Burj

by lusia on January 5, 2010

burjBerlomba menjadi yang “tertinggi” adalah kesan yang saya tangkap begitu mendengar, melihat dan membaca berita tentang dibangunnya sebuah menara yang super duper tinggi di Dubai.

BURJ DUBAI.

“Burj”dalam bahasa Arab berarti “Menara”. Gedung pencakar langit yang didesain dengan konstruksi canggih berstruktur seperti jarum, dibangun dari beton, baja dan kaca yang sangat kokoh, terdiri dari 160 lantai dilengkapi dengan 57 lift dengan kecepatan 60 km/jam.

Pemiliknya adalah perusahaan properti Emaar. Biaya pembangunannya mencapai 1,5 miliar dolar AS (itu duit semua atau sebagian daun ya???) Lama pembangunan hingga peresmian adalah 1.325 hari. Total luas bangunan Burj Dubai 526.760 meter persegi yang terdiri dari 171.870 meter persegi untuk apartemen hunian dan 27.870 untuk perkantoran. Biaya sewanya yang termurah Rp 50jeti per bulan dan 90%-nya sudah terjual.  Bangunan menara setinggi 818 meter ini terdiri atas ruang observasi di lantai tertinggi, kolam renang, lift, restoran, dan air terjun buatan. Ruang pengungsian dibangun di setiap 25 lantai (source : berbagai informasi)

Kalau hanya dengan melihat iklan perumahan elit di salah satu TV swasta yang harganya selangit, rumah-rumah ala mansion, yang harganya selalu naik setiap senin sehari setelah ditayangkan di TV *winkwink* dan tanpa memperhatikan itu daerah banjir atau tidak, saya cukup menikmati detail setiap ruangan rumah mewah yang ditawarkan.

Atau tak perlu jauh-jauh, dulu waktu saya masih tinggal di kost lama dan punya banyak waktu untuk jogging *sekarang masih banyak siy cuma kalah sama malas* saya sering menikmati rumah gedongan laksana kastil. Sambil dengan wajah mupeng, saya membayangkan kalau saya tinggal dirumah mewah itu seperti apa ya rasanya ?

Well, mimpi memiliki sesuatu yang lebih baik itu wajib hukumnya ^;^ dan membuat kita memiliki desire untuk mewujudkannya itu bagus, ya nggak … Tapi kembali ke Burj Dubai ini, ironisnya adalah Negara Dubai sendiri memiliki hutang miliaran. Dan ditelaah warga Dubai sendiri belum butuh hunian semewah dan semahal itu. Ditilik dari pengalaman sebelumnya, Dubai juga punya hunian mewah Hotel Atlantis tapi karena krisis jadinya berkembang tidak sesuai harapan.

atlantis_thepalm_mainTapi ketika manajemen Emaar ditanya mengapa tetap membangun Burj Dubai dengan pertimbangan kegagalan Hotel Atlantis, jawabannya sangat ringan : Kami hanya ingin meningkatkan kualitas hidup dan membuat banyak orang tertawa (source : Suara Merdeka).

Menurutku kalimat itu menjadi poin yang “menjual”. Adanya harapan untuk kehidupan yang lebih baik dan membuat banyak orang tersenyum. Yea. Tersenyum membayangkan tinggal di hunian mewah lantai teratas … *bayangin kalau jemur pakaian di luar kalau kabur gimana ya??? — hehehe emang rusun???*

Tapi ada orang bijak bilang, “Janganlah engkau ingin menjadi yang tertinggi supaya engkau tidak direndahkan. Hendaknya engkau rendah hati agar engkau ditinggikan.”

Nyambung nggak siy *garuk-garuk pala*


{ 2 comments… read them below or add one }

depz January 8, 2010 at 12:41 pm

jadi ingat kisah menara babel

ravimalekinth January 9, 2010 at 5:13 am

wah padahal saya penasaran banget tuh hotel bawah air nya.

Leave a Comment

Previous post: Kehilangan

Next post: Retak