<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>serpih serpih serpih serpih &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://serpih.com/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serpih.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Mar 2010 09:43:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Dipelukan Bayang Bayang Bintang</title>
		<link>http://serpih.com/dipelukan-bayang-bayang-bintang/</link>
		<comments>http://serpih.com/dipelukan-bayang-bayang-bintang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 06:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Yang Patah]]></category>
		<category><![CDATA[Love Fool]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Senja masih terlalu sore untuk disebut malam. Aku meringkasi isi tas yang sebagian tercecer di atas meja kerja. Buku agenda. Pena. Name tag perusahaan. Sisir. Bedak. Lipstik. Aah, banyak betul barangku, aku tersenyum sendiri. Ini akhir minggu dan aku tidak punya rencana berarti.
Pesan singkat darinya kuterima sore ini. Mengabarkan dia akan menikmati akhir minggu bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-393" title="pelukan" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/pelukan.jpg" alt="pelukan" width="169" height="170" />Senja masih terlalu sore untuk disebut malam. Aku meringkasi isi tas yang sebagian tercecer di atas meja kerja. Buku agenda. Pena. Name tag perusahaan. Sisir. Bedak. Lipstik. Aah, banyak betul barangku, aku tersenyum sendiri. Ini akhir minggu dan aku tidak punya rencana berarti.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pesan singkat darinya kuterima sore ini. Mengabarkan dia akan menikmati akhir minggu bersama dua perempuannya. Aaah, bahagiamu, Sahabat. Dia memiliki bahu untuk bersandar, lengan untuk memeluk, dan senyum yang meneduhkan dari dua perempuanmu. Dua !!! </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tersenyum sendiri. Pahit. Harusnya aku bahagia melihat Raka bahagia. Oh ya. Tentu aku bahagia. Tiada yang membahagiakan selain melihat orang yang kita sayang bahagia. Ya. Harusnya aku juga bahagia melihat lelakiku bahagia memilikiku. Tapi tahukah dia aku tidak bahagia?<span id="more-386"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lelakiku, begitu singkat waktu yang kuhabiskan bersamanya. Belum pula berbagi dengan kesibukan yang lain. Tapi kini dia seperti orang asing bagiku. Ataukah aku yang mengasingkan diri? Entahlah. Tidakkah dia tahu aku selalu berusaha menghangatkannya? Lenganku siap memeluk kapanpun dia butuhkan. Senyumku tercurah untuk menceriakan harinya. Dan hatiku selalu terbuka untuk menerima cintanya. Ataukah aku yang mulai menghitung berkat yang harusnya tulus kuberikan padamu?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Katanya, yang namanya cinta adalah melakukan segala hal untuk kebahagiaan orang yang dicintainya. Dengan tulus. Tanpa mengharap kembali. Ataukah, aku mulai tidak tulus mencintainya? Karena aku berharap dia memberikan kembali kebahagiaan yang kuciptakan untuknya? Yaaah. Mungkin aku mulai berhitung. Dan itu tidak benar.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Mbak Ris, saya duluan. Have a nice weekend yah!&#8221; Putri, sekretaris Branch berlalu dari meja kerjaku. Rambutnya yang kuncir kuda dengan pita warna ungu mengingatkanku pada Sacha di serial OB. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;You too, Put! Salam buat Mama,&#8221; sahutku. Putri melambai dan berlalu dari hadapanku. Berganti wajah kekar milik Putra muncul di dinding cubicleku. Senyumnya mengembang. Gigi putihnya berderet menyilaukan. Ah. Ha. Aku berlebihan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Nape Put?&#8221; sahutku cuek sambil memasukkan semua pernak-pernikku ke dalam tote bagku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Weekend kemana?&#8221; tanyanya. Tangannya usil meraih lipstik pinkku. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Nggak kemana-mana,&#8221; sahutku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Jalan yuk!&#8221; ajaknya. Kini dia beralih ke kursi di hadapan meja kerjaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Malas ah. Capek,&#8221; sahutku sekenanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Iya nggak jalan deh. Naik mobil!&#8221; katanya lucu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Garing!&#8221; sahutku acuh.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Putra terbahak. &#8220;Ris, kamu kenapa siy nggak pernah mau aku ajak keluar? Jalan. Cuma makan doang. Nonton. Nggak ngapa-ngapain juga.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menatapnya dengan tatapan &#8211; please &#8211; deh &#8211; tapi sepertinya Putra tak menangkap sinyal tatapan gangguku. Putra masih duduk di tempat yang sama saat aku selesai beberes.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Aku pulang ya, Put. Kamu jagain mejaku aja. Jangan sampe dibawa pergi keong,&#8221; kataku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-394" title="mawar 3" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/mawar-3.jpg" alt="mawar 3" width="113" height="155" />Putra tertawa. Tangannya menyentuh jemariku. Tatapannya meminta tapi tidak memaksa. Sebenarnya, Putra adalah pria single yang menarik. Lucu, santun, dan tampan. Tapi entah. Sejak Raka menjadi mantan kekasihku, menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang cantik, dan kemudian aku menikah dengan lelakiku, yang saat ini aku tak merasakan kebahagiaan karena kehilangan kehangatannya, hatiku sepertinya mati. Tertutup. Ya memang harusnya begitu kan. Semenarik apapun Putra.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Have a great weekend, Dear,&#8221; kata Putra <em>lebay</em>. Aku mengangguk lalu berlalu darinya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Ris,&#8221; panggil Putra lagi. Aku mendapatinya tengah menatap tubuhku lekat yang berada di ambang pintu keluar ruang kantor. &#8220;If you need a friend to spend your weekend, you know where you can find me.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Thanks,&#8221; aku tersenyum. Tidak seharusnya aku bersikap sinis padanya. Hanya karena aku tahu Putra suka padaku dan aku bukanlah perempuan yang available lagi. Putra terlalu menarik untuk ditolak. Justru karena alasan itulah aku menolak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Selama menunggu lift terbuka, aku merasakan saku blazer ku bergetar. Aku meraih ponselku dan terpampang nama : <strong>Ka</strong>. Raka. Uff. Tiba-tiba sebersit rindu menyelip tanpa diminta dan tak mampu aku tolak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Hai Raka,&#8221; sahutku dengan suara gemetar. Tiba-tiba aku merasa letih dengan rasa rindu yang tiba-tiba.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Kamu sudah pulang?&#8221; tanyanya. Suaranya yang berat dan menenangkan selalu mampu memberi sensasi damai untukku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Sedang akan mau pulang.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka tersenyum mendengar jawabanku. &#8220;Kamu baik-baik, kan?&#8221; tanyanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Ya,&#8221; sahutku singkat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Riska,&#8221; suaranya seperti sedang menghela. &#8220;Dia belum juga kembali?&#8221; tanyanya retoris. Raka tahu, lelakiku entah kemana tak ada kabar sudah hampir sebulan ini. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;I&#8217;ll be fine soon, Ka. Don&#8217;t worry.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Raka menghela nafas lagi. Aku ingin Raka bilang akan menemaniku. Aku rindu cinta Raka yang menenangkan. Yang mencintaiku. Yang menjagaiku. Yang melindungiku. Raka adalah cinta yang nyaman. Raka adalah cinta yang aku butuhkan. Tapi itu dulu. Dan sekarang pun aku tak pernah mampu memilikinya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Have a great weekend for you and your family, Ka,&#8221; kataku perih. Adakah yang bisa mengerti perasaan sepiku? </span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Riska,&#8221; suara Raka terdengar berat. &#8220;Aku tak bisa menemanimu, tapi aku ingin kamu tahu, aku ingin keadaan membaik. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu. Sejak aku tak mampu memberimu bahagia.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku ingin menangis. Tanpa sadar aku sudah menangis.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Malam minggu sisa malam itu aku habiskan dengan duduk di teras Belle View. Resto outdoor dengan ginger tea-nya yang menenangkan. Sambil menimang-nimang sebatang rokok putih dan menyesali lupa membawa koreknya. Sudah sebulan ini aku kembali merokok. Sejak kepergian lelakiku. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tiba-tiba seseorang menawarkan api. Dia berdiri gagah disandingku. Aku mendongak dan mendapati senyum manis dan deretan gigi putih yang menyilaukan itu. Putra. Senyumnya teduh. Dia bertanya dengan santun apakah aku keberatan bila dia duduk di kursi di depanku. Aku menggeleng. Aku butuh teman, kurasa. Walau aku tak membuka hati untuk Putra, tapi ya, aku butuh teman malam ini.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Putra menceritakan hal-hal lucu yang membuatku tertawa. Tatapannya teduh. Dia meminta tapi tak memaksa. Kerlip bintang di atap langit seperti mengerti galau rasaku malam ini. Senyum Putra bagaikan bayang-bayang bintang yang menghangatkan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-392" title="hug" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/hug.jpg" alt="hug" width="246" height="183" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/dipelukan-bayang-bayang-bintang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brux, Malam itu &#8230;</title>
		<link>http://serpih.com/brux-malam-itu/</link>
		<comments>http://serpih.com/brux-malam-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 19:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Brux]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Yang Patah]]></category>
		<category><![CDATA[Love Fool]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan itu duduk resah di hadapan sang lelaki. Senyumnya berusaha disunggingkan sewajar mungkin. Tapi aku bisa menangkap kegelisahan yang bergejolak dalam hatinya. Mungkin disebabkan sang lelaki, atau ada yang tengah mengganggu dalam benaknya.
Aku memperhatikan sambil lalu.
&#8220;Kamu menikmati malam ini, Sheil?&#8221; tanya sang lelaki. Perempuan yang dipanggil Sheil itu mengangguk dan menambah senyumnya sedikit lebih lebar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-365" title="bistro" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/bistro.jpg" alt="bistro" width="150" height="200" />Perempuan itu duduk resah di hadapan sang lelaki. Senyumnya berusaha disunggingkan sewajar mungkin. Tapi aku bisa menangkap kegelisahan yang bergejolak dalam hatinya. Mungkin disebabkan sang lelaki, atau ada yang tengah mengganggu dalam benaknya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku memperhatikan sambil lalu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Kamu menikmati malam ini, Sheil?&#8221; tanya sang lelaki. Perempuan yang dipanggil Sheil itu mengangguk dan menambah senyumnya sedikit lebih lebar. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Menu yang sama seperti yang kupesan. Cinammon Latte. Brux malam ini tak begitu ramai. Tidak seperti biasanya di hari Jumat. Mungkin karena hujan. Mungkin karena sudah mulai banyak tempat-tempat asyik lain yang tersebar di kota Semarang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Brux, bagiku bukan sekedar tempat makan atau nongkrong. <span id="more-364"></span>Tapi juga sebagai tempat pelepas lelah hati saat aku ingin berdamai dimana tak ada cara lain yang berhasil menentramkan hatiku. Jadi disinilah aku disini malam ini, duduk disudut. <em>My favourite spot</em>. Tempat bertahun yang lalu kita pernah duduk bersama. Bergenggaman tangan sebelum waktu untuk kita usai. Lalu terpisah.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aah, masih saja aku terjerat pada kenangan itu, sementara kamu sudah berlalu &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Sheil, apa yang tidak dia lihat dari kamu?&#8221; tanya sang lelaki lagi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sheila mendongak. Tatapan mereka beradu. Senyumnya kembali mengembang. Aku melirik iseng. Uhm, Sheila memiliki senyum yang cukup manis. Pantas dari tadi disunggingkan terus senyumnya. Aku tak mau usil. Tapi aku tergelitik untuk mendengarkan percakapan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Kamu cantik. Kamu baik. Kamu istri yang ideal. Kamu pintar. Apa yang tidak dia lihat dari kamu sehingga dia menelantarkan kamu. Dia telah mengabaikan kamu, istrinya. Dan kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku menduga Sheila akan membalas dengan senyum. Ah, dari tadi tak kudengar suaranya. Kupikir dia tak bisa bicara. Hanya bisa tersenyum. Ngerti bahasa manusia nggak siy? Aku tertawa sendiri. Ralat. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Aku tak pernah seiseng ini mendengarkan pembicaraan orang. Tapi tak ada sesuatu yang bisa kulakukan kecuali memutar-mutar cangkir cinnamon latte dalam genggamanku. Di hadapan laptop yang terbentang tanpa satu huruf pun pada layar.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Aku juga tidak tahu, Mas,&#8221; jawab Sheila.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ouw. Bisa bicara pula dia, sanggahku dalam hati.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Aku mencintai dia. Aku memenuhi segala yang dia butuhkan. Mobil, rumah seisinya, handphone. Supaya kami bisa hidup layak. Kamu tahu kan Mas, penghasilanku lebih tinggi. Tapi bukannya aku tidak menghargai dia. Tapi dimana tanggung jawabnya? Kok malah dia enak-enakan saja. Tak berusaha mengambil alih peran yang selama ini aku jalani. Dia kan kepala rumah tangga.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku memperhatikan Sheila bicara dan dengan tiba-tiba sang lelaki mendongakkan kepala sehingga tatapan kami bertubrukan. Ah. Aku segera mengalihkan pandanganku tanpa kentara.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Apa siy hubungan mereka ini? Pacaran, tentu bukan. Sahabat, kok sehangat itu ya. Sepertinya Sheila sedang curhat suaminya pada sang lelaki.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Mungkin aku telah salah melangkah, Mas. Seharusnya bukan dengan cara ini aku mencintai dia, Mas. Aku rapuh. Aku tidak lagi bisa mengingat hal-hal baik tentangnya. Aku ingin meninggalkan dia. Tapi aku masih mencintainya. Aku hanya lelah dengan pengorbananku.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sang lelaki terdiam. Aku merasa dia mengalihkan perhatian berselang antara ke aku dan Sheila. Aku tak tertarik lagi dengan percakapan dua manusia itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tiba-tiba, sebuah pesan singkat menggetarkan ponselku.</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;">Pulang. Jangan terlalu malam.</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">Aku membalas pesannya dengan jawaban <em>icon grin</em>.</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;">Jangan cuma nyengir. Ayo pulang sana.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Galak amat. Jemput ya. Kagak ada taksi neh. Jawabku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Iiih. Lagian sendirian. Ajak teman ngapa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">I&#8217;m dying hard. Ngapain ajak-ajak teman.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bawel.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Emang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pulang sana. Gak baik anak perempuan pergi sendirian malam malam.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Cinnamon Latte nya belum habis.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mau sampe nunggu di usir yang punya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sepertinya begitu. Nunggu kamu jemput.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Jemput jemput. 8 jam tauuuuuu &#8230; belum apa apa dah pegel. Nanti. Sabar. Besok. Cari waktu yang tepat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Hun, i love you.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Udah pulang sana.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Iya, aku pulang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Go home. Take a rest. Clear your mind.</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">Aku meringkasi laptopku. Tak hendak membalas sms nya. </span></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">Clear your mind. </span></strong></p>
<p><span style="color: #993300;">Clear my mind ? Seenaknya saja kamu bicara. Aku mencintaimu. Bisakah kamu memahami hatiku yang membutuhkan kamu. Sekedar chat tak penting dengan sapa hai dan semacamnya. Aku rindu kehangatan kamu. Aku rindu menjadi seseorang yang dicinta.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Clear my mind about you? How can I do it ??? </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kamu pernah begitu meraja. Lalu kamu pergi untuk mengejar mimpi kamu. Mimpi yang tak ada aku. Setengah mati aku mematikan harapanku untuk bersama kamu. Lalu aku bisa. Bukan mengusir kamu dalam hidupku. Hanya berusaha tak menghadirkan kamu. Karena itu menorehkan luka hati yang tak juga sembuh. Aku pernah berusaha melawan. Tapi hatiku makin renta dan tak kuasa menahan luka. Jadi aku berdamai dengan hatiku. Mengijinkan kamu tinggal selama kamu mau dalam hatiku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sang Lelaki dan Sheila, perempuan itu, masih duduk di sudut. Aku tak tahu ujung percakapan mereka. Tak menarik lagi. Aku menjinjing laptopku dengan langkah gontai. Pulang. Menuju rumah yang tak lagi bernyawa, sejak kepergianmu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dan membiarkan anganku melayang membayangkan kamu, bersanding berdua merujuk malam, bersama dia yang berhak memiliki kamu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Di Brux, malam itu &#8230; </span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-366" title="cin tea" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/cin-tea.jpg" alt="cin tea" width="316" height="237" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/brux-malam-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Simple Happiness</title>
		<link>http://serpih.com/a-simple-happiness/</link>
		<comments>http://serpih.com/a-simple-happiness/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 17:55:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Love Fool]]></category>
		<category><![CDATA[Simple Happines]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Adalah sebuah kebahagiaan kecil.
Mengetahui bahwa ada seseorang yang memperhatikanmu. Ada seseorang yang mencintaimu walau dia tak selalu hadir secara nyata dalam hidupmu. Cukup dengan lantunan doa yang dia ucapkan pelan-pelan dalam sela waktunya saat menghadap pada Yang Kuasa.
Malam belum terlalu kelam. Bulan baru saja merambat perlahan menggantikan teriknya sang mentari yang gahar menyeringai sepanjang hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><blockquote><p><strong><span style="color: #993300;">Adalah sebuah kebahagiaan kecil.</span></strong></p>
<p><em><span style="color: #993300;">Mengetahui bahwa ada seseorang yang memperhatikanmu. Ada seseorang yang mencintaimu walau dia tak selalu hadir secara nyata dalam hidupmu. Cukup dengan lantunan doa yang dia ucapkan pelan-pelan dalam sela waktunya saat menghadap pada Yang Kuasa.</span></em></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-349" title="valday" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/valday.jpg" alt="valday" width="169" height="173" />Malam belum terlalu kelam. Bulan baru saja merambat perlahan menggantikan teriknya sang mentari yang gahar menyeringai sepanjang hari ini. Aku tergesa meninggalkan kota kecilku tempat aku terbiasa menghabiskan waktu akhir mingguku menuju kota tempat aku bekerja sepanjang lima hari yang sering membosankan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bosan karena aktivitas yang sepertinya begitu saja berlalu tanpa kesan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kota ini pernah begitu bermakna. Kota ini pernah begitu berkesan dengan ukiran tawa dan air mata. Ah. Menuruni lembah Jalan Setiabudi selalu mengingatkanku akanmu. Impian kita untuk sekedar duduk dan menikmati kerlip lampu kota sepanjang malam hingga pagi menjelang tak juga mampu kita wujudkan. Sebelum waktu itu tiba, kamu sudah pergi. Mengejar mimpi yang lain. Mimpi yang tak ada aku didalamnya.<span id="more-348"></span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mengukur sepanjang jalan Ahmad Yani juga selalu ada kamu. Disanalah kita pertama kali bertemu. Pertemuan sederhana yang tak terlalu berkesan. Siapa sangka kita jadi begitu dalam? Tanpa senyum dan sapa di awal perjumpaan. Tapi kemudian kita begitu tak terpisahkan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Rasa sakit dan nyeri kadang masih saja terasa bila ingat kamu. Terlalu cepat cerita yang kita rajut berlalu. Cerita yang tak berpangkal tapi kita tahu dimana ujung dari semua simpul rumit yang berakhir dengan kata : <strong>perpisahan</strong>. Kita terlalu berani menantang jarak. Bermain sembunyi dari sang waktu yang sepertinya rela membiarkan kita mencuri kuasa untuk sekedar kita bersama.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sudut-sudut kota yang mengukir prasasti akan hadirmu. Yang berbulan-bulan lamanya waktu yang kubutuhkan untuk menyadarkan bahwa kamu sudah tidak ada disana. Meninggalkan aku dengan mimpi-mimpimu, yang tidak ada aku. Kamu selalu bilang :<em> selalu sulit membuat langkah pertama, tapi ketika kamu mampu melakukannya, kamu akan mampu membuat langkah kedua, lalu kamu tegak berdiri dan kemudian dapat berlari. Begitu juga dengan yang akan kamu lakukan dengan perpisahan kita. Yang kamu butuhkan hanyalah sebuah langkah kecil untuk kemudian kita melanjutkan hidup kita masing-masing. </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ya. Hidupku. Tanpa ada kamu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bertahun aku butuhkan waktu untuk menyadarkan diri bahwa sudah tidak ada kamu dihidupku. Aku tahu masih selalu ada kamu di sana, memperhatikanku tapi aku menolaknya. Aku selalu berpura-pura tidak ada kamu. Terlalu menyakitkan membiarkan kamu tetap ada. Dengan membiarkanmu tetap ada dalam hidupku tak akan pernah membantu aku membuat langkah pertama. </span><span style="color: #993300;">Tapi aku juga masih inginkan kamu. Masihkah bisa kita mencuri dari sang waktu, untuk kita sekedar bisa bersama. Dalam angan? Ah. </span><span style="color: #993300;">Ketika kemudian aku kini mampu berlari, aku masih melihat kamu disana. Dengan mimpi-mimpimu yang berhasil diwujudkan, tanpa ada aku. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kadang aku ingin menyombongkan diri, menunjukkan kemampuanku bahwa aku bisa berlari cepat, berdiri tegak. Dan mengalahkan ego ku bahwa kamu sungguh telah pergi dari hidupku. Aku ingin kamu terluka dengan menunjukkan bahwa aku bisa melanjutkan hidupku dan menggapai mimpiku tanpa kamu. TANPA KAMU.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tapi kamu tetap disana. Memperhatikan aku. Mencintai aku. Mendoakan aku. Dengan caramu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Malam ini, ditengah heningnya malam, aku membayangkan kita duduk berdua di beranda. Segelas teh panas dalam genggaman. Sambil bercerita bahwa kita masih saling sayang. Dan menyadari bahwa kita tak akan pernah bisa mencuri dari sang waktu dan mengalahkan sang jarak. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku dan kamu, masih kah ada KITA ?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tak perlu jawaban. Cukup dengan tahu bahwa kamu masih selalu ada untuk aku. Sebuah kebahagiaan kecil, mengetahui bahwa kamu masih memperhatikanku, kamu masih mencintaiku walau tak selalu hadir secara nyata dalam hidupku, dan selalu mendoakan aku dalam waktu-waktu pribadimu dengan Sang Pemilik Hidup.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Terima kasih telah mencintaiku, dengan caramu.</span></p>
<blockquote><p><strong><span style="color: #993300;">HAPPY VALENTINE, sahabat !!!</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-350" title="happy valday" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/happy-valday.jpg" alt="happy valday" width="231" height="173" /><br />
</span></strong></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-351" title="surat cinta" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/02/surat-cinta.jpg" alt="surat cinta" width="62" height="59" />&gt;&gt;&gt; postingan ini saya dedikasikan untuk sahabat yang memberi kebahagiaan kecil malam ini, dan untuk dua sahabat saya yang cantik, yang dengan ide2 usilnya membuat<a href="http://idana.blogdetik.com/2010/01/31/berbagi-cinta/"> kontes surat cinta. </a><strong>kajol, idana, </strong>aku ga tau apakah cerita singkat ini bisa dikategorikan surat cinta atau tidak, dan apakah layak diikutkan dalam kontes kalian, hehehe &#8230; <span style="color: #ff0000;"><strong>SALAM CINTA buat JELITA !!</strong></span>!<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/a-simple-happiness/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duniaku Sunyi</title>
		<link>http://serpih.com/duniaku-sunyi/</link>
		<comments>http://serpih.com/duniaku-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 09:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[
Aku sadar mereka memandangku dengan tatapan aneh. Mereka menyebutku : ANEH. Aku merasa tak ada yang aneh dengan diriku. Aku hanya … berbeda! Aku menyebutnya, … ISTIMEWA !!!
PADA SEBUAH PAGI. Aku masih ingat pagi itu, hari Rabu di bulan September. Pagi ini berbeda dari pagi pagi sebelum pagi ini. Bukan saja karena Bunda tidak pergi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-316" title="reja saja" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/reja-saja.jpg" alt="reja saja" width="178" height="222" />Aku sadar mereka memandangku dengan tatapan aneh. Mereka menyebutku : <strong>ANEH. </strong>Aku merasa tak ada yang aneh dengan diriku. Aku hanya … berbeda! Aku menyebutnya, … ISTIMEWA !!!</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>PADA SEBUAH PAGI. </strong>Aku masih ingat pagi itu, hari Rabu di bulan September. Pagi ini berbeda dari pagi pagi sebelum pagi ini. Bukan saja karena Bunda tidak pergi kerja. Biasanya, pagi pagi Bunda sudah sibuk berkemas, mengepak gunting, rangkaian daun dan bunga yang sudah dirancang malam sebelumnya sampai spon warna hijau yang aku tak tahu untuk apa, ke dalam box besar warna magenta. Biasanya, Bunda jarang menyentuhku sekalipun hanya mengecup keningku. Yang tertangkap di mataku hanya kesibukan Bunda dan ekspresi wajahnya yang tak pernah tenang. Morning rush. Aku mengerti. Sampai detik terakhir Bunda menutup pintu mobil dan menatapku seolah menyesal tak mengecup keningku tapi terlalu sibuk dan membuang waktu. Aku mengerti. Dalam diam, aku mengerti.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>Hari ini berbeda. </strong><span id="more-280"></span>Bunda tidak bekerja. Sejak bangun tidur tadi Bunda mendekapku erat seperti takut kehilanganku. Kadang terasa sesak, sampai aku tak bisa bernapas. Bukan, Bunda tidak akan membunuhku, tentu saja <strong>TIDAK. </strong>Aku merasa aneh saja dengan pelukan Bunda pagi itu, tapi aku menemukan kedamaian dalam pelukannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Yang lebih aneh, bukan saja memeluk, punggungku basah oleh airmata Bunda. Bunda menangis?! Aku menarik diriku lalu menatap bulat bola matanya. Mata yang kumiliki darinya. Bibir tipis namun penuh yang juga kupunya. Warnanya merah muda. Kami berdua saling menatap. Ada wajah duka disana. Salah apa aku, Bunda, sehingga membuatmu menangis dengan luka? Aku tak mendengar suara tangis Bunda, aku hanya mendapati bahunya turun naik. Dan pipinya basah. Aku menghapusnya dengan lembut lalu mengecup pipinya. Ia kembali memelukku erat. Sangat erat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Setelah pagi yang berbeda itu, hari-hari berikutnya juga menjadi hari yang berbeda. Banyak orang datang. Tidak seperti biasa orang berkumpul, tertawa, merangkai bunga, mengusung rangkaian bunga yang sudah jadi. Hari-hari setelah pagi itu diisi oleh tangis Bunda. Setiap ada orang baru yang datang, kembali Bunda menangis sambil berpelukan. Lalu mereka menatapku yang berdiri di ujung tak mengerti. Aku benci tatapan itu. Tatapan aneh. Aku tidak merasa ada yang aneh dalam diriku. Aku tahu ada yang berbeda. Aku menyebut diriku <strong>ISTIMEWA.</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dari sekian banyak orang yang datang, hanya satu orang yang membuatku nyaman. Berbeda dari teman-teman Bunda yang datang, memeluk Bunda, menangis bersama, lalu menatapku dengan aneh. Namanya Reja. Berbeda dengan yang mereka lakukan, Reja tidak menatapku dengan aneh. Reja menghampiriku dan memelukku. Dia menggendong, mengecup kening, dan membawaku menjauh dari tatapan mereka.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong><img class="alignright size-full wp-image-324" title="love teddy" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/love-teddy.jpg" alt="love teddy" width="222" height="222" />REJA. </strong>Nama yang aneh. Well, aku tidak suka menilai <strong>ANEH. </strong>Aku lebih suka menyebutnya <strong>BERBEDA. </strong>Hubungan Reja dengan Bunda cukup dekat. Reja selalu datang di acara istimewa Bunda. Bunda juga begitu. Kami datang di acara pernikahannya. Reja kelihatan sangat cantik dan berbeda. Suaminya juga begitu baik.<br />
Selang beberapa waktu setelah pagi itu, baru aku mengerti mengapa aku berbeda. Bunda membawaku ke sebuah tempat yang disebut sekolah. Berbeda dengan sekolah dimana kakak lelakiku bersekolah. Sekolah untuk anak-anak berbeda. Istimewa. Kami tidak diperbolehkan bertemu dengan Bunda dan Ayah, dan satu-satunya kakak lelakiku. Baru kemudian aku tahu sekolah seperti ini disebut ASRAMA. Asrama sekolah ini tempatnya sangat jauh. Aku sering … sangat … sering … kangen pada Bunda dan Ayah. Walau kakak lelakiku sangat bandel dan sering merebut mainanku, aku juga kangen dia. Kangen berebut mainan, seringkali, dan aku memenangkan pertengkaran setelah memukulnya, hehe. Aku kangen dia. Aku tahu dia juga kangen aku, atau pukulanku, haha.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Beberapa kali Reja datang bersama suaminya. Masih sama seperti sejak pertama kali di awal pagi itu, Reja tak menatapku dengan aneh. Setiap datang ia memelukku, mencium kening atau pipiku, dan membawakanku mainan. Belakangan setelah aku bisa membaca, Reja sering membawa buku cerita anak-anak. Ternyata Reja sendiri yang mengarangnya. Cerita lucu dan mendidik. Ada beberapa yang terinspirasi dari kenakalanku, katanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong><img class="alignright size-full wp-image-325" title="love letter" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/love-letter.jpg" alt="love letter" width="175" height="136" />PADA SUATU PAGI YANG BERBEDA. </strong>Aku memberanikan diri untuk meminta sesuatu pada Bunda. Sesuatu, yang bagiku, bagi kami, terlalu mustahil karena harganya yang tak terjangkau. 25 dengan nol enam angka adalah angka yang sangat spektakuler. Bunda tak menjawab ya atau tidak. Bunda hanya menangis. Kemudian terpekur. Duh, aku menyesal dan sedih sekali membuat Bunda menangis. Aku mencium pipinya kemudian berlari meninggalkan Bunda dan Ayah yang sibuk menenangkan Bunda. Reja mengejarku. Kakak lelakiku mengikutinya dari belakang. Aku bersembunyi. Reja tahu dimana bisa menemukanku. Dia memelukku dan berkata-kata yang aku tak mengerti. Aku menangkap bibirnya bergerak-gerak. Dia berbicara dalam bisikan terlalu cepat. Aku tak mampu membaca bibirnya. Aku hanya bisa mengerti sedikit yang dia bilang setelah ia menggendongku dan menatap mataku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Suatu hari nanti. Suatu saat nanti aku pasti mewujudkannya untukmu.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>DAN HARI ITU PUN TIBA. </strong>Waktu sepertinya berulang. Bunda menangis. Ayah menenangkan Bunda. Kakak lelakikku tak sabar berada di samping Reja. Dan Suster kepala membantuku memasang sesuatu yang pernah kuminta pada Bunda dan hanya terjawab oleh air mata. Reja yang mewujudkannya. Reja memagang janjinya. Terima kasih, Reja.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>AKU KINI BISA MENDENGAR. </strong>Walau suara yang aku dengar tak sama seperti yang Bunda, Ayah, Kakak Lelakiku, dan Reja dengar. Aku memang berbeda. Suara yang aku dengar pun berbeda. Tapi kini duniaku tak lagi sunyi. Aku bisa mendengar suara Bunda yang lembut. Suara Ayah yang tegas. Suara Kakak Lelakiku yang ceria. Dan Reja yang lebih sering tersenyum dari berkata-kata.</span></p>
<p><strong><span style="color: #993300;">TERIMA KASIH, REJA !!!</span></strong></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-317" title="reja" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/reja.jpg" alt="reja" width="180" height="118" />REJA. </strong>Nama yang aneh. Ouff, maaf, bukan aneh. Aku lebih suka menyebutnya berbeda. Namanya berbeda dari nama kebanyakan. Sekarang baru aku tahu namanya. Bukan nama yang aneh, hanya berbeda. Retas Senja : ReJa. REtas senJA. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Nama yang unik. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dia sangat istimewa.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dan aku mencintainya.<br />
~~~~~~~~~~~~~~~~~<br />
<em>Kusongsong sinar mentari pagi<br />
Hangat tawarkan gairah hidup<br />
dan ……..<br />
Kubuka tirai hari dengan seribu cerita<br />
Kurentangkan seluruh hari<br />
Dengan senyum ceria,<br />
sarat dengan harap dan cita-cita<br />
Penuh gelak tawa yang membiaskan pesona<br />
Kumenjelajah awan biru<br />
Kumenempuh jalan yang penuh liku<br />
Dan kutiti petak-petak penuh debu<br />
Bahkan seribu kerikil dan batu<br />
Kulalui semua itu dengan tekad dan harap Untuk meraih makna kehidupan<br />
Segala puja dan puji kusanjungkan<br />
sebab ……..<br />
Keagungan Allah semakin kurasa<br />
Meski aku lahir tanpa kesempurnaan indera<br />
Nada dan suara tidak pernah kudengar</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>Namun Tuhan memberi aku :<br />
Orang-orang yang berhati mulia<br />
yang tangannya lembut menyentuh rasa<br />
yang membawa aku sampai mampu wicara<br />
Dunia semakin terbuka bagiku<br />
Hingga sunyi dan sepi tak lagi kurasa.</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong>“la menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata”.<br />
Dedicated to Mutiara Tercipta, my beautiful niece, i love you</strong></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/duniaku-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Secangkir Teh Kayu Manis dan Kamu</title>
		<link>http://serpih.com/secangkir-teh-kayu-manis-dan-kamu/</link>
		<comments>http://serpih.com/secangkir-teh-kayu-manis-dan-kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 09:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Pagi. Begitu dingin dan angin mengusik anak rambut yang menggelitik pipi. Sudah pagi. Dan aku tak menemukanmu disisi. Masih seperti kemarin, tanpa kamu dan tetap terasa sepi. Aku sendiri.
Aku membuka jendela yang segera menyajikan hamparan sawah menyapa pagiku yang tenang. Pikiranku menari-nari mengingat pagi itu masih ada kamu terlelap tidur di sandingku di nyamannya lembut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-320" title="teh" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/teh.jpg" alt="teh" width="150" height="222" />Pagi. Begitu dingin dan angin mengusik anak rambut yang menggelitik pipi. Sudah pagi. Dan aku tak menemukanmu disisi. Masih seperti kemarin, tanpa kamu dan tetap terasa sepi. Aku sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku membuka jendela yang segera menyajikan hamparan sawah menyapa pagiku yang tenang. Pikiranku menari-nari mengingat pagi itu masih ada kamu terlelap tidur di sandingku di nyamannya lembut ranjang. Hatiku menerawang. Terbang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pagi ini berbeda dari pagi-pagi sebelum pagi ini. Aku melayang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sering aku bertanya, apa arti cinta? <span id="more-278"></span>Aku tak lagi bisa mengenali rasa jatuh cinta. Padamu telah aku serahkan hati ini sepenuhnya. Aku tahu aku salah memberikan semuanya. Separuh hati pun kini aku tak punya. Aku tak tahu kamu akan pergi dan menyisakanku dengan jiwa yang hampa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pagi ini berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Aku tertawa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Baby, itu dulu kamu sering memanggilku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Hunny, aku menjawab panggilanmu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Norak yah. Biarlah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignright size-full wp-image-322" title="JUMBO-TEACUP" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/JUMBO-TEACUP.jpg" alt="JUMBO-TEACUP" width="184" height="122" />Cinta memang kadang norak. Toh dia kadang nggak tau diri datang pada hati yang tak semestinya dihinggapi. Cinta yang sering tumbuh pada ladang yang tak dapat dituai sesuai harapan. Seperti aku dan kamu, hingga saat ini.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dulu kita nampak seperti tak peduli. Membiarkan rasa ini tumbuh meski kita mesti mencuri dari sang waktu untuk bertemu. Lalu kita sadar bahwa waktu tetaplah menjadi sang pemenang dan mengalahkan hati kita. Lalu kamu pergi, membawa segenap hati yang kutitipkan padamu. Tak kau kembalikan lagi. Sementara aku disini, dengan keheningan yang serasa menyesak, kadang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tapi pagi ini, berbeda dari pagi sebelum pagi ini.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku berdiri di tepi jendela. Menggenggam secangkir teh kayumanis.  Menatap hamparan sawah yang menguning. Sepoi angin yang menggelitik pipi. Pagi yang dingin tapi aku merasakan kehangatan. Karena kamu hadir kembali. Walau hanya seperti sepoi angin yang membisik menelisik sepiku. Kamu membuatku bahagia. Dengan kehadiranmu yang sunyi. Akankah kamu kembalikan sekeping hati yang kutitipkan padamu?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Pagi ini aku menggenggam secangkir teh kayumanis yang selalu berhasil mengembalikan rasa sedihku menjadi senyum cerah. Seperti aku menggenggam hati yang telah kau berikan kembali menjadi milikku, dan masih menjadi milikmu. Milik kita.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Terima kasih, telah kembali hadir, walau sebagai kamu yang berbeda.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Masih tetap ada yang sama disini, perasaanku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku masih mencintaimu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-321" title="3tea" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/3tea.jpg" alt="3tea" width="172" height="131" /><br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>***silahkan menikmati secangkir teh kayu manis di <a href="http://dayu.blogdetik.com/2009/08/24/secangkir-teh-kayumanis-dan-kamu/">sini</a>.</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/secangkir-teh-kayu-manis-dan-kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Tak Bisa</title>
		<link>http://serpih.com/aku-tak-bisa/</link>
		<comments>http://serpih.com/aku-tak-bisa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 09:33:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[aku tak bisa tenggelam dalam sepi ku di sini
hingga terbawa ku berasa hilang dalam gelapnya hariku
aku tak bisa sesali semua yang telah terjadi
walaupun berat kurasakan cintamu masih ada menyentuh
tapi ku tak bisa menepis semua bayang dirimu
sekian lama kau berada disini disisiku bersamamu
kuharapkan ku bisa melepas semua kenangan dirimu
walaupun berat kubayangkan semuanya dihidupku dan hatiku
tanpa dirimu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><blockquote><p><span style="color: #993300;"><em><img class="alignleft size-full wp-image-328" title="aku tak bisa" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/aku-tak-bisa.jpg" alt="aku tak bisa" width="145" height="219" />aku tak bisa tenggelam dalam sepi ku di sini<br />
hingga terbawa ku berasa hilang dalam gelapnya hariku<br />
aku tak bisa sesali semua yang telah terjadi<br />
walaupun berat kurasakan cintamu masih ada menyentuh<br />
tapi ku tak bisa menepis semua bayang dirimu<br />
sekian lama kau berada disini disisiku bersamamu<br />
kuharapkan ku bisa melepas semua kenangan dirimu<br />
walaupun berat kubayangkan semuanya dihidupku dan hatiku<br />
tanpa dirimu *)</em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #993300;">“Jangan pergi,” aku merengek. Dalam diam.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tapi pria tampan dihadapanku tak bergeming. Ia masih dengan tatapan kosong. Sibuk dengan barang-barang yang sedang dirapikannya. Rahangnya bertaut. Keras. Aku tak berani merajuk kalau dia sudah begitu. Dia begitu dingin dan tak tersentuh oleh dunia disekitarnya. Terakhir, dia merapikan gitar yang dibungkusnya lalu disandingkan di bahunya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Namanya Rangga.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><span id="more-276"></span>Seorang perempuan mendekatinya. Aku masih diam dan memperhatikan. Rangga beralih pandangan ke arah perempuan itu, dan melempar senyum sekedar membalas senyumnya. Aih !!! Senyum itu. Senyum yang dulu tulus dia berikan untukku. Senyum yang hangat. Sehangat saat aku dalam pelukannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dulu.<br />
Sekarang semua tak lagi sama.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Tak ada senyum. Tak ada pelukan. Tak ada sapaan. Bahkan sepertinya ia tak menyadari aku berada disini. Ia melempar senyum pada perempuan itu, bukan padaku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Sudah selesai?” aku mendengar sayup perempuan itu bertanya. Rangga mengangguk. Perempuan itu tadi yang satu panggung dengan Rangga.<br />
“Kamu langsung pulang atau …,” perempuan itu merajuk dan menggelayut manja di bahu Rangga. Aku benci melihatnya. Dengan halus Rangga melepas cengkeraman tangan perempuan itu. RASAIN!!! Umpatku. “Aku pulang,” aku mendengar Rangga menjawab. Suaranya terlihat lelah tapi sepotong senyum masih dia usahakan menghias bibirnya. Uff, Rangga memang baik.<br />
“Mampir dulu dong, Ga,” rengek perempuan itu. “Makan.”<br />
“Aku lelah, Ver,” kata Rangga singkat. “Aku langsung pulang saja.”<br />
“Aku lapar, Ga. Tega lo ya.”<br />
“Kamu bisa ditemani Andre.”<br />
“Ga,” rengek Vera, perempuan itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Oke. Ini mulai menyebalkan. Dan aku tau Rangga nggak tega menolak. Pasti. Sebentar lagi dia akan bilang, “Oke Ver, makan terus pulang. Iya, ntar aku antar sampai rumah.”<br />
Menyebalkan !!!<br />
Bahkan sampai detik ini Rangga tak menyadari keberadaanku. Padahal aku hanya berada dua jengkal dari jarak pandangnya. Oh ya. Memang. Aku invisible baginya. Sejak hari itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Maaf Ver, aku benar-benar harus pulang sekarang. Aku ada perlu dengan seseorang.”<br />
Jawaban yang tak kuduga.<br />
“Ndre, titip Vera ya. Temani dia makan trus anterin pulang,” kata Rangga lagi pada Andre, asistennya.<br />
“Siap Boss!!!”<br />
Vera merengut tapi tak bisa berbuat lain.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Rangga, dan teman-teman bandnya perform di Town Cafe malam ini. Penampilan yang keren, seperti selalu. Dan aku masih saja menjadi penikmat band Rangga. Silent admirer. Aku selalu hadir di setiap konser mereka. Dalam diam. Di posisi yang tak terlalu nampak. Aku hanya ingin menikmati Rangga. Suaranya. Performancenya. Aku masih mencintainya. Sebongkah rasa dengan porsi yang sama. Seperti dulu sejak hari itu. Hari dia meninggalkanku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Jangan. Jangan pergi.<br />
Kalimat yang terus terulang setiap Rangga beranjak. Mungkin, aku trauma sejak kepergiannya. Aku tak ingin Rangga pergi. Itu mengapa aku selalu hadir di setiap konsernya. Dan menunggu sampai Rangga pergi. Karena aku tak mampu menahannya. Tidak dulu. Tidak sekarang.<br />
Rangga meninggalkan Vera, Andre dan teman-teman bandnya. Dia menghilang. Aku tak sempat melihat kemana perginya Rangga. Aku kehilangan moment itu. Rangga pergi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Rangga pergi.<br />
Itu sudah biasa. Dan aku tetap menjadi perempuan yang sama, ditinggalkannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku merapikan tas kuningku. Jaket orange yang menjadi trademark-ku. Kuning orange. Dan hendak beranjak ke arah pintu keluar di tengah crowd yang masih ingin menikmati malam, ketika aku menabrak seseorang yang berdiri tepat di belakangku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignright size-full wp-image-329" title="lonely" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/lonely.jpg" alt="lonely" width="179" height="222" />Pria itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Selamat malam, Sist.”<br />
Rangga.<br />
RANGGA.<br />
R-A-N-G-G-A.<br />
Aku tak mampu berkata apapun. Sekian lama aku telah kehilangan kalimat untuk berbicara dengannya. Tak lagi punya keberanian untuk sekedar menyapa. Terlalu sakit ditinggalkan. Dan masih saja AKU TAK BISA melupakan dia. Rangga.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Terima kasih untuk selalu hadir di setiap konser kami,” kata Rangga. Senyumnya terlihat tulus menghias bibirnya. Senyum. Untukku.<br />
Aku masih tak mampu berkata-kata.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kamu sendiri?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Selalu. Aku selalu sendiri, jawabku. Tapi lidahku masih kelu. Dan aku hanya menatapnya dalam diam dan tatapan yang – tak – tahu – harus – bagaimana.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Hey, kenapa diam? Kamu sudah makan?”<br />
Aku menggeleng.<br />
“Mau temani aku makan?” tanya Rangga. “Sebelum pulang?” tambah Rangga lagi membuatku makin tepekur. “Then I’ll take you home?” katanya lagi makin membuatku seperti patung yang bernafas.<br />
“Tap … tapi …,” kali ini suaraku seperti sapi yang hendak disembelih di hari kurban.<br />
“Sst, Vera?” Rangga seperti tau yang ada dibenakku.<br />
Aku menggangguk.<br />
“Kamu dengar obrolan kami tadi?”<br />
Aku mengangguk. Lagi.<br />
“Sst, aku lakukan itu supaya aku bisa ketemu kamu,” Rangga berkata begitu sambil menggamit lenganku dan mengajakku beranjak.<br />
“Tap … tapi …,” aku tergeragap.<br />
“Tapi saya bundar?” Rangga menyahut dengan canda dan memaksaku tertawa.<br />
“Gitu dong ketawa.”<br />
Kami berjalan beriringan. Seperti dulu.<br />
“Sist, makasih ya untuk selalu datang di setiap konserku.”<br />
“Kamu tahu aku selalu datang?”<br />
“Selalu.”<br />
“Tap .. tapi …”<br />
“Buang tapi saya bundarmu itu.”<br />
Aku tertawa lagi disambung tawa Rangga.<br />
“Aku hanya tak sempat menghampirimu.”<br />
“Tak sempat?”<br />
“Uhm,” Rangga menggantung kalimatnya. Lalu berhenti melangkah dan menggamit kedua tanganku. Kini kami berhadapan.<br />
“Sejujurnya, aku nggak tahu bagaimana harus meraih kamu lagi, Sist. Setelah aku meninggalkanmu. Aku merasa bersalah. Tapi saat itu, meninggalkan kamu adalah pilihan yang terbaik. Buat kamu. Buat kita.”<br />
Aku masih terdiam dan menatapnya. Tak percaya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tak butuh kalimat penjelasanmu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Shall we go now?” tanyanya santun.<br />
Aku melangkah disandingnya. Kami berjalan beriring dengan senyum menghias bibir kami. Aku tak perlu penjelasannya. Aku juga tak peduli apakah dia akan kembali atau tidak. Aku hanya ingin malam ini aku dan Rangga menghabiskan waktu hingga pagi. Bicara. Tertawa. Seperti dulu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sampai saat ini aku tetap tak tahu alasan Rangga dulu meninggalkanku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-330" title="love letter" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/love-letter1.jpg" alt="love letter" width="166" height="167" /><br />
</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;"><strong>@GSR, terima kasih telah menyapaku dan mengirimkan lagu indah yang membuatku tersenyum,<br />
</strong><em>tetap tak ada yang biasa tentangmu.</em></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">*) Pinjam lirik lagunya ya, Kak ^;^, juga ada di <a href="http://dayu.blogdetik.com/2009/08/25/aku-tak-bisa/">sini</a>.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/aku-tak-bisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buzz Me, Stranger !</title>
		<link>http://serpih.com/buzz-me-stranger/</link>
		<comments>http://serpih.com/buzz-me-stranger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 10:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta Yang Patah]]></category>
		<category><![CDATA[Love Fool]]></category>
		<category><![CDATA[Stranger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Saya telah bertindak bodoh.
Dan inilah pengakuannya :
 
Saya, seorang perempuan, seorang pribadi yang bebas, walau ada batas tipis yang mengikat untuk tidak melakukan ini dan tidak melakukan itu. Contohnya, sebagai perempuan harus memegang etika, tapi sebagai pribadi yang bebas saya juga butuh tidak selalu mengekang keliaran saya. Saya punya alasan mengapa saya tidak menjadi pribadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="color: #993300;">Saya telah bertindak bodoh.<br />
<em>Dan inilah pengakuannya </em>:</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-295" title="letting go" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/letting-go.jpg" alt="letting go" width="152" height="223" /><span id="more-294"></span>Saya, seorang perempuan, seorang pribadi yang bebas, walau ada batas tipis yang mengikat untuk tidak melakukan ini dan tidak melakukan itu. Contohnya, sebagai perempuan harus memegang etika, tapi sebagai pribadi yang bebas saya juga butuh tidak selalu mengekang keliaran saya. Saya punya alasan mengapa saya tidak menjadi pribadi yang seharusnya. Walaupun dari alasan itu terlalu banyak yang menjadi sebuah pembenaran.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> Kali ini, saya ingin mengakui kebodohan saya <strong>tentang mencintai.</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ya. Saya mencintainya. Seorang asing yang tanpa sengaja saya cintai karena keberadaan dia yang tidak memiliki kepentingan dengan saya. Dia hadir begitu saja mengisi kebutuhan hati saya akan sebuah kehangatan. Dia datang tanpa saya minta. Dia pergi sesuka dia. Tapi dia sering ada walau tidak selalu. Dia membuat saya tertawa. Dia menertawakan kebodohan saya. Dan saya suka itu. Dia membuat saya istimewa. Padahal saya yang tergila-gila dengan keistimewaan dia. Dia istimewa justru dari sosoknya yang begitu sederhana.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Saya memanggilnya : <strong>Stranger.</strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-298" title="Letting_go_by_PaniFilth" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/Letting_go_by_PaniFilth.jpg" alt="Letting_go_by_PaniFilth" width="150" height="200" />Kami melakukan kegilaan-kegilaan yang hanya kami berdua yang bisa menikmati. Hanya kami berdua yang bisa memahami. Ya. Mungkin kami sama-sama gila. Sudah saling menggilai satu sama lain tanpa kami ingin saling menyakiti. Tapi di satu titik di depan kami sadar bahwa kami akan saling menyakiti. Kami seperti saling mencuri waktu. Membohongi dan menyelinap diantara jejak jarak dan ruang gerak untuk menikmati kebersamaan sekedar berbagi tawa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sampai hari itu tiba. Entah angin apa yang merasuki Stranger. Dia begitu dingin. Angin kutub kah? Aku kehilangan kehangatan yang selalu dia hadirkan. Dia selalu muncul dalam ketiadaan. Sekalipun aku merengkuhnya, Stranger bertahan dalam keangkuhan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Saya kehilangan pegangan. Saya kehilangan kehangatan. Saya terluka dan tersesat dalam pertanyaan ambigu yang tak berjejak. Saya merindukan Stranger. Saya tak punya panduan untuk menemukan mata angin yang mampu menolong saya kembali merengkuh Stranger.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dalam ketidaktahuan arah yang hendak saya turuti untuk berada di mata penjuru yang sama dimana Stranger berada, beribu tanya bergaung dan memantul tanpa terdengar suaranya. Kalimat itu bergemuruh dalam telingat hati saya :</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Saya memulai (lagi) dengan air mata.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata sisi hati saya : Sayang air mata lo. Tidak pantas air mata lo tercurah untuk seseorang yang tidak mencintaimu dengan sungguh-sungguh.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata saya : Mencintai dan dicintai jelas memiliki garis penghubung yang tipis  tapi keduanya tidak selalu saling bertautan. Saya mencintainya. Titik. Tidak selalu harus berbalas. Tidak peduli dia mencintai saya atau tidak. Tidak peduli saya dicinta atau tidak. Saya hanya ingin mencintainya. Saya hanya ingin dia memberi saya ruang dan waktu untuk mencintai. Tidak dengan bertahan dalam diam dan membiarkan saya dalam ketidaktahuan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata sisi hati saya membalas : Iya. Mencintai dan dicintai. Tapi tak perlulah air mata tercurah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata saya : Kadang air mata perlu dicurahkan. Untuk menukar kelemahan menjadi kekuatan. Pernah dengar kalimat ini : Batas tipis antara kekuatan dan kelemahan wanita ada pada air mata. Kalau belum dengar, ya, itu kalimat yang saya rumuskan. Baru saja.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata sisi hati saya : Lo mestinya marah.</p>
<p>Kata saya : Untuk apa marah? Toh dia tetap pergi &#8230;</p>
<p>Kata sisi hati saya : Ya buat apa tawa dan khayalan yang kalian susun itu? Mimpi mimpi untuk pertemuan yang tak pernah ada. Harusnya lo tu marah. Itu semua terpatahkan hanya karena dia tak lagi ada. Tanpa kabar. Tanpa lo tahu mengapa dia ninggalin lo.</p>
<p>Kata saya : Dia tak pernah bilang. Tapi saya berusaha mengerti. Dia masih ingin ada. Hanya tidak bisa. Dan saya bukan pilihan dia.</p>
<p>Kata sisi hati saya : Lo kan pernah niy jatuh cinta. Lalu dia pergi. Meninggalkan lo. Lalu lo sakit hati. Ini kan sebenarnya seperti cerita yang berulang. Cinta datang. Lalu pergi. Tersisa sakit. Butuh perekat waktu untuk menyembuhkan. Lo menemukan cinta baru. Sejarah berulang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata saya : DIAM. Biarkan aku sembuhkan luka hatiku dengan perginya Stranger.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata sisi hati saya : Halah. Tar lagi juga datang cinta yang laen.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata saya : DIAM. Saya tidak ingin cinta yang lain. Sudah terlalu  banyak cinta yang pernah ada. Saya mencatat. Ini begitu dalam. Dan saya tidak ingin yang ini berlalu begitu saja.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kata sisi hati saya : Lalu mau lo gimana ?</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Saya diam. Saya menatap sisi hati saya dalam kekosongan. Dengan pertanyaan yang mungkin juga tak mampu dia jawab : Masihkah Stranger bersedia mencintai saya dan bertahan lebih lama sedikit untuk memberi saya kehangatan. Tapi pertanyaan itu tertiup angin dan lunglai begitu saja seperti pucuk daun yang tak memiliki kesempatan mencumbu angin karena patah tangkainya dan jatuh ke tanah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lalu saya hanya duduk terhempas pada sebuah bangku kosong. Berderak sandarannya tak mampu menumpu beban hati saya yang terlalu berat. Andai saya boleh meminta pada angin, untuk mengembalikan hati yang telah ia curi untuk dikembalikan pada pemiliknya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Saya duduk dalam diam. Meratapi kebodohan yang telah saya lakukan. Mungkin, mencintainya adalah kebodohan yang saya lakukan. Saya perempuan yang memiliki batas-batas yang dengan secara sadar saya telah mematahkannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Kini saya hanya mampu menghitung bulir air mata yang saya paksakan bisa menggantikan kehangatan pelukan yang pernah dia tawarkan dalam bentuk tawa dan khayalan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Saya sadar, mungkin tak selalu bisa, tapi saya mau melakukan ini.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Melakukan hal yang dia inginkan dari saya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mungkin, wujud cinta saya untuk dia, adalah dengan merelakan dia pergi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Letting go &#8230;</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-296" title="letting_go_by_0odarkangelo0" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/letting_go_by_0odarkangelo0.jpg" alt="letting_go_by_0odarkangelo0" width="231" height="174" /></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em>You learn that you are really endure</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em>That you are really strong</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em>And you are really do have worth</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em>And you learn and learn</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><em>With every goodbye you learn</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-297" title="letting_go" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/letting_go.jpg" alt="letting_go" width="285" height="333" /><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/buzz-me-stranger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Sebatas Mimpi</title>
		<link>http://serpih.com/cinta-sebatas-mimpi/</link>
		<comments>http://serpih.com/cinta-sebatas-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 20:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Aku berlari terengah di tengah terik ladang yang menghampar di sepanjang jalan yayasan menuju rumah. Yang ada di pikiranku hanya satu : MENCARI RIFAI. Tak aku hiraukan peluh yang membasahi wajahku. Ahh, aku jadi ingat kalimat Rifai mengenai wajahku yang berpeluh. Makin seksi, katanya, dan wajahku merona. Dulu. Suatu waktu. Yang entah sudah kapan waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-286" title="gubuk-derita" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/gubuk-derita.jpg" alt="gubuk-derita" width="222" height="333" />Aku berlari terengah di tengah terik ladang yang menghampar di sepanjang jalan yayasan menuju rumah. Yang ada di pikiranku hanya satu : MENCARI RIFAI. Tak aku hiraukan peluh yang membasahi wajahku. Ahh, aku jadi ingat kalimat Rifai mengenai wajahku yang berpeluh. Makin seksi, katanya, dan wajahku merona. Dulu. Suatu waktu. Yang entah sudah kapan waktu terlalu lama berlalu. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Rifai jarang merayu. Tapi aku tetap tak bisa menahan diri untuk tidak mencintainya. Dasar aku tak tahu malu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Atap rumah sudah terlihat. Dan satu-satunya wajah yang kuharapkan kutemui ketika kakiku menginjak halaman rumah yang tanpa rumput hijau dan hanya ada segelintir rumput liar tak terawat menyambut kakiku yang bertelanjang tanpa alas kaki adalah : WAJAH RIFAI.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><span id="more-282"></span>&#8220;Fa, &#8230; Fa,&#8221; aku terengah. Terlihat Rifai sedang duduk dengan sabar disanding Flo dan Maria yang menekuri buku di hadapan mereka. Ya. Hari Senin sore adalah jadwal Rifai mengajar bagi kedua adik kembarku yang sering jahil dan usil itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Rifai berdiri menyambutku. Dengan tenangnya dia menyentuh bahuku dan membiarkan aku duduk. Ranjang jerami yang reot itu berderit. Bertahan sekuat tenaga menahan ketiga tubuh kami. Tubuhku, tubuh kecil Maria dan Flo.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Melly, Fa. Ayah Melly lagi bikin ulah. Dan entah kenapa selalu aku yang dicercanya. Mereka sedang menuju kemari,&#8221; sambatku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Ya sudah. Aku tenangkan mereka. Sekalian aku pamit. Sampaikan pada Mamak ya. Kalian selesaikan dengan Kak Lena ya,&#8221; kata Rifai kemudian pada kedua adik kembarku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Nah, terlihat di sana Melly dan ayahnya dengan wajah garang menuju rumah kami. Tak lama Rifai mencapai mereka dan dengan kata-kata lugas, seperti biasa, Rifai menenangkan kepala yang seringkali panas karena ketidakpuasan yang tak jelas.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ayah Melly, dulu pernah memintaku untuk menjadi istri Raan, anak sulungnya. Tapi karena Mamak tahu aku tidak suka, Mamak menolak, sekalipun Ayah Melly menawarkan pundi-pundi yang akan mengangkat hidup kami dari kemiskinan. Ayah Raan itu mengamuk dan mencerca aku dan Mamak. Memang, Ayah Raan dan Melly itu orang kaya dan dia menyerapah Mamak dengan ucapan kasar. Orang miskin yang sok, katanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ya. Kami keluarga miskin. Tapi kami punya harga diri. Mamak tidak menjual anaknya demi kemewahan. Sejak Mamak ditinggal mati Bapak, aku dan Blanca, adikku, bekerja untuk menyambung nafkah keluarga. Aku mengajar di sekolah tempat Melly belajar. Dan seringkali Ayah Melly itu mencari gara-gara dengan menyalahkan aku untuk hal-hal yang seringnya tak masuk akal.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Untungnya ada Rifai, pria kaya yang dekat dengan keluarga kami, dan sayang dengan adik-adikku. Dia selalu menjadi tempat keluh kesahku, kalau saja aku boleh mengakui, aku mencintai dia, tapi aku malu. Sepertinya aku ini tak tahu diri, untuk mengakui bahwa aku mencintai Rifai.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Kenapa Kakak tidak menyatakan lebih dulu bahwa Kakak mencintai Bang Rifai?&#8221; tanya Blanca, adikku yang sudah cukup dewasa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Andai aku punya keberanian untuk itu, Ca. Dia terlalu baik. Dia terlalu sempurna. Dan rasanya aku tidak tahu diri kalau aku mengharap dia juga mencintaiku.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Tapi sepertinya Bang Rifai juga mencintai Kakak.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku melamun. Menghalau jauh-jauh serpihan kenangan yang pernah tercatat di ingatanku. Sore itu Rifai menjemputku di Yayasan dan mengantarku pulang. Dalam perjalanan hujan turun dengan derasnya. Rifai sudah membawa payung karena ketika dia menjemput langit sudah begitu gelapnya. Kami berteduh di surau karena hujan begitu derasnya. Menembus lebatnya hujan sama saja membiarkan kaki dan baju kami basah karena angin yang menarikan rinai hujan menggelitik tubuh kami di antara desaunya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Rifai begitu memperhatikan dan melindungiku. Dilepasnya jaket yang dikenakannya dan dilingkarkannya ditubuhku. Aaah, seperti di film roman kuno saja. Tapi aku suka. Ketika dia melakukan itu, wajah kami sangat dekat. Hidung bangirnya menyentuh hidungku. Dan &#8230; dan bibir kami nyaris bertaut ketika satu butir bulir hujan turun tepat di ujung bibirku yang membuatku spontan menarik wajahku. Untuk pertama kali kulihat, wajah Rifai merona merah. Sebentar sikapnya kikuk tak tentu. Aku hanya diam saja, saat Rifai bilang, &#8220;Maaf.&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Fa,&#8221; lirihku spontan. Rifai menatapku. Mata kami bertautan dan kulihat binar, yang entah kata apa yang tepat untuk merumuskannya : CINTA? Ahhh &#8230; terlalu terburu menyimpulkan itu cinta. Lalu aku hanya terdiam. Dan Rifai juga.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Jilena,&#8221; panggilnya. Aku mendongak. Dan kembali kedua tatap mata kita beradu. &#8220;Maaf,&#8221; ujarnya. &#8220;Tidak apa-apa,&#8221; kataku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sungguh, dia tak perlu menyatakan maaf untuk sesuatu yang kusuka. Tapi dia telah mengucapkannya. Dan tidak terjadi apapun setelah itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Kamu mencintainya kan, Kak?&#8221; pertanyaan Blanca mengurai lamunanku.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Ya. Tapi dia sebentar akan pergi. Dia mengejar mimpinya dan meninggalkan desa ini. Untuk apa aku menyatakan cinta bila dia tetap pergi?&#8221;</span></p>
<p><span style="color: #993300;">&#8220;Setidaknya Bang Fai tahu bahwa Kakak mencintainya.&#8221;<br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aku tak menyahut, malah melamun. Entah, kenapa aku menikmati setiap nyeri yang menusuk hatiku setiap aku kangen Rifai. Antara ingin menyatakan aku cinta dia tapi aku tahu dia pasti pergi. Lalu aku simpan saja tanpa dia tahu. Atau membiarkan dia tahu tanpa aku nyatakan. Karena toh Rifai tetap akan pergi. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mencintai Rifai adalah hal  terbodoh yang kurasakan dalam hidupku. Dan aku rela menjadi bodoh untuk mencintainya. Cinta yang hanya sebatas mimpi. Mencintai Rifai adalah hal yang paling menyakitkan. Dan aku rela sakit untuk memiliki rasa cinta ini untuknya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sampai kepergian Fa, panggilan sayangku untuk Rifai, aku tak pernah menyatakan rasa yang kusimpan. Biar saja menjadi kalimat-kalimat bisu yang mengunci rasa yang ditinggalnya pergi. Cintaku tak pernah tersampaikan. Mungkin akan kutitipkan pada angin, bila nanti ia mampu singgah tempat dimana Rifai menyandarkan mimpinya. Semoga pesanku terbaca olehnya. Mungkinkah pesan yang disampaikan angin adalah separuh dari penggalan mimpinya yang sedang ia cari dan raih jauh disana?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Semoga.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-288" title="love" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/love.jpg" alt="love" width="206" height="142" /><br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>&gt;&gt; penggalan-penggalan cerita yang kucuri dari drama teatrikal yang terpampang jelas di mimpiku malam ini. </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Noted</span></strong> : <em>Saya tidak bisa menggambarkan sosok yang tepat untuk RIFAI, ketika saya menuliskan tokoh Rifai, yang teringat dalam bayangan saya adalah sahabat saya  : &#8230; aaaah, nggak usah disebutlah, kamu tahu itu !!! ^;^</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/cinta-sebatas-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Bahu itu Tak Lagi Mampu Menjadi Sebuah Sandaran</title>
		<link>http://serpih.com/ketika-bahu-itu-tak-lagi-mampu-menjadi-sebuah-sandaran/</link>
		<comments>http://serpih.com/ketika-bahu-itu-tak-lagi-mampu-menjadi-sebuah-sandaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 09:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[
“Aku kehilangan tempat bersandar darimu, Bang,” rengek Ajeng di sms yang dikirim untuk pria yang dipanggilnya : Bang.
“Aku tidak kemana-mana, Jeng,” sahut Bangkit.
“Iya. Tapi kamu pergi.”
“Aku hanya sedikit melakukan aktivitasku yang agak lebih padat dari biasanya. Aku masih di sini. Mendengarkan keluhanmu. Menampung ceritamu. Menjadi sampah serapahmu.”
Ajeng terpekur. 


Ia merasa kehilangan sosok Bangkit yang beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div>
<p><span style="color: #993300;">“Aku kehilangan tempat bersandar darimu, Bang,” rengek Ajeng di sms yang dikirim untuk pria yang dipanggilnya : Bang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku tidak kemana-mana, Jeng,” sahut Bangkit.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Iya. Tapi kamu pergi.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Aku hanya sedikit melakukan aktivitasku yang agak lebih padat dari biasanya. Aku masih di sini. Mendengarkan keluhanmu. Menampung ceritamu. Menjadi sampah serapahmu.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ajeng terpekur. </span></p>
<p><span style="color: #993300;"><img class="aligncenter size-full wp-image-341" title="bahu" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/bahu1.jpg" alt="bahu" width="222" height="139" /><br />
</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><span id="more-268"></span>Ia merasa kehilangan sosok Bangkit yang beberapa hari ini mengisi harinya. Ia bukan siapa-siapa, seminggu yang lalu. Tapi sejak hari itu, Bangkit mengisi harinya. Mendengarkan keluhannya. Menampung ceritanya. Menjadi tempat sampah segala serapahannya. Pada lelaki itu. Pada hidup. Pada kelelahannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ajeng tak mengeluhkan hubungannya yang tak berjalan seperti yang dia impikan bersama lelakinya. Ia tak menceritakan tentang lelahnya ia berjuang sendirian. Ia tak menyerapah betapa kesalnya ia pada lelakinya. Yang hanya duduk diam dan sibuk dengan aktivitasnya. Tanpa melibatkannya. Tanpa mengajaknya berdiskusi. Tanpa membawanya dalam hidupnya. Padahal mereka telah bersama bertahun-tahun lamanya. Dan Ajeng masih saja merasa sendiri. Dengan perjuangannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bangkit datang membawa secangkir teh panas yang tanpa dia sadari menghangatkan kesepiannya. Hanya dengan secangkir teh panas, mereka bisa berbincang tentang segala hal. Tentang bunga anyelir di pot hidroponiknya yang tak kunjung berbunga. Tentang musim kemarau yang begitu singkat. Tentang bom yang tanpa ampun meluluhlantakkan gedung mewah dalam hitungan detik. Dan menyisakan derita panjang bagi perempuan yang dalam sekejap berubah status menjadi janda. Dan anak-anak yang menjadi yatim … dalam hitungan detik.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dan tiba-tiba saja Bangkit tak lagi berada di sanding Ajeng untuk menemaninya menikmati secangkir teh hangat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ajeng kehilangan. Ajeng merindukan tempat bersandar. Hanya sekedar untuk meletakkan sejenak kelelahannya, dan mencuri waktu untuk sekedar untuk tersenyum. Bangkit mampu menciptakan sekilas senyum di ujung bibirnya. Dan itu sudah lebih dari sekedar kata cukup.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bagaimana mungkin pria itu, yang dikenalnya belum cukup lama, mampu membuatnya tertawa, dan merasakan ketenangan yang diciptakan dari kalimat-kalimat magis sederhana. Mengalahkan lelaki yang telah bertahun-tahun hidup bersamanya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ini bukan masalah menang atau kalah. Ajeng juga tak pernah membandingkan Bangkit dengan lelaki yang telah berbagi hidup dengannya bertahun-tahun. Tapi Ajeng tak mampu memungkiri hatinya telah jatuh dalam ketenangan yang diciptakan Bangkit. Dan ia merasa sangat kehilangan hanya dalam waktu satu minggu, Bangkit menghilang dari hidupnya, karena kesibukannya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Bang, datang segera. Aku tak butuh banyak waktumu. Aku hanya ingin hadirmu, walau sesaat. Aku tahu,  butuh berjam-jam untuk kamu mencapai di sini, tempat aku berada. Tapi bukannya itu tak mungkin, Bang?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Jeng, coba alihkan pandanganmu ke depan. Kamu hanya terlalu lama menoleh ke belakang.”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dan Ajeng pun mengubah arah pandangannya. Ke depan. Dan ia melihat pria itu, berdiri di sana. Dengan senyum yang meneduhkan. Ajeng ragu melangkah ke depan. Tapi kakinya memaksa untuk diayunkan. Ajeng melangkah. Ke arah pria itu berdiri. Bangkit, yang mampu membangkitkan senyum di ujung bibirnya.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Lengan itu tak terlalu kekar, Ajeng tahu. Bahu itu tak cukup lebar, Ajeng sadar. Tapi ketika rengkuhan pria itu mencapai tubuh Ajeng, ia menyandarkan kelelahannya ke dalam lengan dan bahu yang segera meraihnya dalam pelukan hangat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“See. Aku tidak kemana-mana. Aku ada tak jauh darimu. Aku masih  setia mendengarkan keluhanmu. Aku rela mendengarkan curhatmu. Dan aku ikhlas menjadi tempat sampah untuk serapahmu,” ujar Bangkit.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Dan Ajeng tak mampu berkata-kata. Ia hanya meletakkan ponsel mungil itu disandingnya. Menelungkupkan wajahnya dalam rengkuhan. Meletakkan lelahnya dalam pelukan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bangkit juga meletakkan ponselnya di sandingnya. Menerima wajah muram itu dalam rengkuhan. Dan memeluk kelelahan Ajeng dalam kehangatan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Mereka berpelukan dalam diam. Memeluk angin malam yang menyublim menjadi air mata. Mereka terjeda jarak bermil-mil jauhnya. Tapi pelukan mereka begitu erat.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Hangat.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;"><strong><em>*GSR, 21 juli 2009* ~ untuk ketenangan yang kau tawarkan … </em></strong></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #993300;"><strong>coba klik di <a href="http://dayu.blogdetik.com/2009/07/22/ketika-bahu-itu-tak-lagi-mampu-menjadi-sebuah-sandaran/">sini</a><em><br />
</em></strong></span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/ketika-bahu-itu-tak-lagi-mampu-menjadi-sebuah-sandaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Malam dari Ribuan Malam yang Menjadi Malamku</title>
		<link>http://serpih.com/sepenggal-malam-dari-ribuan-malam-yang-menjadi-malamku/</link>
		<comments>http://serpih.com/sepenggal-malam-dari-ribuan-malam-yang-menjadi-malamku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 09:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lusia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serpih.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[“Re, siapa aku buatmu tujuh belas tahun yang lalu?”
 
“Hem?” dia menjawab dengan dehem tanpa memperhatikanku. “Kita mau kemana ya, Ra?” malah balik bertanya nggak jelas.
 
“Re, apa benar dulu kamu sering ganti-ganti cewek?” aku penasaran.
 
“Kamu ngomong apa siy, Ra?” dia membelokkan mobil ke sebuah cafe. “Kamu tau jawabannya.”
 
“Enggak. Aku nggak tahu. Memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="color: #993300;"><img class="alignleft size-full wp-image-345" title="malam" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/malam.jpg" alt="malam" width="192" height="192" />“Re, siapa aku buatmu tujuh belas tahun yang lalu?”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Hem?” dia menjawab dengan dehem tanpa memperhatikanku. “Kita mau kemana ya, Ra?” malah balik bertanya nggak jelas.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Re, apa benar dulu kamu sering ganti-ganti cewek?” aku penasaran.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Kamu ngomong apa siy, Ra?” dia membelokkan mobil ke sebuah cafe. “Kamu tau jawabannya.”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Enggak. Aku nggak tahu. Memang ada banyak nama, tapi aku tak pernah tahu dimana hatimu berlabuh.”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Sampai kini aku juga tidak tahu,” <span id="more-181"> </span>dia memarkir mobil dan ketika dia mengucap kalimat itu, dia menatapku. “Only heaven knows where my heart belongs.”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Ga papa juga kok ganti-ganti cewek asal enggak ngerenteng. Pacarku juga dulu banyak,” kataku sambil turun. Dia mendekat dan merengkuh bahuku. Aku membiarkan dia melakukan itu. Nyaman. Dan, aaah … aku menikmatinya.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Kamu ngomong apa siy, Ra. Pertama, aku enggak ganti-ganti cewek. Kamu tahu siapa yang akhirnya menjadi, aaah sudahlah. Lagian, ngapain juga bikin pengakuan kamu punya pacar banyak,” dia tertawa kecil. Aku merengut. Malu.  ”Lagian, aku percaya pacar kamu banyak. Rara, gitu loh,” katanya dengan wajah lucu menggoda. Aku pura-pura merengut tapi suka dengan cara dia menggodaiku.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Reeee, udah dong,” aku merajuk. Manja. Iih, aku sebal dengan gayaku sendiri. ABG style banget deh. Tapi dia hanya mengacau rambutku asal.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Re, kamu belum jawab pertanyaanku.”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Tentang 17 tahun itu? Uhm, apa ya.<span id="more-264"></span> Semuanya aku anggap teman, Ra. Just another same girl.”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Katamu, I am your blast from your past.”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Hem, enggak  selama kamu mungkin,” dia terbahak. Aaaah, aku suka sekali saat dia melakukan itu. Tawanya begitu mewah. “Tapi yea, kamu memberi warna tersendiri buatku, Ra. I mean, setelah kita semakin dewasa, aku melihat hidup kamu jauh lebih mapan. Kamu juga nggak lupa dengan sahabat lama. Well then, sejauh mana aku berarti buatmu, Ra?”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“I told you. You mean a lot to me, Re. You are my first love. Aku mengagumi kamu. Kamu orang yang tangguh. Kamu dan … dia, pasangan yang sempurna,” aku menelan ludah tak bisa menyebut nama … perempuan sempurna itu.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Tidak ada yang sempurna, Ra, kamu tahu itu. Aku justru melihat kamu dengan kehidupan kamu yang sekarang begitu sempurna. Kamu telah mendapatkan apa yang kamu impikan. Keluarga yang harmonis. Pekerjaan yang mapan. Hidup yang settled. Apalagi? Kamu memiliki segala yang diimpikan perempuan seusiamu, Ra.”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“As you said, Re, nothing is perfect. Even the perfect one is imperfect. Look, apa yang tidak kamu punya?”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Please Ra, aku ga mau debat soal ini. Key?”</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">Aku menatap wajah dia dengan tidak puas. Masih ingin membantah. Apa yang tidak membuatnya bahagia? Apa yang membuatnya tak bisa tertawa lepas sebebas itu sekian lama sebelum bertemu denganku? Bukankah dia menikah dengan perempuan yang dicintainya? Dia memiliki lelaki kecil cerminan dirinya?  Dia memiliki pekerjaan yang sekalipun menyita waktunya tapi bukannya memberi dia kemapanan?</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Kamu bahagia kan menikah dengan dia, Re?” tanyaku. BAHAGIA. Aku hanya ingin dia bahagia. Sekalipun bukan aku yang membuatnya bahagia, bukan hal yang penting bagiku. Asalkan dia bahagia.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">“Biar jawaban itu hanya aku yang tahu ya, Ra!” wajahnya berubah lucu. Senyum. Nyengir. Tapi getir.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span><br />
<span style="color: #993300;">Aku tak berani lagi meminta jawaban dari pertanyaan yang memenuhi kepalaku tentang dia. Aku memuja Reza, dari dulu. Dia juga yang menjadi motivasiku untuk menikah. Aku ingin bahagia seperti dia dan perempuan yang sempurna pendampingnya itu. Aku menikahi lelaki yang mencintaiku. Aku memiliki segenggam keyakinan bahwa aku akan bahagia. Namun mungkin segenggam keyakinan masih kurang cukup. Butuh ramuan cinta, perhatian, kepercayaan, pengabdian, komitmen, yang harus di mix supaya menghasilkan perekat kebahagiaan. Uhm, mengapa dia tak bahagia dengan pernikahannya? </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Apakah dia merasakan yang kurasakan? Rasa patah dan rapuh di setiap pertengkaran yang serasa tak berujung. Apakah sikap mengalah bisa menjadi ujung dari sebuah pertengkaran bila kemudian terulang kembali? Air mata rasanya sudah tak lagi mampu mewakili rasa yang ada. Kadang justru tawa yang membungkus luka. Senyum yang terpaksa agar orang lain tak membaca luka yang menganga.</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;">Aaah, Reza … apakah itu juga yang kamu rasakan? Apakah pertemuan ini memiliki arti? Ataukah rencana surga telah tercipta untuk kita? Untuk apa? Bukankah kita tak mungkin lagi bisa bersama? Lalu rencana surga seperti apa yang dipercayakan bagi kita untuk dapat kita tuntaskan? Akankah kita bersama, Re ??? Entahlah …</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Re, aku ingin kamu bahagia,” kataku lirih setelah jeda yang terlalu lama.</span><br />
<span style="color: #993300;">Dia menatapku. Tangan kami bertaut. Mata elangnya menatap tajam dan terasa perih seperti menghunjam tepat di jantungku. Lama mata teduh itu beriak namun tak juga tergenang. Dia hanya menatapku dengan tatapan yang tak mampu kudefinisikan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ra, seandainya kebahagiaanku adalah bersama kamu, apakah kamu …”</span><br />
<span style="color: #993300;">Reza tak menuntaskan kalimatnya. Aku juga tak mampu menjawab. Lamat terdengar live music di stage menyanyikan lirih lagu baru milik Shanty. Untuk Siapa? Apakah aku untuk … apakah dia untuk … Uhm, aku tak berani meneruskan jawaban yang kuharapkan. Entahlah …</span><br />
<span style="color: #993300;"> </span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em>ada hati yang patah dan itu hatiku</em><em><br />
</em><em> rasanya nyawa ini tak ada karenamu</em><em><br />
</em><em> keinginan hatiku direpak mataku</em><em><br />
</em><em> sayangnya kau belum juga merasa</em><em><br />
</em><em> </em><em><br />
</em><em> reff:</em><em><br />
</em><em> kau pikir aku ada di sini untuk apa</em><em><br />
</em><em> kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa</em><em><br />
</em><em> sangat ingin ku katakan ini untukmu</em></span><br />
<span style="color: #993300;"><em>kau pengaruh terpenting di dalam hidupku</em><em><br />
</em><em> entah apa ku juga terpenting bagimu</em><em><br />
</em><em> oh keinginan hatiku, oh di depan mataku</em><em><br />
</em><em> sayangnya kau belum juga merasa</em></span><br />
<span style="color: #993300;"><em>untukmu, untukmu</em></span><br />
<span style="color: #993300;"><em>ini untukmu, untukmu, ooo ooo ooo</em></span><br />
<span style="color: #993300;"><em>kau pikir aku ada di sini untuk apa</em><em><br />
</em><em> kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa</em><em><br />
</em><em> </em><em>kau rasa kulakukan apapun untuk siapa</em><em><br />
</em><em> sangat ingin ku katakan ini untukmu</em><em><br />
</em><em> untukmu, untukmu, ini untukmu</em></span></p></blockquote>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-344" title="wish_upon_a_star_by_cryssielyn3" src="http://serpih.com/serpih/wp-content/uploads/2010/01/wish_upon_a_star_by_cryssielyn3.jpg" alt="wish_upon_a_star_by_cryssielyn3" width="349" height="207" /></p>
<p><span style="color: #993300;">Bisa dibaca juga di <a href="http://dayu.blogdetik.com/2009/06/02/sepenggal-malam-dari-ribuan-malam-yang-menjadi-malamku/">sini.</a><em><br />
</em></span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><em><br />
</em></span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serpih.com/sepenggal-malam-dari-ribuan-malam-yang-menjadi-malamku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

