="more-464"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Raka tuh dikelilingi banyak perempuan. Cantik. Seksi. Mungkin, mau saja dibawa sana sini. Dan, aku nggak mau kamu jadi perempuan yang ada di posisi itu. Lagian, aneh aja kalau dia nggak tertarik dengan satu diantara mereka. Kamu nggak ngerasa aneh?” tanya Vin dengan tatapan tanpa minta jawaban.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dia sudah tau jawabanku – tak ada yang aneh dengan Raka – lalu, Vin akan melanjutkan dengan kalimat &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Renata dan Rachel, katamu?! Itu yang membuat Raka masih bertahan sendiri? Bilang, aku yang bodoh atau apa. Kamu tahu bagaimana hubunganku dengan Simon. Aku tahu banget dunia orang-orang macam Raka dan Simon. Tak jauh dari minum, perempuan, dan freeseks. Jadi, kalau kamu yakin Raka nggak melakukan itu, pasti hanya masalah WAKTU. Kamu tidak tahu, atau entah, tidak mau tahu. Aku bilang ini karena aku sayang kamu, Ren. Jatuh bangun aku menjadi pacar Simon. Aku bisa kuat. Aku mampu bertahan. Bukannya aku meragukan kamu. Aku hanya menyayangkan kamu, Ren. Kamu bisa dapatkan yang lebih dari Raka. Dan semua pria itu ada di luar sana. Kamu hanya tinggal &#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Tinggal membuka mata dan hati, and then just grab one of that hot hunks,” sahutku cepat. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Hapal dengan kalimat Vin tentang nasehat <strong>– CARI – PACAR – SELAIN – RAKA – DIA – BUKAN – ORANG – YANG – TEPAT – BUAT – KAMU !!!</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, Vin bilang ini karena &#8230;,” timpal May, si guru les piano itu menambahi, semakin menyudutkanku sebagai seorang murid SD yang ketahuan nyontek dan diwajibkan menuliskan kalimat  SAYA – TIDAK – AKAN –MENYONTEK sebanyak 1000X.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya – ya – ya, karena kalian sayang ma gue kan. I know. Tapi, hatiku nggak mau tahu. Hanya Raka. Raka saja. Titik,” aku keras kepala.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sudah lebih dari lima tahun, Ren. Get real. Kamu cinta mati pada Raka. Lalu, apa yang Raka lakukan? Nothing! Wake up, wake, Sleeping Beauty !!!” gemas Vin.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lalu percakapan panjang yang tidak mengenakkan ini SELALU berakhir dengan desah nafas tidak puas dari Vin dan May. Entah kapan lagi di saat yang mereka pikir tepat untuk melancarkan nasehat itu – tentang tidak pantasnya Raka untukku – kembali aku akan dengar kalimat panjang Vin yang didukung May.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, aku tidak memaksamu, tapi aku ingin kamu mencoba sekaliiii ini aja. Sekali ini aja Ren, please. Aku dan Vin nggak akan maksa kalau kamu memang nggak cocok. Tapi setidaknya kamu menghargai usaha aku dan Vin.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menatap May malas. Selalu menyisakan aura yang sesak setiap bicara tentang Raka kubu perlawanan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku punya kandidat yang oke buat kamu. High quality jomblo, satu divisi sama Bang Erwin. Orangnya baik. Goodlooking. Lovely. Kamu nggak harus langsung jadi pacar deh. Setidaknya kita bisa pergi berenam. Nggak enak terus-terusan pergi berlima dengan kamu tanpa pasangan,” jelas May pelan-pelan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lagian, Raka toh nggak pernah mau jalan sama kita, Ren. Kalau kamu terus mempertahankan dia, kayaknya nggak worthed banget karena toh Raka nggak berusaha ngehargain usaha kamu,” Vin menyahut dengan kalimat yang lumayan pedas ditelingaku. Dan sayangnya, kalimat Vin terasa benar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Vin,” potong May mencoba menyelamatkan perang dingin antara aku dan Vin.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku bahkan nggak yakin Raka punya perasaan yang sama dengan kamu, Ren. Cowok, kalau punya rasa sama perempuan, pasti akan fight. Kalau dia adem ayem, perlu dipertanyakan,” tambah Vin lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Vin,” sergah May lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lalu, bagaimana kalau yang punya RASA itu si perempuan, Vin? Aku punya cinta buat Raka. CINTA, Vin! Dan aku mau fight untuk cintaku buat Raka. Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri, Vin? Sudah jelas Simon hobi selingkuh dibelakang kamu, bahkan mungkin, di depan kamu. Tapi apa? Kamu toh tetap fight. Karena kamu cinta dia.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“INI JELAS BEDA!!!” Vin berang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, please. Vin, peace!!!” May menjadi penengah. Tumben. Biasanya May yang paling jayus dan nggak pedulian. May punya rencana besar. Pasti berkaitan dengan keyakinannya yang super pede. “Sekali ini aja kita coba. Nothing to lose, Ren, Vin.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku dan Vin diam. Aku yakin, Vin juga sama denganku, tak mau bertengkar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Namanya Rangga,” sahut May pendek.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-467" title="Random" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/Random.jpg" alt="Random" width="159" height="159" /></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Yang terjadi kemudian adalah aku dan Rangga jadian. Entah bagaimana awalnya, aku hanya mengiyakan saja untuk menjalani skenario May untukku dan Rangga. Lagipula, mungkin benar mereka bilang, nggak ada salahnya aku dekat dengan Rangga. Toh Rangga baik, sopan, dan bermasa depan cerah. Satu hal yang kupikir menjadi masalah terbesarku dengan hubunganku dan Rangga adalah, aku masih mencintai Raka. Masih sangat mencintai dia &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lepas dari perasaan suka tidak sukaku pada Rangga, kenyataannya Raka menjauh dariku. Entah karena pernyataanku waktu itu, atau karena memang kesibukan Raka, aku tak pernah lagi bisa berhubungan dengan Raka. SMSku dijawab seadanya. Teleponku tak pernah diangkatnya. Sibuk, mungkin (<em>sebenarnya pernyataan ini hanya untuk melegakan hatiku saja</em>). Sejauh ini, aku mengikuti kabar Raka hanya dari media yang mengulik tentang perjalanan karier seorang bintang baru. Raka Ardian. Jadi, waktu itu di Diamond Cafe, hari pertama aku kenal dengan Long Island, Raka mendapatkan jalan lebar ke arah dunia industri musik dari dua orang yang ditemuinya malam itu. Hhhhgghhh &#8230; Pf for you, Bro!!!</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/namanya-rangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Species Manusia &#8211; which one are you ?</title>
		<link>http://serpih.com/species-manusia-which-one-are-you/</link>
		<comments>http://serpih.com/species-manusia-which-one-are-you/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 04:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Sahabat Berani Mati

Persahabatanku dengan May dan Vin bukan untuk berbagi hal-hal yang menyenangkan saja. Vin berpacaran dengan Simon sejak lulus kuliah. Simon, anak pengusaha kayu lapis di daerah Jawa Timur. Hubungan cinta Vin dan Simon membuat aku dan May merumuskan satu hal yang sampai saat ini masih kami yakini :
Seorang anak yang datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Sahabat Berani Mati</em></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-458" title="persahabatan" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/persahabatan.jpg" alt="persahabatan" width="142" height="106" />Persahabatanku dengan May dan Vin bukan untuk berbagi hal-hal yang menyenangkan saja. Vin berpacaran dengan Simon sejak lulus kuliah. Simon, anak pengusaha kayu lapis di daerah Jawa Timur. Hubungan cinta Vin dan Simon membuat aku dan May merumuskan satu hal yang sampai saat ini masih kami yakini :<span id="more-457"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Seorang anak yang datang dari keluarga kaya, SUDAH SEPANTASNYA memiliki pasangan seorang anak keluarga kaya juga, lalu mereka menikah dan berketurunan untuk meneruskan jaringan bisnis mereka. In my words, ada beberapa spesies manusia dalam dunia ini. Aku menyadari sebagai <strong><em>SOLITAIRE SPECIES</em></strong>, May sebagai <strong><em>SURVIVOR SPECIES</em></strong>, dan Vin sebagai <strong><em>LUCKY SPECIES</em></strong>. Simon berasal dari spesies yang sama dengan Vin. Mereka sudah selayaknya menikah dan menelorkan spesies-spesies keturunan untuk memperluas komunitas spesies mereka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Perbedaan spesies ini bukan berarti kami tak dapat hidup berdampingan. Buktinya, ketika Vin jatuh dalam narkoba, spesies survivor dan solitaire seperti aku dan May ada buat dia. Waktu keluarganya sudah putus asa dan menyerahkan Vin pada panti rehabilitasi, kami sangat tahu bukan itu yang diingankan Vin, akhirnya toh ada May dan Ren yang mendampingi Vin selama masa perawatannya di rumah. Hal ini terjadi pada waktu pertama kalinya Simon berselingkuh dari Vin. Jadi, ketika ternyata kami menyadari bahwa SELINGKUH adalah salah satu ‘kebutuhan’ Simon, aku dan May cukup kawatir juga bila bencana itu datang lagi. Tapi ternyata, tanpa kami sadari, Vin sangat menghargai persahabatan kami bertiga, jadi Vin belajar pada spesies survivor seperti May untuk tetap bertahan tidak tergelincir ke dunia narkoba untuk kedua kalinya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-461" title="friendship" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/friendship1.png" alt="friendship" width="173" height="114" />Dari May aku belajar tentang definisi kecantikan. Diantara kami bertiga, Vin yang paling cantik (<em>aku yakin mood Tuhan pasti lagi bagus-bagusnya waktu nyiptain Vin – she’s drop dead beautiful</em> !). Dan May yang paling ‘jelek’. Proporsi tubuh May yang 155 – 42 membuatnya terlihat mungil diantara aku yang 165 – 48 dan Vin yang 171 – 55. Wajah May pun biasa-biasa saja. Kecantikan May muncul karena kepercayaan dirinya yang luar biasa. Dengan tubuh mungilnya, May betul-betul menjadi magnet dimana-mana. Kemampuan diplomasinya, semangat juangnya, dan pembawaan diri yang sangat wibawa menjadikan May seseorang yang bukan biasa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sebenarnya, kalau boleh minder (boleh nggak siy?!), akulah yang paling biasa diantara trio kami. Aku bukanlah apa-apa dibandingkan May dengan kekuatan kepercayaan dirinya dan Vin dengan kecantikan given-nya. Wajahku tak bisa dibilang jelek, tapi juga nggak cantik-cantik banget. Kata May dan Vin, aku punya mata yang indah. Besar dan bulat, sayang agak tersamar karena kacamata minus-2-ku (<em>dan nggak tertolong dengan soft-lens karena aku alergi dengan lensa</em>). Aku punya tulang pipi yang bagus, kokoh tapi memancarkan kesan eksotis (<em>yang kadang malah bikin aku ngerasa kayak laki-laki</em>). Bibirku sempurna. Aku juga punya rambut yang hitam dan lebat. Dua hal yang membuatku tidak pede adalah jidat jenongku (<em>yang membuat Djati bahagia memanggilku dengan panggilan sayangnya : NONG</em> !) dan gigi tak rataku (<em>dulu Djati punya panggilan sayang kedua setelah NONG : GITARA </em>– singkatan dari <strong>GI</strong>gi <strong>TA</strong>k <strong>RA</strong>ta.) Kini aku bisa memperbaiki gitaraku dengan treatment kawat gigi, tapi kan tidak bisa memperbaiki kondisi jenongku (<em>memangnya mau operasi perampingan jidat jenong? Please deh &#8230; </em>)</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/species-manusia-which-one-are-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Berani Mati</title>
		<link>http://serpih.com/sahabat-berani-mati/</link>
		<comments>http://serpih.com/sahabat-berani-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 08:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Does Beauty Still Rule ?
Vincentia Machri a.k.a Vin.
Mayang Kustanti a.k.a May.
Ken Djati Maulana Nugroho a.k.a Djati a.k.a Djay a.k.a Jay.
Aku sudah bersahabat dengan ketiganya sejak SMA. Vin dan Djati berasal dari keluarga yang kaya, sangat sangat sangat kaya, untuk ukuran Jogja. Selama sekolah, Djati tinggal di Jogja, sementara kedua orang tuanya tinggal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Does Beauty Still Rule ?</em></span></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">Vincentia Machri a.k.a Vin.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">Mayang Kustanti a.k.a May.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">Ken Djati Maulana Nugroho a.k.a Djati a.k.a Djay a.k.a Jay.</span></strong></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-453" title="4" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/4.jpg" alt="4" width="167" height="111" />Aku sudah bersahabat dengan ketiganya sejak SMA. Vin dan Djati berasal dari keluarga yang kaya, sangat sangat sangat kaya, untuk ukuran Jogja. Selama sekolah, Djati tinggal di Jogja, sementara kedua orang tuanya tinggal di Jakarta. Setelah lulus SMA, Djati kuliah dan bekerja di Jakarta, malah orang tuanya tinggal di Jogja menikmati masa tuanya. Mama Djati memberikan gen dominan untuk Djati. Wajah lembutnya, sifat baiknya, termasuk penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Bengek. Tapi karena sakitnya itulah Djati ketemu jodohnya. Siska, si perawat seksi yang menjadi perawat tetap keluarga Djati.<span id="more-452"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Vin anak tunggal pemilik jaringan bisnis kue, supermarket dan elektronik yang terkenal di Jogja.  Vin yang tertua diantara kami dan menganggap kami adalah adik-adiknya. Di rumah Vin hanya dengan beberapa pembantu, dan seekor Retriever betinanya dengan nama SIMON (waktu Retriever cakep itu jadi bagian hidup Vin, Simon masih jadi cowok incaran Vin, belum berstatus pacar. Itu alasan Vin memberi nama SIMON – even it’s female).</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku dan Mayang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Kedua orang tua Mayang guru SMP yang meninggal dini karena sakit ketika Mayang dan Markus, satu-satunya adik laki-lakinya, masih kecil. Dengan berbekal uang pensiun orang tua, Mayang yang jago musik membuka les piano dirumahnya. Mayang juga menambah penghasilan dengan menjadi wedding singer sejak SMA. Dimataku, Mayang mematahkan pendapat bahwa tidak semua orang hidup enak (mengingat dua sahabatku begitu beruntung lahir sebagai manusia dengan penampilan fisik cantik / ganteng dan keluarga kaya raya). Mayang adalah sahabat sekaligus role modelku untuk survive menghadapi hidup.*)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Keluargaku juga biasa-biasa saja. Widjaya Jatmika, ayahku, meninggal waktu aku berusia delapan tahun, meninggalkan ibu, aku, dan mbak Femmy, satu-satunya kakak perempuanku. Setahun kemudian ibu menikah lagi dengan Om Sus, seorang duda cerai mati dengan satu anak. Mas Restu lebih tua satu tahun dari Mbak Femmy, sementara selisih usia aku dengan Mbak Femmy cukup banyak, delapan tahun.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Usia yang sangat dini membuatku sulit menerima kenyataan antara – kepergian ayah – pernikahan ibu – keluarga baru. Perubahan ini membuatku berkembang menjadi pribadi yang pemurung, penyendiri, dan sulit dimengerti. Kalau dalam teori disebutkan, manusia adalah makhluk sosial, maka aku berkembang menjadi seorang makhluk sosial yang <strong><em>solitaire</em>.</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pribadi solitaire-ku cukup merepotkan ibu. Hanya aku satu-satunya anak yang tetap memanggil ibu dengan panggilan IBU, bukan mama, dan memanggil ayah baruku, Om Sus, bukan papa. Perselisihan ini berlangsung terus sampai aku lulus kuliah. Selama itu berganti-ganti anggota keluarga menjadi penjinak seorang Ren Solitaire. Kalau lagi beda pendapat sama Ibu, Mbak Femmy dan Mas Restu penengahnya. Kalau lagi ngambek sama Om Sus, Ibu yang merengkuh. Kalau lagi ngiri sama Mbak Femmy dan Mas Restu (seringnya sih iri sama Mbak Femmy karena kami sama-sama cewek), Ibu juga yang jadi pendamai. Sebenarnya aku tak pernah memusuhi Om Sus, tapi dimataku, sejak kecil dan terbentuk hingga aku dewasa, bahwa Om Sus perebut hati Ibu dari Ayah. Jadi, aku tak pernah berusaha dekat dengan Om Sus.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dibalik itu semua, sebenarnya aku sangat menyayangi keluargaku. Aku hanya rindu pada ayah. Kebutuhan akan kehadiran dan kasih sayang ayah yang kurasakan masih sangat kurang (walaupun sebenarnya Om Sus juga sangat menyayangi aku). Namun tindakan penolakanku tidak aku lakukan dengan sikap destruktif. Catat : aku hanya tidak bisa menerima sikap ibu yang menikah dalam jarak waktu HANYA satu tahun setelah kepergian ayah (<em>yang walaupun pada akhirnya aku bisa memahami bahwa memang dalam hidupnya ibu masih membutuhkan seorang laki-laki untuk sosok ayah bagi anak-anaknya, dan pendamping hidup pemimpin keluarganya. Dan well, sayangnya, Om Sus sosok ayah dan suami yang baik, sehingga aku tak punya denial yang tepat untuk memusuhi Om Sus</em>).</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tetap tumbuh sebagai anak yang berprestasi. Anehnya, aku mendedikasikan prestasi-prestasi hidupku untuk ayah. Buatku, ayah masih selalu nyata dalam hidupku. Dari sejak SD sampai SMA aku selalu masuk tiga besar. Kuliahpun aku diterima di PTN terkenal dan lulus dini karena prestasi. Jadi, in my defense, sebagai seorang anak, aku cukup membanggakan, bukan? Walaupun aku tumbuh menjadi anak yang sulit dimengerti, penyendiri, dan satu kata yang tepat adalah : SOLITAIRE.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Selesai kuliah, aku bekerja di Pinastika Corporation (PinCorp) yang bergerak di bidang finance. Satu tahun bekerja, aku mengambil kredit rumah. Sebuah keputusan yang cukup kontroversial dan menjadi pertentangan keluargaku. Lagi-lagi, Mbak Femmy dan Mas Restu berada di belakangku untuk mendukung keputusanku. Waktu itu Mas Restu sudah menikah dan punya anak satu, tinggal di Kalasan, Jogja. Mbak Femmy menikah, belum punya anak, tinggal di Indraprasta, Semarang. Yang menjadi pertentangan adalah, aku masih single, tidak punya pacar, dan membeli rumah di daerah Karangwuni, Jogja.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ibu dan Om Sus menyayangkan keputusanku membeli rumah padahal masih ada orang tua yang tinggal di Jogja, di kota yang sama dengan tempat aku tinggal saat ini. Sementara, Mbak Femmy dan Mas Restu memahami ‘keanehan’ku selama ini. Jadi, kekuatan cukup sebanding, dua lawan dua. Akhirnya, atas nama cinta, ibu dan Om Sus memberiku ijin untuk tinggal di Karangwuni. In my defense, nothing to lose, semua biaya hidup toh menjadi tanggunganku pribadi, sekaligus aku belajar mandiri untuk mengatur finansial hidupku. Dari semua alasanku memilih hidup sendiri hanyalah satu : aku ingin menikmati dan menjalani menjadi seorang Ren, pribadi yang solitaire. (<em>Dari hidup sendiri ini pula akhirnya aku menyadari bahwa ternyata ada banyak spesies-spesies manusia yang belum pernah terdefinisi sebelumnya – yang akan kuceritakan nanti.</em>)</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dirumah inipun aku tak pernah sendiri. Yang tadinya tempat nongkrong resmi adalah kamar Vin, sekarang berpindah ke rumah mungilku. May dan Vin sering datang kerumah. Kadang nginap di sini, terutama malam minggu. Vin bekerja sebagai team marketing sebuah bank swasta (<em>sebenarnya dengan kondisi keuangan yang demikian, Vin tak perlu bekerja – jadi Vin bekerja hanya untuk kesibukan saja</em>). May yang masih membuka les piano, dan wedding singer, membuka warung makan bersama Markus, adiknya. Aku, yang sejak tinggal di Karangwuni senang bereksperimen dengan menu-menu baru, menjadi teman diskusi yang asyik dengan Mayang untuk memperkaya menu di warung miliknya.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-454" title="empat sahabat" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/empat-sahabat.JPG" alt="empat sahabat" width="241" height="195" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/sahabat-berani-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Does Beauty Still Rule ?</title>
		<link>http://serpih.com/does-beauty-still-rule/</link>
		<comments>http://serpih.com/does-beauty-still-rule/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 03:41:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Pursuit of Love]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; sambungan Jangan Bicara Tentang Cinta
KARANGWUNI, Jogja. Setahun setelahnya &#8230;

 
PINDANG BERANI MATI *)
Bahan :
-         1 ekor ikan kakap, siangi, potong-potong
-         2 sendok makan air jeruk nipis + garam secukupnya
-         3 ruas jari kunyit, kupas, bakar, parut
-         3 ruas jari jahe, bakar, iris tipis
-         6 buah bawang merah, bakar, potong kasar
-         3 buah cabai merah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: right;"><span style="color: #ffcc99;"><em>&#8230; sambungan Jangan Bicara Tentang Cinta</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>KARANGWUNI, Jogja. <em>Setahun setelahnya &#8230;</em></strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><strong><img class="aligncenter" title="beautiful" src="../wp-content/uploads/2010/03/beautiful.jpg" alt="beautiful" width="138" height="260" /></strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>PINDANG BERANI MATI *)</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bahan :</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 ekor ikan kakap, siangi, potong-potong</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         2 sendok makan air jeruk nipis + garam secukupnya</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 ruas jari kunyit, kupas, bakar, parut</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 ruas jari jahe, bakar, iris tipis</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         6 buah bawang merah, bakar, potong kasar</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 buah cabai merah, bakar, belah 4 bagian</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         15 buah cabai rawit merah dan hijau utuh</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         3 buah tomat hijau, belah dua</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         50 cc air asam jawa</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 sendok teh garam</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 liter air</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 batang daun bawang, potong kasar</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“May, ambil nangka dan alpokat yang ada di kulkas, nangka dipotong-potong, buah alpokat dikeruk, terus kelapa muda yang udah aku siapkan tinggal dikeruk dagingnya, siapin di mangkuk yang ada di sebelah kiri itu. Please,” pintaku pada Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sirup mocca, vanili dan susu cairnya sekalian disiapin, Ren?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, iya iya, ada di kulkas semua deh.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Cara buat :</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Lumuri ikan dengan air jeruk nipis dan garam. Diamkan 15 menit. Sisihkan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Didihkan air. Masukkan semua bahan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Setelah hampir mendidih, masukkan ikan pindang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         Aduk perlahan, masak sampai mendidih.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“<strong>Es Tropikana*) </strong>ya, Ren? Wah, cocok niy!” Mayang mengamat-amati bahan-bahan yang ada dihadapannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Yup! Es Tropikana buat desertnya. Main coursenya Pindang Berani Mati, untuk dua sahabat berani matiku!”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mayang tertawa kecil. Dia suka dengan sebutan sahabat berani mati yang kami cipta dulu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Gelas rampingnya ada di lemari sebelah kanan, May. Tuang campuran susu. Masukkan semua buah. Pecahin es batu, atau kalau nggak mau terlalu dingin, nggak usah pake es serut tapi masukkin aja ke kulkas. Sip?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sip! Duh, Vin mana siy?” Mayang melongok-longok ke ruang tengah dimana Vin sedang bebaringan sambil baca buku. “Viiin, lo mau Tropikananya pake es SERUT apa dingin aja masukkin kulkas?” teriak Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Bikin dua buat aku! Satu pakai es langsung mau diminum, satu lagi masukin kulkas buat entaran abis makan.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Payah, nggak bantuin bikin maunya dobel. Nggak bisa! Nggak ada porsi dobel,” omel Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Bisa kok, May, kalau lo nyiapin bahannya sesuai catatan aku disitu, bisa cukup buat lima porsi. Tenang aja, lo juga boleh dobel,” kataku menengahi.<br />
</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;">Bahan :</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 kaleng leci</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         100 gram nangka, potong-potong</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 buah alpokat, ambil isinya</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         1 buah kelapa muda, ambil dagingnya</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         300 cc susu cair + 50 cc sirup vanili, campur jadi satu</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         50 cc sirup mocca</span></p>
<p><span style="color: #993300;">-         es batu secukupnya</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, lo udah baca <strong>BEAUTY CASE *) </strong>belum?” tiba-tiba Vin nimbrung di dapur sambil menggamit buku lumayan tebal dengan cover warna permen.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Uhm, jelas udah dong! Kenapa?” aku mengernyit heran menatap wajah cantik Vin – dan tentu saja pertanyaan nggak jelasnya. Toh buku itu dia ambil dari rak bukuku. Dan semua buku yang ada di rak bukuku sudah ludes aku baca. Bahkan ada beberapa yang kubaca lebih dari sekali.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, wah baunya Pindang Berani Mati lo seddeeep banget deh!” Mayang menyela. “Kenapa siy namanya <strong>PINDANG BERANI MATI *) </strong>???” heran Mayang nggak penting.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Soalnya pindang ini berani mati demi kenikmatan perut kita,” jawabku asal.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mayang terkekeh mendengar jawaban asalku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ren, define beauty, menurut lo?” tanya Vin lagi sambil mengambil tempat duduk di atas meja sebelah tempat Mayang menata racikan Tropikana, yang tentu membuat Mayang uring-uringan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Beauty?” aku mengedik, nggak konsen, perhatianku pada kepulan kuah mendidih di penggorengan dan aroma sedap yang menusuk-nusuk hidung.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Menurut lo apa, May?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mayang terkekeh ringan. “Kamu, nanya Mayang, apa definisi kecantikan? Yang pasti bukan fisik deh! Lo lihat lah sejauh mana kecantikan seorang Mayang. I am not beautiful, phisically, then I found my beauty in my inner. My great confidence makes me beautiful.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Okay, jadi menurut lo, kecantikan itu seberapa besar kita pede,” Vin ngangguk-angguk.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kurang lebih begitu, tapi kalau dirumuskan begini nih : kecantikan bukanlah terletak pada penampilan fisik, tapi rasa percaya yang ada dalam diri kita akan memunculkan kecantikan dari dalam. See?” jelas Mayang sok penting banget.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kalau menurut lo, Ren?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kenapa sih tiba-tiba ngomongin tentang kecantikan?” aku balas membalik dengan pertanyaan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Menurut lo semua, gue cantik nggak siy?” tanya Vin nggak pede.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“VIIIIN? LOOOO? CANTIIIIK?” jawab aku dan Mayang spontan, hampir berbarengan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Vin terkikik geli mendapati reaksi aku dan Mayang yang berlebihan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo tuh cantiiiiiik banget, Bu!” kataku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kalau lo nggak cantik, terus aku apa dong?” geli Mayang. “Cuma orang buta aja yang bilang lo tu nggak cantik,” tambah Mayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Dan Simon tu buta kalau lagi-lagi dia berselingkuh,” sungutku sambil mengangkat masakan dan menempatkannya di mangkuk kuah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kok lo tahu kalau Simon selingkuh lagi?” tanya Vin lugu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“AGAIIIIIIN?” aku dan Mayang – lagi-lagi – hampir berbarengan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku tahu Ren cuma nebak kok. Kan emang udah sering begitu. Lo tu jadi nggak cantik gara-gara kebodohan lo mempertahankan hubungan lo sama Simon yang nggak sehat,” kata Mayang gemas.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Menurut lo, gue cantik karena apa?” tanya Vin masih nggak pede.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Karena lo tu emang cantik dari lahirnya, Bu. Bukan melulu karena lo lahir <em>brojol</em> dari keluarga kaya yang pastinya bisa merawat tubuh lo di salon-salon mahal. Itu iya juga siy,” selingku dengan tawa sekaligus menyesali betapa tidak adilnya duniaku dibandingkan dunia Vin. “Lo tu punya semuanya, Vin. Cantik fisik, cantik hati, cantik semuanya deh. Satu hal yang menyesalkan, kamu masih bertahan dengan CINTA Simon yang selalu nyakitin kamu, tapi karena sikap survive kamu itupun, menurutku, mempercantik kepribadian kamu.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo lagi baca buku tentang kecantikan ya?” May mencuri lihat judul di cover permen.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Lo belum baca, May?” tanyaku heran. BEAUTY CASE termasuk salah satu buku yang kubaca lebih dari sekali. Menurutku, ini buku ringan yang lumayan penting buat dibaca semua cewek (dan cowok juga) karena isinya yang penting banget buat cewek, dan cukup bikin aku berpikir apa siy definisi kecantikan? Aku bahkan nyaris hapal definisi kecantikan di BEAUTY CASE.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Beberapa pandangan cowok tentang kecantikan :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah seksi.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah cewek berbadan ramping, kulit putih, berambut panjang, berkelakuan manis.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah relatif dan jelek adalah absolut J</span></li>
</ol>
<p><span style="color: #993300;">Kecantikan menurut Icha Rahmanti (Beauty Case – Define Beauty) :</span></p>
<ol>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah masalah asosiasi, aturan tak tertulis di kepala yang akhirnya mendeskripsikan kecantikan itu sendiri.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah masalah form &amp; order ; semakin cantik seseorang maka semakin simetris antara muka kanan dan kirinya.</span></li>
<li><span style="color: #993300;">Cantik adalah relatif, berhubungan dengan faktor psikologis yang rumit dan perasaan adalah penyebabnya.</span></li>
</ol>
<h2><span style="color: #993300;">See?</span></h2>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-450" title="beauty" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/03/beauty.png" alt="beauty" width="73" height="87" />Icha mewakili pandangan cewek, toh sama juga dengan pandangan cowok. Kecantikan itu RELATIF. Hal ini terjadi karena kompleksitas perasaan dan pengalaman hidup manusia. Manusia yang tumbuh dalam kasih sayang ibunya akan mengartikan cantik itu seperti ibunya. Atau sebaliknya. Pokoknya kompleks banget deh, menurutku siy, dan kayanya banyak yang mengiyakan deh. *)<br />
</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em>Everyday is so wonderful </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>And suddenly it’s hard to breath</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Now and then I get insecure </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>From all the fame, I’m so ashamed</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>I am beautiful no matter what they say</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Words can’t bring me down</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Am beautiful in every single way</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Yes, words can’t bring me down</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>So don’t you bring me down today</em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">Beautiful-nya Christina mengalun lembut dari sound di ruang tengah. Pas banget dengan obrolan pendek sambil menyiapkan menu makan siang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pindang Berani Mati untuk dua sahabat berani matiku,” aku menghidangkan menu spesial di meja makan. Tak lagi memusingkan definisi cantik. Mayang mengikuti langkah dibelakangku dengan senampan berisi 5 gelas Es Tropikana. Semua diberi topping es serut dan buah cherry.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kami makan dalam diam. Namun dalam keterdiamanku, (ternyata) aku (masih) berpikir tentang kecantikan dan kroni-kroninya.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em><strong>&#8230; &#8230; &#8230; bersambung &#8230; &#8230; &#8230;</strong></em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/does-beauty-still-rule/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

