Brux, Malam itu …

by lusia on February 13, 2010

bistroPerempuan itu duduk resah di hadapan sang lelaki. Senyumnya berusaha disunggingkan sewajar mungkin. Tapi aku bisa menangkap kegelisahan yang bergejolak dalam hatinya. Mungkin disebabkan sang lelaki, atau ada yang tengah mengganggu dalam benaknya.

Aku memperhatikan sambil lalu.

“Kamu menikmati malam ini, Sheil?” tanya sang lelaki. Perempuan yang dipanggil Sheil itu mengangguk dan menambah senyumnya sedikit lebih lebar.

Seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Menu yang sama seperti yang kupesan. Cinammon Latte. Brux malam ini tak begitu ramai. Tidak seperti biasanya di hari Jumat. Mungkin karena hujan. Mungkin karena sudah mulai banyak tempat-tempat asyik lain yang tersebar di kota Semarang.

Brux, bagiku bukan sekedar tempat makan atau nongkrong. Tapi juga sebagai tempat pelepas lelah hati saat aku ingin berdamai dimana tak ada cara lain yang berhasil menentramkan hatiku. Jadi disinilah aku disini malam ini, duduk disudut. My favourite spot. Tempat bertahun yang lalu kita pernah duduk bersama. Bergenggaman tangan sebelum waktu untuk kita usai. Lalu terpisah.

Aah, masih saja aku terjerat pada kenangan itu, sementara kamu sudah berlalu …

“Sheil, apa yang tidak dia lihat dari kamu?” tanya sang lelaki lagi.

Sheila mendongak. Tatapan mereka beradu. Senyumnya kembali mengembang. Aku melirik iseng. Uhm, Sheila memiliki senyum yang cukup manis. Pantas dari tadi disunggingkan terus senyumnya. Aku tak mau usil. Tapi aku tergelitik untuk mendengarkan percakapan mereka.

“Kamu cantik. Kamu baik. Kamu istri yang ideal. Kamu pintar. Apa yang tidak dia lihat dari kamu sehingga dia menelantarkan kamu. Dia telah mengabaikan kamu, istrinya. Dan kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu.”

Aku menduga Sheila akan membalas dengan senyum. Ah, dari tadi tak kudengar suaranya. Kupikir dia tak bisa bicara. Hanya bisa tersenyum. Ngerti bahasa manusia nggak siy? Aku tertawa sendiri. Ralat. Lebih tepatnya menertawakan diri sendiri. Aku tak pernah seiseng ini mendengarkan pembicaraan orang. Tapi tak ada sesuatu yang bisa kulakukan kecuali memutar-mutar cangkir cinnamon latte dalam genggamanku. Di hadapan laptop yang terbentang tanpa satu huruf pun pada layar.

“Aku juga tidak tahu, Mas,” jawab Sheila.

Ouw. Bisa bicara pula dia, sanggahku dalam hati.

“Aku mencintai dia. Aku memenuhi segala yang dia butuhkan. Mobil, rumah seisinya, handphone. Supaya kami bisa hidup layak. Kamu tahu kan Mas, penghasilanku lebih tinggi. Tapi bukannya aku tidak menghargai dia. Tapi dimana tanggung jawabnya? Kok malah dia enak-enakan saja. Tak berusaha mengambil alih peran yang selama ini aku jalani. Dia kan kepala rumah tangga.”

Aku memperhatikan Sheila bicara dan dengan tiba-tiba sang lelaki mendongakkan kepala sehingga tatapan kami bertubrukan. Ah. Aku segera mengalihkan pandanganku tanpa kentara.

Apa siy hubungan mereka ini? Pacaran, tentu bukan. Sahabat, kok sehangat itu ya. Sepertinya Sheila sedang curhat suaminya pada sang lelaki.

“Mungkin aku telah salah melangkah, Mas. Seharusnya bukan dengan cara ini aku mencintai dia, Mas. Aku rapuh. Aku tidak lagi bisa mengingat hal-hal baik tentangnya. Aku ingin meninggalkan dia. Tapi aku masih mencintainya. Aku hanya lelah dengan pengorbananku.”

Sang lelaki terdiam. Aku merasa dia mengalihkan perhatian berselang antara ke aku dan Sheila. Aku tak tertarik lagi dengan percakapan dua manusia itu.

Tiba-tiba, sebuah pesan singkat menggetarkan ponselku.

Pulang. Jangan terlalu malam.

Aku membalas pesannya dengan jawaban icon grin.

Jangan cuma nyengir. Ayo pulang sana.

Galak amat. Jemput ya. Kagak ada taksi neh. Jawabku.

Iiih. Lagian sendirian. Ajak teman ngapa.

I’m dying hard. Ngapain ajak-ajak teman.

Bawel.

Emang.

Pulang sana. Gak baik anak perempuan pergi sendirian malam malam.

Cinnamon Latte nya belum habis.

Mau sampe nunggu di usir yang punya.

Sepertinya begitu. Nunggu kamu jemput.

Jemput jemput. 8 jam tauuuuuu … belum apa apa dah pegel. Nanti. Sabar. Besok. Cari waktu yang tepat.

Hun, i love you.

Udah pulang sana.

Iya, aku pulang.

Go home. Take a rest. Clear your mind.

Aku meringkasi laptopku. Tak hendak membalas sms nya.

Clear your mind.

Clear my mind ? Seenaknya saja kamu bicara. Aku mencintaimu. Bisakah kamu memahami hatiku yang membutuhkan kamu. Sekedar chat tak penting dengan sapa hai dan semacamnya. Aku rindu kehangatan kamu. Aku rindu menjadi seseorang yang dicinta.

Clear my mind about you? How can I do it ???

Kamu pernah begitu meraja. Lalu kamu pergi untuk mengejar mimpi kamu. Mimpi yang tak ada aku. Setengah mati aku mematikan harapanku untuk bersama kamu. Lalu aku bisa. Bukan mengusir kamu dalam hidupku. Hanya berusaha tak menghadirkan kamu. Karena itu menorehkan luka hati yang tak juga sembuh. Aku pernah berusaha melawan. Tapi hatiku makin renta dan tak kuasa menahan luka. Jadi aku berdamai dengan hatiku. Mengijinkan kamu tinggal selama kamu mau dalam hatiku.

Sang Lelaki dan Sheila, perempuan itu, masih duduk di sudut. Aku tak tahu ujung percakapan mereka. Tak menarik lagi. Aku menjinjing laptopku dengan langkah gontai. Pulang. Menuju rumah yang tak lagi bernyawa, sejak kepergianmu.

Dan membiarkan anganku melayang membayangkan kamu, bersanding berdua merujuk malam, bersama dia yang berhak memiliki kamu.

Di Brux, malam itu …

cin tea

{ 1 comment… read it below or add one }

jilena February 21, 2010 at 1:36 pm

uhhh…
aku mau ke brux juga ahhhh…

Leave a Comment

Previous post: Sengat Aku, Lebah Kecilku

Next post: Racun Otak